Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) Indonesia
Persyaratan industri farmasi tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 245//Menkes/SK/V/1990 yaitu sebagai berikut :
1. Industri farmasi merupakan suatu perusahaan umum, badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi
2. Memiliki rencana investasi
3. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
4. Industri farmasi obat jadi dan bahan baku wajib memenuhi persyaratan CPOB sesuai dengan ketentuan SK Menteri Kesehatan No.43/Menkes/SK/II/1988
5. Industri farmasi obat jadi dan bahan baku, wajib mempekerjakan secaratetap sekurang-kurangnya dua orang apoteker warga Negara Indonesia,masing-masing sebagai penanggung jawab produksi dan penanggungjawab pengawasan mutu sesuai dengan persyaratan CPOB
6. Obat jadi yang diproduksi oleh industri farmasi hanya dapat diedarkansetelah memperoleh izin edar sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku
Salah satu persyaratan di atas menyebutkan bahwa industri farmasi obat jadi dan bahan baku wajib memenuhi persyaratan CPOB sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan RI No. 43/Menkes/SK/II/1988. Oleh sebab itu, CPOB merupakan pedoman yang penting bagi industri farmasi.
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) adalah cara pembuatan obat yang bertujuan untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan dan tujuan penggunaan. CPOB bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. CPOB dibuat untuk meminimalkan risiko pada produk farmasi antara lain: kontaminasi, gangguan kesehatan bahkan kematian; label yang tidak benar; bahan aktif yang terlalu sedikit atau terlalu banyak, berakibat pengobatan tidak efektif atau menimbulkan efek samping. Prosedur tertulis dari setiap proses produksi merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi kualitas akhir produk.
CPOB bersifat dinamis yang memerlukan penyesuaian dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan teknologi di bidang farmasi. Dalam kurun waktu antara penerapan CPOB yang pertama hingga CPOB ketiga tentunya terdapat banyak perubahan-perubahan yang harus dihadapi industri farmasi. CPOB yang baru merupakan hasil dari penyempurnaan dari CPOB yang sebelumnya. Aspek-aspek yang merupakan cakupan CPOB tahun 2012 meliputi 12 bab dan 14 aneks. Di bawah ini merupakan 12 bab pada CPOB tahun 2012, antara lain :
1. Manajemen Mutu
2. Personalia
3. Bangunan dan Fasilitas
4. Peralatan
5. Sanitasi dan Higiene
6. Produksi
7. Pengawasan Mutu
8. Inspeksi Diri, Audit Mutu dan Audit & Persetujuan Pemasok
9. Penanganan Keluhan Terhadap Produk dan Penarikan Kembali Produk
10. Dokumentasi
11. Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak
12. Kualifikasi dan Validasi
Sedangkan 14 aneks yang ada pada CPOB tahun 2012 antara lain :
1. Pembuatan Produk Steril
2. Pembuatan Obat Produk Biologi
3. Pembuatan Gas Medisinal
4. Pembuatan Inhalasi Dosis Terukur Bertekanan (Aerosol)
5. Pembuatan Produk dari Darah atau Plasma Manusia
6. Pembuatan Obat Investigasi untuk Uji Klinis
7. Sistem Komputerisasi
8. Cara Pembuatan Bahan Baku Aktif Obat yang Baik
9. Pembuatan Radiofarmaka
10. Penggunaan Radiasi Pengion dalam Pembuatan Obat
11. Sampel Pembanding dan Sampel Pertinggal
12. Cara Penyimpanan dan Pengiriman Obat yang Baik
13. Pelulusan Parametris
14. Manajemen Risiko Mutu
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam CPOB meliputi personalia yang terlibat dalam industri farmasi, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri, penanganan keluhan obat dan obat kembalian, penarikan kembali obat, dan dokumentasi. Ketentuan-ketentuan ini menjamin proses produksi obat yang berkualitas, bermutu, aman, dan dapat dipertanggung jawabkan.
Aspek yang dijelaskan pada CPOB 2012 secara rinci dapat dilihat sebagai berikut.
1. Manajemen Mutu
Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan resiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Manajemen mutu bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu “Kebijakan Mutu” yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari semua jajaran di semua departemen di dalam perusahaan, para pemasok, dan para distributor. Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan, diperlukan manajemen mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar. Unsur dasar manajemen mutu antara lain :
1. Suatu infrastruktur atau sistem mutu yang tepat mencakup struktur organisasi, prosedur, proses, dan sumber daya.
2. Tindakan sistematis diperlukan untuk mendapatkan kepastian dengan tingkat kepercayaan tinggi sehingga produk atau jasa pelayanan yang dihasilkan akan selalu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
Dalam manajemen mutu, pemastian mutu merupakan hal yang penting. Pemastian mutu adalah suatu konsep luas yang mencakup semua hal baik secara tersendiri maupun secara kolektif, yang akan memengaruhi mutu dari obat yang dihasilkan. Pemastian mutu merupakan totalitas semua pengaturan yang dibuat dengan tujuan untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya. CPOB adalah bagian dari pemastian mutu yang memastikan bahwa obat dibuat dan dikendalikan secara konsisten untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaannya dan persyaratan dalam izin edar serta spesifikasi produk.
Pengkajian mutu produk secara berkala hendaklah dilakukan terhadap semua obat terdaftar, termasuk produk ekspor, dengan tujuan untuk membuktikan konsistensi proses, kesesuaian dari spesifikasi bahan awal, bahan pengemas dan produk jadi, untuk melihat tren dan mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan untuk produk dan proses. Manajemen risiko mutu juga perlu untuk dilakukan. Manajemen risiko mutu adalah suatu proses sistematis untuk melakukan penilaian, pengendalian dan pengkajian risiko terhadap mutu suatu produk.
2. Personalia
Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar. Oleh sebab itu industri farmasi bertanggung jawab untuk menyediakan personil yang terkualifikasi dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan semua tugas. Tiap personil hendaklah memahami tanggung jawab masing-masing, memahami prinsip CPOB serta memperoleh pelatihan awal dan berkesinambungan, termasuk instruksi mengenai higiene yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Tiap personil hendaklah tidak dibebani tanggung jawab yang berlebihan untuk menghindarkan risiko terhadap mutu obat. Industri farmasi harus memiliki struktur organisasi. Tugas spesifik dan kewenangan dari personil pada posisi penanggung jawab hendaklah dicantum-kan dalam uraian tugas tertulis. Tugas mereka boleh didelegasikan kepada wakil yang ditunjuk serta mempunyai tingkat kualifikasi yang memadai. Hendaklah aspek penerapan CPOB tidak ada yang terlewatkan ataupun tumpang tindih dalam tanggung jawab yang tercantum pada uraian tugas.
Peraturan Pemerintah RI No. 51 tahun 2009 menyebutkan bahwa industri farmasi harus memiliki 3 (tiga) orang apoteker sebagai penanggung jawab masing-masing pada bidang pemastian mutu, produksi, dan pengawasan mutu setiap produksi sediaan farmasi. Semua personil harus memahami prinsip CPOB dan memiliki sikap dan kesadaran tinggi untuk mewujudkan CPOB agar produk yang dihasilkan bermutu. Selain itu, personil hendaklah memiliki kesehatan mental dan fisik yang baik sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara profesional sebagaimana mestinya. Tugas dan kewenangan dari tiap personil tersebut hendaknya tercantum dalam uraian tertulis. Tugas masing-masing personil tersebut boleh diwakilkan kepada seseorang yang memiliki tingkat kualifikasi yang memadai.
3. Bangunan dan Fasilitas
Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain, konstruksi, letak yang memadai dan kondisi yang sesuai serta perawatan yang dilakukan dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil terjadinya resiko kekeliruan, pencemaran silang dan kesalahan lain serta memudahkan pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindari pencemaran silang, penumpukan debu atau kotoran dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu obat.
Area penyimpanan hendaklah memiliki kapasitas yang memadai untuk menyimpan dengan rapi dan teratur berbagai macam bahan dan produk serta didesain atau disesuaikan untuk menjamin kondisi penyimpanan yang baik; terutama area tersebut hendaklah bersih, kering, dan mendapat penerangan yang cukup serta dipelihara dalam batas suhu yang ditetapkan.
Laboratorium pengawasan mutu hendaklah terpisah dari area produksi. Area pengujian biologi, mikrobiologi dan radioisotop hendaklah dipisahkan satu dengan yang lain. Laboratorium pengawasan mutu hendaklah didesain sesuai dengan kegiatan yang dilakukan. Luas ruang hendaklah memadai untuk mencegah pencampurbauran dan pencemaran silang. Tingkat kebersihan ruang/area untuk pembuatan obat hendaklah diklasifikasikan sesuai dengan jumlah maksimum partikulat udara yang diperbolehkan untuk tiap kelas kebersihan sesuai tabel di bawah ini:
Catatan:
Kelas A, B, C dan D adalah kelas kebersihan ruang untuk pembuatan produk steril.
Kelas E adalah kelas kebersihan ruang untuk pembuatan produk nonsteril.
Bangunan suatu industri farmasi bagian dalam misalnya ruangan seperti dinding, lantai dan langit-langit hendaklah licin, bebas dari keretakan dan sambungan terbuka serta mudah dibersihkan dan bila perlu mudah didesinfeksi. Lantai di daerah pengolahan hendaklah dibuat dari bahan kedap air, permukaan yang rata dan memungkinkan pembersihan secara cepat dan efisien. Dinding juga hendaklah kedap air dan memiliki permukaan yang mudah dicuci. Sudut-sudut antara dinding, lantai dan langit-langit dalam daerah-daerah kritis hendaklah berbentuk lengkungan.
4. Peralatan
Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan tepat, agar mutu obat terjamin sesuai desain serta seragam dari bets-ke-bets dan untuk memudahkan pembersihan serta perawatan agar dapat mencegah kontaminasi silang, penumpukan debu atau kotoran dan, hal-hal yang umumnya berdampak buruk pada mutu produk.
CPOB bagian peralatan ini, mencakup desain dan konstruksi, pemasangan dan penempatan, serta perawatan. Peralatan manufaktur hendaklah didesain, ditempatkan dan dirawat sesuai dengan tujuannya. Peralatan hendaklah dipasang sedemikian rupa untuk mencegah risiko kesalahan atau kontaminasi dan dirawat sesuai jadwal untuk mencegah malfungsi atau pencemaran yang dapat memengaruhi identitas, mutu atau kemurnian produk.
5. Sanitasi dan Higienis
Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personil, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, bahan pembersih dan desinfeksi, dan segala sesuatu yang dapat merupakan sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran potensial hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu.
Sanitasi dan higienis yang diatur dalam pedoman CPOB yaitu higiene perorangan, sanitasi bangunan dan fasilitas, pembersihan dan sanitasi peralatan. Prosedur pembersihan dan sanitasi divalidasi serta dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas prosedur agar selalu memenuhi persyaratan.
6. Produksi
Produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar. Prinsip utama produksi yaitu adanya keseragaman atau homogenitas produk dari bets ke bets serta proses produksi dan pengemasan senantiasa menghasilkan produk yang seidentik mungkin (dalam batas syarat mutu) baik bagi bets yang sudah diproduksi maupun yang akan diproduksi. Sedangkan hakekat produksi adalah sebagai berikut:
1. Mutu produk obat tidak ditentukan oleh hasil akhir analisis saja, tetapi ditentukan oleh keseluruhan proses produksi (built in process)
2. Adanya prosedur baku (standar) untuk setiap langkah (tahapan) proses produksi dengan persyaratan yang harus diikuti dengan konsisten
Ruangan steril, ruangan penyangga, ruangan ganti pakaian steril dan ruangan ganti pakaian biasa atau ruangan produksi lain hendaklah memiliki perbedaaan tekanan udara 10-15 Pa. Tekanan udara dalam ruangan yang memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap suatu produk hendaklah selalu lebih tinggi dari pada ruangan lain.
Prosedur produksi dibuat oleh penanggung jawab produksi bersama dengan penanggung jawab pengawasan mutu yang dapat menjamin obat yang dihasilkan memenuhi spesifikasi yang ditentukan. Prosedur kerja standar hendaklah tertulis, mudah dipahami dan dipatuhi oleh karyawan produksi. Dokumentasi setiap langkah dilakukan dengan cermat, tepat dan ditangani oleh karyawan yang melaksanakan tugas.
7. Pengawasan Mutu
Pengawasan mutu merupakan bagian yang esensial dari CPOB untuk memberikan kepastian bahwa produk secara konsisten mempunyai mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Keterlibatan dan komitmen semua pihak yang berkepentingan pada semua tahap merupakan keharusan untuk mencapai sasaran mutu mulai dari awal pembuatan sampai kepada distribusi produk jadi. Pengawasan mutu mencakup pengambilan sampel, spesifikasi, pengujian serta termasuk pengaturan, dokumentasi dan prosedur pelulusan yang memastikan bahwa semua pengujian yang relevan telah dilakukan, dan bahan tidak diluluskan untuk dipakai atau produk diluluskan untuk dijual, sampai mutunya telah dibuktikan memenuhi persyaratan.
Bagian pengawasan mutu dalam suatu pabrik obat bertanggung jawab untuk memastikan bahwa:
1. Bahan awal untuk produksi obat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan untuk identitas, kekuatan, kemurnian, kualitas, dan keamanannya
2. Tahapan produksi obat telah dilaksanakan sesuai prosedur yang ditetapkan dan telah divalidasi sebelumnya antara lain melalui evaluasi, dokumentasi, dan produksi
3. Semua pengawasan selama proses dan pemeriksaan laboratorium terhadap suatu bets obat telah dilaksanakan dan bets tersebut memenuhi spesifikasi yang ditetapkan sebelum didistribusikan
4. Suatu bets obat memenuhi persyaratan mutunya selama waktu peredaran yang ditetapkan
Area laboratorium pengujian mutu hendaklah terpisah secara fisik dari ruang produksi agar terbebas dari sumber cemaran maupun getaran yang dapat berpengaruh terhadap hasil pengujian. Laboratorium fisiko-kimia, mikrobiologi, dan kimia hendaklah terpisah satu sama lain karena perbedaan jenis pengujian, peralatan dan bahan-bahan penguji yang terdapat di setiap laboratorium. Kegiatan bagian pengawasan mutu yang dipersyaratkan dalam CPOB adalah sebagai berikut:
1. Penanganan baku pembanding
2. Penyusunan spesifikasi dan prosedur pengujian
3. Penanganan contoh pertinggal
4. Validasi
5. Pengawasan terhadap bahan awal, produk antara, produk ruahan, dan obat jadi meliputi spesifikasi, pengambilan contoh, pengujian untuk bahan-bahan tersebut, serta in process control
6. Pengujian ulang bahan yang diluluskan
7. Pengujian stabilitas
8. Penilaian terhadap supplier
9. Penanganan terhadap keluhan produk dan produk kembalian
8. Inspeksi Diri, Audit Mutu Dan Audit & Persetujuan Pemasok
Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek produksi dan pengawasan mutu industri farmasi memenuhi ketentuan CPOB. Program inspeksi diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan yang diperlukan. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara independen dan rinci oleh petugas yang kompeten dari perusahaan yang dapat mengevaluasi penerapan CPOB secara obyektif. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara rutin dan, di samping itu, pada situasi khusus, misalnya dalam hal terjadi penarikan kembali obat jadi atau terjadi penolakan yang berulang. Semua saran untuk tindakan perbaikan supaya dilaksanakan. Inspeksi diri dapat dilaksanakan per bagian sesuai dengan kebutuhan perusahaan, namun inspeksi diri yang menyeluruh hendaklah dilaksanakan minimal 1 (satu) kali dalam setahun. Prosedur dan catatan inspeksi diri hendaklah didokumentasikan dan dibuat program tindak lanjut yang efektif.
Penyelenggaraan audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi diri. Audit mutu meliputi pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari sistem manajemen mutu dengan tujuan spesifik untuk meningkatkannya. Audit mutu umumnya dilaksanakan oleh spesialis dari luar atau independen atau suatu tim yang dibentuk khusus untuk hal ini oleh manajemen perusahaan. Audit mutu juga dapat diperluas terhadap pemasok dan penerima kontrak.
Persetujuan pemasok hendaknya dibuat untuk dapat diandalkan memasok bahan awal dan bahan pengemas yang memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan dan dibuat daftar pemasok yang disetujui untuk bahan awal dan bahan pengemas. Selain itu, hendaklah dilakukan evaluasi sebelum pemasok disetujui dan dimasukkan ke dalam daftar pemasok atau spesifikasi. Evaluasi diharapkan mempertimbangkan riwayat pemasok dan sifat bahan yang dipasok. Semua pemasok yang telah ditetapkan hendaklah dievaluasi secara teratur.
9. Penanganan Keluhan Terhadap Produk Dan Penarikan Kembali Produk
Personil yang bertanggung jawab hendaklah ditunujk untuk menangani keluhan dan memutuskan tindakan yang hendak dilakukan bersama staf yang memadai untuk membantunya. Hendaklah tersedia prosedur tertulis yang merinci penyelidikan, evaluasi, tindak lanjut yang sesuai, termasuk pertimbangan untuk penarikan kembali produk, dalam menanggapi keluhan terhadap obat yang diduga cacat. Tiap keluhan yang menyangkut kerusakan produk hendaklah dicatat. Jika produk pada suatu bets ditemukan atau diduga cacat, maka hendaklah dipertimbangkan untuk memeriksa bets lain. Setelah melakukan penyelidikan dan evaluasi terhadap laporan dan keluhan mengenai suatu produk hendaklah dilakukan tindak lanjut. Tindak lanjut ini mencakup:
- tindakan perbaikan bila diperlukan;
- penarikan kembali satu bets atau seluruh produk akhir yang bersang-kutan; dan
- tindakan lain yang tepat.
Badan POM hendaklah diberitahukan apabila industri farmasi mempertimbangkan tindakan yang terkait dengan kemungkinan kesalahan pembuatan, kerusakan produk, pemalsuan atau segala hal lain yang serius mengenai mutu produk.Semua keluhan dan informasi lain yang berkaitan dengan kemungkinan terjadi kerusakan obat harus dikaji dengan teliti sesuai dengan prosedur tertulis.
Penanganan semua kasus yang mendesak, hendaklah disusun suatu sistem, bila perlu mencakup penarikan kembali produk yang diketahui atau diduga cacat dari peredaran secara cepat dan efektif. Tindakan penarikan kembali produk hendaklah dilakukan segera setelah diketahui ada produk yang cacat mutu atau diterima laporan mengenai reaksi yang merugikan. Pedoman dan prosedur penarikan kembali terhadap produk hendaklah dibuat untuk memungkinkan embargo dan penarikan kembali dapat dilakukan dengan cepat dan efektif dari seluruh mata rantai distribusi.
Penarikan kembali obat jadi dapat berupa penarikan kembali satu atau beberapa bets atau seluruh obat jadi tertentu dari semua mata rantai distribusi. Penarikan kembali dilakukan apabila ditemukan produk yang tidak memenuhi persyaratan mutu atau atas dasar pertimbangan adanya efek samping yang tidak diperhitungkan yang merugikan kesehatan.
Obat kembalian adalah obat jadi yang telah beredar yang kemudian dikembalikan ke pabrik karena adanya keluhan, mengenai kerusakan, kadaluarsa, masalah keabsahan atau sebab lain mengenai kondisi obat, wadah atau kemasan sehingga menimbulkan keraguan akan keamanan, identitas, mutu dan jumlah obat yang bersangkutan.
10. Dokumentasi
Dokumentasi pembuatan obat merupakan bagian dari sistem informasi manajemen yang meliputi spesifikasi, prosedur, metode dan instruksi, perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, serta evaluasi seluruh rangkaian kegiatan pembuatan obat. Dokumentasi adalah bagian dari sistem informasi manajemen dan dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari pemastian mutu. Dokumentasi yang jelas adalah fundamental untuk memastikan bahwa tiap personil menerima uraian tugas yang relevan secara jelas dan rinci sehingga memperkecil risiko terjadi salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul karena hanya mengandalkan komunikasi lisan.
Dokumen hendaklah didesain, disiapkan, dikaji dan didistribusikan dengan cermat. Dokumen hendaklah disetujui, ditandatangani dan diberi tanggal oleh personil yang sesuai dan diberi wewenang. Isi dokumen hendaklah tidak bermakna ganda; judul, sifat dan tujuannya hendaklah dinyatakan dengan jelas. Selain itu, dokumen hendaklah dikaji ulang secara berkala dan dijaga agar selalu mutakhir.
11. Pembuatan dan Analisis berdasarkan Kontrak
Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar, disetujui dan dikendalikan untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat menyebabkan produk atau pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan. Kontrak tertulis antara pemberi dengan penerima kontrak harus dibuat secara jelas untuk menentukan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing pihak. Kontrak harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap bets produk untuk diedarkan yang menjadi tanggung jawab penuh kepala bagian manajemen mutu (pemastian mutu).
Pemberi kontrak hendaklah menyediakan semua informasi yang diperlukan kepada penerima kontrak untuk melaksanakan pekerjaan kontrak secara benar sesuai izin edar dan persyaratan legal lain. Sedangkan penerima kontrak hendaklah memastikan bahwa semua produk dan bahan yang diterima sesuai dengan tujuan penggunaannya.
12. Kualifikasi dan Validasi
CPOB mengisyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang diperlukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, peralatan dan proses yang dapat mempengaruhi mutu produk hendaklah divalidasi. Pendekatan dengan kajian resiko hendaklah digunakan untuk menentukan ruang lingkup dan cakupan validasi.
Seluruh kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama program validasi hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan dalam Rencana Induk Validasi (RIV) atau dokumen setara. RIV merupakan dokumen yang singkat, tepat dan jelas serta mencakup sekurang-kurangnya kebijakan validasi, struktur organisasi kegiatan validasi, ringkasan fasilitas, sistem, peralatan, proses yang akan divalidasi, format dokumen, format protokol, laporan validasi, perencanaan dan jadwal pelaksanaan, pengendalian perubahan, serta acuan dokumen yang digunakan. RIV dapat dibuat tersendiri untuk suatu proyek besar dan/atau kompleks, misalnya bangunan dan fasilitas baru, sistem HVAC, sistem pengolahan air dan sistem komputerisasi, fasilitas betalaktam, fasilitas steril, validasi metode analisis, validasi pembersihan atau digabungkan ke dalam satu dokumen RIV.
Kualifikasi dibedakan atas :
1. Kualifikasi Desain
Kualifikasi desain adalah unsur pertama dalam melakukan validasi terhadap fasilitas, sistem atau peralatan baru
2. Kualifikasi Instalasi
Kualifikasi instalasi dilakukan terhadap fasilitas, sistem dan peralatan baru atau yang dimodifikasi
3. Kualifikasi Operasional
Kualifikasi operasional dilakukan setelah kualifikasi instalasi selesai dilaksanakan, dikaji dan disetujui
4. Kualifikasi Kinerja
Kualifikasi kinerja dilakukan setelah kualifikasi instalasi dan kualifikasi operasional dilaksanakan, dikaji, dan disetujui
5. Kualifikasi Fasilitas, Peralatan, dan Sistem Terpasang yang telah Operasional.
Hendaklah tersedia bukti untuk mendukung dan memverifikasi parameter operasional dan batas variabel kritis pengoperasian alat. Selain itu, kalibrasi, prosedur pengoperasian, pembersihan, perawatan preventif serta prosedur dan catatan pelatihan operator hendaklah didokumentasikan.
Pada umumnya validasi proses dilakukan sebelum produk dipasarkan (validasi prospektif). Dalam keadaan tertentu, jika hal di atas tidak memungkinkan, validasi dapat juga dilakukan selama proses produksi rutin dilakukan (validasi konkuren). Selain itu, proses yang sudah berjalan hendaklah juga divalidasi (validasi retrospektif).
Validasi pembersihan dilakukan untuk konfirmasi efektivitas prosedur pembersihan. Penentuan batas kandungan residu suatu produk, bahan pembersih dan pencemaran mikroba, secara rasional hendaklah didasarkan pada bahan yang terkait dengan proses pembersihan. Batas tersebut hendaklah dapat dicapai dan diverifikasi. Pada validasi ulang, fasilitas, sistem, peralatan dan proses termasuk proses pembersihan hendaklah dievaluasi secara berkala untuk konfirmasi keabsahannya. Jika tidak ada perubahan yang signifikan terhadap status validasi, peninjauan dengan bukti bahwa fasilitas, sistem, peralatan dan proses memenuhi persyaratan yang ditetapkan akan kebutuhan revalidasi. Metode analisis juga perlu dilakukan validasi. Tujuan validasi metode analisis adalah untuk menunjukkan bahwa metode analisis sesuai tujuan penggunaannya. Perlu dipertimbangkan tabel mengenai karakteristik yang berlaku untuk identifikasi, pengujian terhadap impuritas dan prosedur penetapan kadar.
Sumber : CPOB
Yeni Nur Cahyani S.Farm., Apt, Universitas Jember, Universitas Padjadjaran, Quality Control Supervisor of PT Sanbe Farma Unit 2, Bandung
Sabtu, 10 Desember 2016
Penjelasan rambut, shampo dan formulasinya
KONDISI FISIOLOGIS ATAU PATOGIS
1. Kerusakan rambut
Serat rambut berisi sebuah korteks pusat yang sebagian besar merupakan serat, dikelilingi 8-10 lapisan sel yang tumpang tindih dan disebut kutikula. Korteks bertanggung jawab atas kekuatan rambut sedangkan daerah kutikula mempengaruhi hair feel, kilau, dan kemampuan untuk disisir.
Fungsi utama dari pengkondisian yaitu untuk memproteksi bagian struktural rambut, khususnya kutikula dari kerusakan. Kerusakan ini ditandai oleh menipisnya rambut, pecah-pecah, dan lepasnya sel kutikula. Hal tersebut merupakan tanda yang kebanyakan ditemukan pada permukaan rambut yang rusak.
Sebuah contoh yang sedikit ekstrim dari kerusakan saat menyisir dapat dilihat pada gambar 1 yang menunjukkan hasil dari sebuah percobaan pada sebuah rambut yang dicuci dengan sampo kemudian disisir 700 kali ketika masih basah. Rambut pada keadaan basah akan lebih rapuh. Menyisir pada kondisi ini akan menghasilkan kerusakan yang besar. Hal ini dapat dilihat dari luasnya kutikula yang rusak dan banyak sel yang terangkat dari permukaan. Pada bagian-bagian tertentu juga terlihat beberapa sel benar-benar robek.
Kemampuan agen pengkondisian untuk memproteksi rambut dari berbagai kerusakan yang dapat dilihat pada gambar 2. Pada gambar 2 menunjukkan hasil dari percobaan menyisir rambut sebanyak 700 kali pada keadaan basah setelah dicuci dengan sampo bersama pengkondisian. Pada kondisi ini agen pengkondisian pada sampo mengurangi kerusakan yang disebabkan olen penyisiran. Pada permukaan rambut dapat dilihat sedikit menipis dan sedikit terpecah.
a. Kerusakan rambut dan permukaan kutikula
Kerentanan serat rambut terhadap kerusakan membutuhkan jenis pengkondisian yang efektif untuk mencegahnya. Oleh karena itu kita perlu mengetahui tentang agen pengkondisian yang dibutuhkan pada permukaan rambut dan bagaimana pengaruhnya.
Virgin hair adalah rambut yang tidak mendapatkan perawatan dengan bahan kimia tertentu. Permukaan kutikula dari virgin hair pada kondisi yang baik adalah hidrofobik. Rambut juga memiliki struktur protein dan berisi muatan negatif hidrofilik. Campuran dari sifat hidrofilik dan hidrofobik akan membutuhkan jenis agen pengkondisian yang dapat berikatan dengan rambut.
Muatan negatif pada virgin hair meningkat dari akar ke ujung. Hal ini merupakan hasil dari oksidasi sistin pada rambut menjadi sistin-S-sulfonat dan asam sisteat karena terpapar radiasi sinar UV matahari. Bagian ujung rambut akan lebih tua dari bagian akar.
Selain karena sinar UV, proses menyisir dengan keras juga mampu memberikan kerusakan pada rambut. Gaya yang dihasilkan dari proses menyisir akan meningkat dari akar ke ujung. Oleh karena itu bagian ujung rambut yang lebih tua akan mengalami kerusakan lebih besar. Hal ini akan menyebabkan kerusakan ikatan kovalen lapisan lipid dan memberikan rasa kering di ujung rambut. Oleh karena itu bagian ujung rambut memerlukan lebih pengkondisian. Tanpa pengkondisian yang memadai, lapisan kutikula akan hilang dan patah.
b. Perawatan kimiawi permukaan rambut
Perawatan kimiawi, perming, bleaching, dan pengecatan permanen dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan pada serat rambut. Selain itu dapat juga menyebabkan kerusakan pada kekuatan rambut itu sendiri. Semua perawatan rambut meliputi tahap oksidasi, memodifikasi permukaan rambut, mengenalkan muatan negatif yang hasilnya berupa oksidasi sistin menjadi asam sisteat. Hal ini dapat merubah permukaan serat rambut dari hidrofobik menjadi hidrofilik.
Semua perawatan juga dapat meningkatkan perubahan permukaan yang menjadikan gaya gesek ketika menyisir lebih besar. Hasilnya adalah rambut terasa kasar dan kering. Oleh karena itu perawatan rambut secara umum membutuhkan lebih daripada virgin hair.
2. Pembersihan rambut
Rambut dapat menjadi kotor, antara lain dikarenakan proses bawaan kulit kepala, berkeringat, sekresi sebum, pengendapan zat asing yang timbul baik dari pencemaran lingkungan (debu dan kontaminan udara lainnya) maupun dari sisaproduk penataanrambuts epertiminyak, wax maupun spray rambut. Penghilangan sebum merupakan kunci utama dalam proses pembersihan rambut.
Kelenjar sebaceous yang melekat pada masing-masing folikel rambut menyediakan pasokan sebum ke permukaan rambut. Ekskresi sebum dipengaruhi oleh hormonal dan mencapai keadaan maksimal pada saat puberitas. Pembersihan yang memuaskan hanya dapat dicapai dengan menggunakan larutan berair dari deterjen. Dalam arti luas, semua bahan yang digunakan dalam pembersihan adalah air dan pelarutlainnya, sabun dansurfaktan sintetik, garam dan abrasive dapat dianggap sebagai deterjen. Namun istilah 'deterjen' terbatas pada akitvagen permukaan yang ditambahkan untuk menurunkan tegangan permukaan sehingga efektif dalam membersihkan kotoran.
Senyawa yang mampu menurunkan tegangan permukaan tersebut tersusun atas kelompo khidrofilik dan hidrofobik yang berfungsi sebagai agen pengemulsi. Pada intinya pembersihan kotoran dari rambut sama dengan proses pencucian kain. Tidak ada informasi yang tepat saat ini tersedia untuk mekanisme yang dominan dalam pembersihan rambut. Dalam banyak hal, sebagian besar produk shampoo diformulas ikan untuk bekerja pada kondisi yang beragam dari aksi deterjen, sehingga menjamin keberhasilan pembersihan mereka.
SHAMPO
Pembersihan rambut jelas merupakan unsur dominan kebersihan pribadi dan ketika diperkuat oleh aspek penampilan menarik makadapat menjadikan stimulus yang kuat dan sangat berharga. Keramas telah menjadi faktor utama dalam menjaga estetika rambut. Shampo memiliki fungsi umum untuk membersihkan rambut minyak berlebih, keringat, maupun sisa produk penata rambut seperti gel dan spray rambut. Proses pembersihan rambut dapat dilakukan rentang waktu beberapa menit dan menjadikan rambut bersih dan bebas dari kusut dan diharapkan dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan ketika muncul banyakbusadanrambut terlihat terwat setelah dibersihkan dan aromanya menyegarkan.
a. Komponen Shampoo
Bahan Shampoo
Shampoo terdiri dari larutan, emulsi, atau dispersi dari satu atau lebih surfaktan dengan beberapa bahan tambahan untuk meningkatkan kinerja dan estetika produk. Komposisi formula sampo terdiri dari bahan utama dan bahan tambahan. Bahan utama terdiri dari surfactant dan co- surfactant sebagai agen surface-active. Bahan tambahan terdiri dari sumber nutrisi, penstabil pH, thickening agent sebagai agen pengontrol viskositas, pengawet untuk stabilisasi produk, fragrance untuk memperkuat karakter produk, dan pelarut.
a. Surfaktan
Surfaktan adalah elektrolit rantai panjang dan biasanya diklasifikasikan menurut sifat gugus hidrofiliknya.
1. Surfaktan Anionik
Sabun adalah garam dari asam lemak dan dahulu biasa digunakan sebagai shampo. Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang banyak, dapat membersihkan dengan baik serta membuat rambut dalam kondisi yang baik. Sementara dalam air keras atau air sadah maka sabun akan sukar berbuih, kalaupun berbuih, buihnya sedikit. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Surfakatan An-ionik sering disebut sabun adalah surfaktan yang mengandung muatan ion negative.
Alikyl sulfates adalah anion yang sering digunakan pada shampoo , menghasilkan busa yang banyak dan mampu membersihkan tanpa terpengaruh oleh air keras . Lauryl sulfate adalah bahan yang mendominasi disebagian besar formulasi sampo dalam bentuk amonium atau garam trietanol amonium pada tingkat 6 sampai 18 % b / b. Alkyl sulfates pada konsentrasi tinggi cenderungan mengiritasi kulit kepala dan menghilangkan beberapa komponen lemak pada kutikula rambut. Untuk membuat sampo berbasis alkil sulfat ringan maka sering dimodifikasi dengan penambahan surfaktan amfoter.
Alkil eter sulfat adalah produk sulfat dari alkohol lemak teretoksilasi. Alkil eter sulfat lebih larut dalam air dibandingkan alkil sulfat dan merupakan solubilizers yang sangat baik untuk wewangian serta cocok untuk formulasi sampo jernih. Pada konsentrasi yang lebih tinggi akan teretoksilasi dalam sampo bayi.
Sulfonat alfa - olefin adalah campuran kompleks yang dihasilkan dari proses sulfonasi alphaolefins. Deterjen ini berbusa sangat baik pada sebum, efektif pada berbagai pH dan lebih efektif dibandingkan surfaktan lain untuk kulit dan iritasi mata. Surfaktan anionik lainnya meliputi sulfat alkilmonogliserida dan alkil sulfosuccinates.
2. Surfaktan nonionik
Surfaktan Non-ionik adalah surfaktan yang tidak mengandung muatan ion, baik ion negative atau positif (netral). Umumnya, dikombinasikan dengan surfaktan an-ionik. Memiliki daya pembentuk busa yang kecil, merupakan pelarut yang baik dan juga mudah terdispersi. Biasa digunakan untuk pembersih utama.
Beberapa contoh surfaktan nonionuk, seperti : Alkanolamida disusun oleh kondensasi dari asam lemak (biasanya laurat) dan alkanolamina primer atau sekunder. Fungsi dalam formulasi sampo yaitu menstabilkan busa dan meningkatkan konsistensi busa. Aminoksida dibentuk oleh oksidasi lemak amina tersier dan digunakan dalam shampoo terutama pembentuk busa. Surfaktan terpolietoksilasi merupakan kelompok terbesar surfaktan nonionik dan termasuk turunan teretoksilasi dari alkilfenol, alkohol lemak, ester lemak, dan digliserida. Memiliki daya detersif baik dan sifat pembersihan, tetapi karena sedikit berbusa, penggunaannya telah dibatasi untuk pelarut wewangian sampo dan bahan tambahan oleophilic lainnya.
3. Surfaktan Amphoterik
Sering disebut sebagai amfolitik, surfaktan ini mengandung kationik dan anionik dalam satu molekul. Kekuatan surfaktan tergantung pada pH, sifat mereka,
seperti potensi berbusa, kelarutan. Kebanyakan amphoterics adalah turunan dari imidazolina atau betaine. Mereka cukup kompatibel dengan anionik, nonionik atau surfaktan kationik dan telah banyak digunakan untuk memformulasi sampo bayi dan sebagai agen pengontrol komponen anionik yang dapat mengiritasi.
b. Bahan Tambahan Sampo
Digunakan untuk meningkatkan estetika serta meningkatkan efektifitasnya. Pengental terdiri dari berbagai macam senyawa yang digunakan untuk meningkatkan viskositas formulasi, memodifikasi konsistensi dari cairan kental ke gel. Bahan yang paling sering digunakan adalah elektrolit seperti natrium klorida, alkanolamida dan turunan selulosa yang larut dalam air, seperti karboksimetilselulosa, hidroksietilselulosa, polimer vinil carboksi dari jenis Carbopol, polivinil alkohol, dan getah alam, seperti tragacanth. Magnesium aluminium silikat dapat digunakan sebagai pengental dan agen antiketombe. Bahan opasitas berfungsi untuk memberikan penampilan pearlescent atau buram pada sampo.
Fungsi pengawet adalah untuk menghambat perkembangan bakteri. Contoh pengawet yaitu, formaldehida, metil dan propil parabenes, DMDM hydantoin, quaternium - 15, dan lain-lain. Penambahan alkohol ( etanol , isopropanol ) atau glikol mungkin diperlukan untuk mempertahankan kejernihan shampoo, sementara agen seperti EDTA dapat mencegah pembentukan sabun larut kalsium atau magnesium ketika sampo dibilas ke rambut. FD & C dan D & C merupakan pewarna yang biasanya ditambahkan untuk meningkatkan estetika formulasi sampo.
FORMULASI SHAMPO
1. Shampo khusus
Shampo untuk bayi diharuskan untuk tidak mengiritasi kulit kepala dan mata. kebanyakan shampo untuk bayi menggunakan detergen amfoter. Derivat tersebut seperti imidazoline, betaine, dan sulfobetain biasanya dikombinasikan dengan surfaktan nonionik dari golongan eter alkohol polioksietilasi untuk mendapatkan formula yang tidak pedih.Shampo antiketombe diformulasi untuk menghilangkan dan mengurangi desquamation pada kulit kepala dengan menggunakan bahan uang tepat. Bahan – bahan pada shampo anti ketombe contohnya antimikroba seperti garam amonium kuartener yang berfungsi sebagai agen keratolitikum, contohnya asam salisilat dan sulfur. Bahan antiseborrheic seperti resorsin dan batu arang. Sudah lebih dari 20 tahun sampo antiketombe mengandung selenium sulfide atau zinc pyrithione sebagai zat aktif antiketombesering digunakan, dilihat dari efikasi produk dan estetika formulasi.
Contoh formulasi sampo pada umumnya
2. Formula Produk
Pada umumnya, formulasi shampo merupakan sistem aqueous yang sederhana dan karakteristik fisik yang bisa diterima. Selain itu shampo cair yang transparan atau bening memberikan kesan dapat lebih membersihkan, padahal formula yang opaque (buram) dengan viskositas sedikit tinggi (kental) merupakan syarat shampo yang bermutu. Gel transparan biasanya dijual dalam tube yang fleksibel yang mudah digunakan dan dibawa saat berpergian.
EVALUASI DAN KEAMANAN
Sebagai formulator, efektivitas mengembangkan prototipe shampo sedang dievaluasi di laboratorium menggunakan prosedur pengujian yang ditetapkan. Dengan demikian, kemampuan membentuk busa dan busa karakteristik diukur di hadapan dan tidak adanya sebum, mendapatkan beberapa wawasan ke dalam aspek detersif formula. Sifat rambut keramas, sehubungan dengan berkilau, mudah disisir, bentuk, dan keringanannya, yang dinilai bersama-sama dengan evaluasi subjektif dari penampilan rambut. Potensi keberhasilan formulasi adalah dalam penggunaan di pasaran. Dengan demikian, evaluasi konsumen terhadap produk baik dengan panelis di luar atau di-dalam fasilitas pengujian sangat penting. Preferensi konsumen untuk aroma tertentu adalah sangat penting dan komentar mereka mengenai karakteristik estetika shampo dan nuansa rambut keramas bila dikombinasikan dengan hasil tes laboratorium.
Bahan Shampo tidak menimbulkan bahaya tertentu yang berkaitan dengan kulit atau mata keselamatan. Ketika terkena mata harus mudah dihilangkan dengan pembilasan air. Potensi iritasi beberapa surfaktan telah diteliti. Sebagian besar produsen harus membuat ketentuan untuk mengevaluasi produk mereka untuk kulit dan iritasi mata.
Contoh Formulasi dan Uji secara In Vitro
Bahan dari alam banyak yang bisa dimanfaatkan dalam formulasi shampo. Misalnya jeruk nipis berpengaruh terhadap penyembuhan penyembuhan ketombe kering di kulit kepala. Contoh lain adalah ekstrak bunga chamomile dengan hidroksi propil metil selulosa bisa digunakan sebagai pengental pada shampo. Pada pemformulasian dilakukan evaluasi dari sampo yang dibuat dengan apegenin yang dijelaskan sebagai berikut.
Pemeriksaan bahan baku
Pemeriksaan kandungan apigenin dalam ekstrak bunga chamomile dilakukan secara kromatografi lapis tipis (KLT) dibandingkan dengan apigenin pembanding. Larutan apigenin pembanding dan larutan ekstrak bunga chamomile ditotolkan sebanyak 10 µl pada fase diam silika gel GF254 dengan jarak rambat 10 cm dan fase gerak toluena-kloroform-aseton (8:5:7). Lempeng dideteksi di bawah sinar ultraviolet 254 nm(6). Terhadap bahan tambahan yang terdiri dari hidroksi propil metil selulosa ((Methocel® F4M), natrium lauroil sarkosinat, asam sitrat, dinatrium EDTA, metil paraben, propil paraben, propilen glikol, PEG-40 hydrogenated castor oil, dilakukan pemeriksaan berdasarkan monografi masing-masing bahan.
Pembuatan dispersi Methocel® F4M. Methocel® F4M dengan konsentrasi 0,5; 1,0 ;1,5; 2,0; dan 2,5% dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam gelas piala yang berisi air suling panas (suhu 60–70oC) sejumlah 1/3 volume sediaan, sambil diaduk dengan homogenizer pada kecepatan 50, 100, 150, dan 200 rpm selama 30, 60, dan 90 menit. Kemudian, viskositas dan homogenitas larutan Methocel® F4M diukur. Kadar Methocel® F4M, kecepatan dan waktu pengadukan yang menghasilkan viskositas yang optimum serta homogenitas yang maksimal digunakan untuk pembuatan basis sampo.
Formulasi sediaan sampo.
Formula sampo.
Optimasi homogenitas sediaan sampo
Dispersi Methocel® F4M dicampurkan dengan bahan tambahan lain dan bahan aktif kemudian dihomogenisasi dengan homogenizer dengan kecepatan 1000, 1100, dan 1200 rpm selama 10 menit, sehingga didapatkan kecepatan yang optimal untuk menghasilkan sediaan yang homogen dengan tinggi busa minimum.
Pembuatan sediaan sampo
Hidroksi propil metil selulosa (Methocel F4M) didispersikan sedikit demi sedikit dalam air panas (60–70°C), diaduk menggunakan homogenizer dengan kecepatan 100 rpm selama 60 menit sesuai konsentrasi dan didinginkan sampai suhu 20–25oC atau lebih rendah, sehingga dihasilkan larutan hidroksi propil metil selulosa. Natrium lauroil sarkosinat, ekstrak bunga chamomile, dinatrium EDTA yang telah dilarutkan dalam air, serta metil dan propil paraben yang telah dilarutkan dalam propilen glikol, ditambahkan ke dalam larutan hidroksi propil metil selulosa (Methocel® F4M), dihomogenkan dengan homogenizer pada kecepatan 1000 rpm dan waktu 10 menit. Parfum frangi pani yang dicampur dengan PEG-40-hydrogenated castor oil ditambahkan ke dalam sediaan tersebut, dihomogenkan dengan homogenizer pada kecepatan 1000 rpm selama 10 menit. Sisa air suling ditambahkan ke dalam sediaan sampai batas tanda di dalam wadah, lalu dihomogenkan dengan homogenizer pada kecepatan 1000 rpm selama 10 menit. Keasaman disesuaikan dengan penambahan asam sitrat tetes demi tetes sampai pH 6,30 menggunakan pH-meter.
Evaluasi sampo
Pengamatan organoleptis
Pengamatan dilakukan terhadap setiap perubahan homogenitas, aroma, dan warna sediaan sampo ekstrak bunga chamomile. Pengamatan dilakukan pada suhu kamar (28-30oC), 40oC dan dingin (6-7oC) setiap minggu, selama 6 minggu penyimpanan.
Pengukuran viskositas
Penentuan viskositas dilakukan dengan menggunakan alat viskometer Brookfield tipe LV dengan mengamati angka pada skala viskometer dengan kecepatan tertentu. Penentuan sifat alir dilakukan dengan menentukan viskositas pada berbagai kecepatan geser (rpm). Sifat alir ditetapkan dengan cara membuat kurva antara kecepatan geser (rpm) dengan gaya (dyne/cm²), data yang diperoleh diplotkan pada kertas grafik antara gaya (x) dan kecepatan geser (y) kemudian ditentukan sifat alirnya. Pemeriksaan ini dilakukan pada suhu kamar (28-30°C), 40°C dan dingin (6-7°C).
Pengukuran bobot jenis
Bobot jenis diukur menggunakan piknometer pada suhu ruang. Bobot jenis dari 0,1% larutan formula diukur untuk menghitung faktor koreksi dalam menentukan tegangan permukaan formula. Pengukuran bobot jenis menggunakan piknometer yang dilengkapi termometer dengan cara sebagai berikut: ditimbang saksama piknometer kosong (A), piknometer berisi air suling (B), dan piknometer berisi 0,1% larutan formula (C). Bobot jenis sediaan dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Pengukuran tegangan permukaan
Tegangan permukaan 0,1% larutan sediaan dalam air suling diukur menggunakan alat tensiometer cincin du-Nuoy. Faktor koreksi cincin dihitung dengan bantuan rumus berikut:
OSRuk adalah tegangan permukaan yang belum dikoreksi dalam dyne/cm, D adalah bobot jenis cairan uji dalam g/cm³, dan f adalah faktor koreksi tegangan permukaan. Harga OSRuk yang terukur, dikalikan dengan faktor yang terhitung, menghasilkan tegangan permukaan absolut dalam dyne/cm.
OSabs adalah tegangan permukaan absolut yang sudah dikoreksi dan f adalah faktor koreksi tegangan permukaan. Pengukuran tinggi busa dalam air suling dan air sadah. Tinggi busa dari 0,1% larutan sediaan dalam air suling diukur menggunakan alat pengukur tinggi busa. Pengukuran dilakukan dengan metode sederhana yang akan memberikan hasil yang dapat disamakan dengan tes Ross Miles, sebagai berikut: Sediaan sampo ekstrak bunga chamomile 0,1% dalam air suling dimasukkan ke dalam gelas ukur tertutup 100 ml dan dikocok selama 20 detik dengan cara membalikkan gelas ukur secara beraturan. Tinggi busa yang terbentuk diamati, dan 5 menit kemudian diamati kembali stabilitasnya. Prosedur pengukuran tinggi busa dalam air sadah serupa dengan pengukuran tinggi busa dalam air suling, namun air yang digunakan adalah air sadah yang dibuat dengan melarutkan 2,33 g kalsium karbonat dan 1,16 g magnesium karbonat dan ditambahkan asam klorida tetes demi tetes hingga larut, kemudian ditambahkan air suling.
Pengukuran pH
Keasaman (pH) sediaan diukur menggunakan pH-meter. Sebelumnya, pH-meter dikalibrasi dengan larutan pH 7 (dapar fosfat ekimolal) dan pH 4 (dapar kalium biftalat), kemudian elektroda pH-meter dicelupkan hingga ujung elektroda tercelup semua dalam sediaan dan angka yang terbaca menjadi stabil. Angka yang menunjukkan nilai pH tersebut dicatat.
Kemasan
Kemasan yang digunakan adalah botol kaca tidak tembus cahaya 100 ml.
Dari beberapa evaluasi didapatkan beberapa informasi bahwa komponen aktif dalam ekstrak larut air bunga chamomile, yaitu 1,3,4-trihidroksi flavon atau apigenin, digunakan untuk mencerahkan dan mengkilapkan rambut pirang. Pada penelitian ini akan dibuat sampo cair jernih. Viskositas dan sifat alir yang diharapkan dari sampo mempunyai viskositas yang tinggi dalam wadah tetapi mudah dituang dan tersebar .
Hidroksi propil metil selulosa (HPMC) yang mempunyai sifat alir pseudoplastis dapat berfungsi sebagai pengental dan penstabil busa dengan cara gelatinasi. Struktur HPMC mengentalkan dan memperkuat dinding sehingga memperlambat kecepatan dalam mengalir. Selain itu, karena lebih jernih dibanding selulosa lainnya, HPMC dapat digunakan untuk pembuatan sedÃan sampo jernih. Kelebihan lain dari HPMC adalah sifatnya yang tidak terpengaruh oleh elektrolit, dapat tercampurkan dengan pengawet, dan kisaran pH-nya yang luas.
Bahan-bahan lain yang ditambahkan dalam formula sampo ekstrak bunga chamomile adalah surfaktan, pengkhelat logam, peningkat pH, pengawet, dan parfum. Surfaktan yang digunakan adalah natrium lauroil sarkosinat karena bersifat tidak mengiritasi, tidak toksik, penghasil busa yang kuat, dan lembut. Dinatrium EDTA digunakan untuk mengkhelat logam-logam yang terdapat dalam air atau bahan lain sehingga dapat mencegah berkurangnya efektivitas surfaktan. Asam sitrat digunakan untuk mencapai pH sampo dan pH stabilitas ekstrak yang baik, yaitu 5-9. Kombinasi senyawa turunan hidroksi benzoat digunakan sebagai pengawet karena mempunyai kisaran pH dan spektrum antimikroba yang luas. Untuk meningkatkan kelarutan metil dan propil paraben, digunakan propilen glikol dengan konsentrasi 5%. Parfum yang digunakan dalam sampo ini adalah parfum frangi pani yang tidak larut atau bercampur sehingga perlu ditambahkan surfaktan sebanyak jumlah parfum yang digunakan untuk menghasilkan sediaan sampo yang jernih dan stabil. Salah satu surfaktan yang banyak digunakan dalam sediaan sampo adalah PEG-40 hydrogenated castor oil yang stabil dalam pembawa air.
Pemeriksaan bahan aktif
Pada tahap awal pembuatan sampo dilakukan pemeriksaan bahan baku. Hasil pemeriksaan bahan aktif (apigenin dalam ekstrak bunga chamomile) disajikan pada Tabel 2. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, ekstrak bunga chamomile dapat digunakan dalam penelitian pembuatan sampo. Hasil pemeriksaan bahan aktif apigenin dalam ekstrak bunga chamomile secara kromatografi lapis tipis (KLT) disajikan pada Gambar 4 berikut:
Gambar 4. Kromatogram ekstrak bunga chamomile dengan fase gerak toluen-kloroform-aseton ( 8-5-7 )
Pemeriksaan bahan tambahan.
Hasil pemeriksaan bahan tambahan yang meliputi hidroksi propil metil selulosa (Methocel® F4M), natrium lauroil sarkosinat, dinatrium EDTA, asam sitrat, metil paraben, propil paraben, propilen glikol, PEG-40-hydrogenated castor oil menunjukkan bahwa bahan-bahan tambahan ini memenuhi syarat Evaluasi sediaan. Berdasarkan data hasil pengukuran viskositas dan homogenitas dispersi Methocel® F4M dengan konsentrasi 0,5%; 1%; 1,5%; 2%; 2,5%, dapat disimpulkan bahwa waktu dan kecepatan pengadukan yang optimal adalah 60 menit dan 100 rpm. Homogenitas sediaan sampo yang optimal yaitu jernih, homogen, dan tidak berbusa, dihasilkan pada kecepatan homogenisasi 1000 rpm selama 10 menit.
Pengamatan organoleptik
Hasil pengamatan organoleptik sediaan sampo ekstrak bunga chamomile formula I sampai dengan formula VI menunjukkan bahwa semua formula praktis stabil selama 6 minggu penyimpanan pada suhu kamar (28–30oC), 40oC, dan dingin (6–7oC), kecuali formula VI yang pada minggu ke-3 sampai minggu ke-6 terjadi kekeruhan pada penyimpanan suhu kamar (28–30oC) dan 40oC. Parameter sediaan cair yang stabil secara umum adalah tidak mengalami pemisahan, tidak terbentuk endapan dan gumpalan, serta tidak mengalami perubahan warna dan bau.
Pengukuran viskositas
Hasil pengukuran viskositas menunjukkan, semakin besar konsentrasi hidroksi propil metil selulosa (Methocel® F4M) semakin meningkat viskositas sediaan. Peningkatan suhu diketahui menurunkan viskositas sediaan dan penurunan suhu meningkatkan viskositas sediaan. Pengukuran viskositas sampo ekstrak bunga chamomile formula V (konsentrasi Methocel® F4M 2%) dibandingkan dengan sediaan sampo sejenis di pasaran menunjukkan sediaan formula V memiliki viskositas 2080 cPs, mendekati viskositas sampo pembanding, yaitu 2810 cPs. Berdasarkan rheogram sampo ekstrak bunga chamomile, didapatkan sifat alir sediaan sampo ekstrak bunga chamomile mengikuti aliran pseudoplastis, yaitu viskositas menurun dengan peningkatan kecepatan geser dan kurva melewati titik (0,0) atau rate of shear yang terendah. Hal ini sesuai dengan sifat alir bahan pengental hidroksi propil metil selulosa (Methocel® F4M) yang mengikuti sifat alir pseudoplastis.
Pengukuran bobot jenis
Berdasarkan pemeriksaan bobot jenis, semua formula sampo ekstrak bunga chamomile memenuhi persyaratan bobot jenis yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia untuk sediaan sampo, yaitu minimal 1,02. Pengukuran bobot jenis dilakukan sebagai uji pendahuluan pengukuran tegangan permukaan. Tegangan permukaan dipengaruhi oleh surfaktan yang digunakan. Salah satu kriteria sampo yang baik adalah dapat menurunkan tegangan permukaan air dari 78 dyne/cm menjadi 40 dyne/cm pada rentang konsentrasi 0,1–0,2%, atau maksimum mempunyai tegangan permukaan 27-46 dyne/cm pada konsentrasi 1%. Tegangan permukaan dari sediaan sampo yang diteliti ini berkisar 28,98-35,25 dyne/cm.
Pengukuran tinggi busa
Pengamatan tinggi busa dilakukan segera setelah pengocokan dan 5 menit kemudian. Hal ini diperlukan karena sampo, karena tinggi busa tidak menunjukkan kemampuan dalam membersihkan. Hal ini lebih terkait pada persepsi psikologis dan estetika yang disukai oleh konsumen. Parameter tinggi busa sangat tergantung pada surfaktan yang digunakan, kesadahan air, suhu ruang saat pengukuran, waktu pendiaman, dan konsentrasi hidroksi propil metil selulosa (Methocel® F4M) dalam formula sampo, yang juga berfungsi sebagai penstabil busa.
Pengukuran pH
Berdasarkan hasil pengamatan, terjadi perubahan pH pada sediaan sampo ekstrak bunga chamomile setelah 6 minggu penyimpanan. Meskipun demikian, perubahan tersebut masih berada di dalam batasan persyaratan pH sampo (5,0–9,0) dan pH stabilitas ekstrak bunga chamomile (5,5–6,5). Keasaman (pH) sediaan yang diamati selama 6 minggu berkisar antara 6,15–6,47. Pada proses pembuatan sampo ekstrak bunga chamomile ditambahkan asam sitrat untuk menurunkan pH sediaan yang terlalu basa sehingga pH-nya sesuai dengan persyaratan pH sampo dan pH stabilitas ekstrak bunga chamomile.pengamatan tinggi busa 5 menit setelah terbentuknya busa menunjukkan stabilitas busa yang terbentuk. Tinggi dan stabilitas busa sediaan sampo dalam air suling adalah 0,85–3,80 cm. Sementara itu, tinggi dan stabilitas busa dalam air sadah adalah 0,75–3,70 cm. Hasil pengukuran tinggi busa mencerminkan kemampuan suatu deterjen untuk menghasilkan busa. Pengukuran tinggi busa merupakan salah satu cara untuk pengendalian mutu suatu produk deterjen agar sediaan memiliki kemampuan yang sesuai dalam menghasilkan busa. Tidak ada syarat tinggi busa minimum atau maksimum untuk suatu sediaan.
Sebum juga mempengaruhi rambut. Di bawah ini gambar gambar rambut yang tanpa sebum dan dengan sebum.
Formula yang ada di Pasaran
1. Shampoo Pantene Pro V
Water
Sodium Laureth Sulfate
Sodium Lauryl Sulfate
Sodium Chloride
Dimethicone
Glycol Distearate
Cocamidopropyl Betaine
Fragrance
Sodium Citrate
Cocamide MEA
Sodium Xylenesulfonate
Citric Acid
Guar Hydroxypropyltrimonium Chloride
Sodium Benzoate
Tetrasodium EDTA
Polyquaternium-76
Panthenol
Panthenyl Ethyl Ether
Hydrochloric Acid
Methylchloroisothiazolinone
Methylisothiazolinone
2. Formula Lifebuoy
Water
Myristic Acid
Lauric Acid
Potassium Hydroxide
Potassium Chloride
Sodium Laureth Sulfate
Palmitic Acid
Perfume
Glycol Distearate
Cocamidopropyl Betaine
Glycerin
Hydroxypropyl Methylcellulose
Helianthus Annuus ( sunflower) seed oil
Sodium Chloride
Tetrasodium EDTA
BHT
Pentasodium Pentetate
Etidronic Acid
Glyceril Laurate
Capric Acid
Triclocarbon
Citric Acid
Sodium Benzoate
Methylisothiazolinone
Terpineol
Thymol
PEG-40 Hydrogenated Castor Oil
Sodium Hidroxide
Trisodium NTA
Curcuma romatica Root Oil
Trideceth-9
Prunus Persica ( Peach) Juice
Prunus Amygdalus Dulcis ( sweet almond) oil
Dried Cream
Xanthan Gum
Lavandula
Angustifolia ( lavender)
Dari produk shampo di atas kedua shampo sudah memakai bahan bahan formula yang sesuai. Hanya ada perbedaan pada beberapa bahan tambahan yang digunakan untuk memberi kharakteristik tersendiri untuk setiap produk.
Daftar Pustaka
1. Barel Q, Paye M., dan Howard I. Maibach.2001. Handbook of Cosmetic Science and Technology. New York : Marcel Dekker, Inc.
2. Faizatun, Kartiningsih dan Liliyana.2008. Formulasi Sediaan Sampo Ekstrak Bunga Chamomile dengan Hidroksi Propil Metil Selulosa sebagai Pengental. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. 6(1) : 1693-1831.
3. Mainkar R. Dan Jolly I. 2001. Formulation of Natural Shampoos. International Journal of Cosmetic Science.69 (2001) : 59-62.
4.Kumar A. dan Mali R. 2010. Evaluation Of Prepared Shampoo Formulations And To Compare Formulated Shampoo With Marketed Shampoos. International Journal of pharmaceutical sciences review and research 3 (1):0976-044X.
1. Kerusakan rambut
Serat rambut berisi sebuah korteks pusat yang sebagian besar merupakan serat, dikelilingi 8-10 lapisan sel yang tumpang tindih dan disebut kutikula. Korteks bertanggung jawab atas kekuatan rambut sedangkan daerah kutikula mempengaruhi hair feel, kilau, dan kemampuan untuk disisir.
Fungsi utama dari pengkondisian yaitu untuk memproteksi bagian struktural rambut, khususnya kutikula dari kerusakan. Kerusakan ini ditandai oleh menipisnya rambut, pecah-pecah, dan lepasnya sel kutikula. Hal tersebut merupakan tanda yang kebanyakan ditemukan pada permukaan rambut yang rusak.
Sebuah contoh yang sedikit ekstrim dari kerusakan saat menyisir dapat dilihat pada gambar 1 yang menunjukkan hasil dari sebuah percobaan pada sebuah rambut yang dicuci dengan sampo kemudian disisir 700 kali ketika masih basah. Rambut pada keadaan basah akan lebih rapuh. Menyisir pada kondisi ini akan menghasilkan kerusakan yang besar. Hal ini dapat dilihat dari luasnya kutikula yang rusak dan banyak sel yang terangkat dari permukaan. Pada bagian-bagian tertentu juga terlihat beberapa sel benar-benar robek.
Kemampuan agen pengkondisian untuk memproteksi rambut dari berbagai kerusakan yang dapat dilihat pada gambar 2. Pada gambar 2 menunjukkan hasil dari percobaan menyisir rambut sebanyak 700 kali pada keadaan basah setelah dicuci dengan sampo bersama pengkondisian. Pada kondisi ini agen pengkondisian pada sampo mengurangi kerusakan yang disebabkan olen penyisiran. Pada permukaan rambut dapat dilihat sedikit menipis dan sedikit terpecah.
a. Kerusakan rambut dan permukaan kutikula
Kerentanan serat rambut terhadap kerusakan membutuhkan jenis pengkondisian yang efektif untuk mencegahnya. Oleh karena itu kita perlu mengetahui tentang agen pengkondisian yang dibutuhkan pada permukaan rambut dan bagaimana pengaruhnya.
Virgin hair adalah rambut yang tidak mendapatkan perawatan dengan bahan kimia tertentu. Permukaan kutikula dari virgin hair pada kondisi yang baik adalah hidrofobik. Rambut juga memiliki struktur protein dan berisi muatan negatif hidrofilik. Campuran dari sifat hidrofilik dan hidrofobik akan membutuhkan jenis agen pengkondisian yang dapat berikatan dengan rambut.
Muatan negatif pada virgin hair meningkat dari akar ke ujung. Hal ini merupakan hasil dari oksidasi sistin pada rambut menjadi sistin-S-sulfonat dan asam sisteat karena terpapar radiasi sinar UV matahari. Bagian ujung rambut akan lebih tua dari bagian akar.
Selain karena sinar UV, proses menyisir dengan keras juga mampu memberikan kerusakan pada rambut. Gaya yang dihasilkan dari proses menyisir akan meningkat dari akar ke ujung. Oleh karena itu bagian ujung rambut yang lebih tua akan mengalami kerusakan lebih besar. Hal ini akan menyebabkan kerusakan ikatan kovalen lapisan lipid dan memberikan rasa kering di ujung rambut. Oleh karena itu bagian ujung rambut memerlukan lebih pengkondisian. Tanpa pengkondisian yang memadai, lapisan kutikula akan hilang dan patah.
b. Perawatan kimiawi permukaan rambut
Perawatan kimiawi, perming, bleaching, dan pengecatan permanen dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan pada serat rambut. Selain itu dapat juga menyebabkan kerusakan pada kekuatan rambut itu sendiri. Semua perawatan rambut meliputi tahap oksidasi, memodifikasi permukaan rambut, mengenalkan muatan negatif yang hasilnya berupa oksidasi sistin menjadi asam sisteat. Hal ini dapat merubah permukaan serat rambut dari hidrofobik menjadi hidrofilik.
Semua perawatan juga dapat meningkatkan perubahan permukaan yang menjadikan gaya gesek ketika menyisir lebih besar. Hasilnya adalah rambut terasa kasar dan kering. Oleh karena itu perawatan rambut secara umum membutuhkan lebih daripada virgin hair.
2. Pembersihan rambut
Rambut dapat menjadi kotor, antara lain dikarenakan proses bawaan kulit kepala, berkeringat, sekresi sebum, pengendapan zat asing yang timbul baik dari pencemaran lingkungan (debu dan kontaminan udara lainnya) maupun dari sisaproduk penataanrambuts epertiminyak, wax maupun spray rambut. Penghilangan sebum merupakan kunci utama dalam proses pembersihan rambut.
Kelenjar sebaceous yang melekat pada masing-masing folikel rambut menyediakan pasokan sebum ke permukaan rambut. Ekskresi sebum dipengaruhi oleh hormonal dan mencapai keadaan maksimal pada saat puberitas. Pembersihan yang memuaskan hanya dapat dicapai dengan menggunakan larutan berair dari deterjen. Dalam arti luas, semua bahan yang digunakan dalam pembersihan adalah air dan pelarutlainnya, sabun dansurfaktan sintetik, garam dan abrasive dapat dianggap sebagai deterjen. Namun istilah 'deterjen' terbatas pada akitvagen permukaan yang ditambahkan untuk menurunkan tegangan permukaan sehingga efektif dalam membersihkan kotoran.
Senyawa yang mampu menurunkan tegangan permukaan tersebut tersusun atas kelompo khidrofilik dan hidrofobik yang berfungsi sebagai agen pengemulsi. Pada intinya pembersihan kotoran dari rambut sama dengan proses pencucian kain. Tidak ada informasi yang tepat saat ini tersedia untuk mekanisme yang dominan dalam pembersihan rambut. Dalam banyak hal, sebagian besar produk shampoo diformulas ikan untuk bekerja pada kondisi yang beragam dari aksi deterjen, sehingga menjamin keberhasilan pembersihan mereka.
SHAMPO
Pembersihan rambut jelas merupakan unsur dominan kebersihan pribadi dan ketika diperkuat oleh aspek penampilan menarik makadapat menjadikan stimulus yang kuat dan sangat berharga. Keramas telah menjadi faktor utama dalam menjaga estetika rambut. Shampo memiliki fungsi umum untuk membersihkan rambut minyak berlebih, keringat, maupun sisa produk penata rambut seperti gel dan spray rambut. Proses pembersihan rambut dapat dilakukan rentang waktu beberapa menit dan menjadikan rambut bersih dan bebas dari kusut dan diharapkan dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan ketika muncul banyakbusadanrambut terlihat terwat setelah dibersihkan dan aromanya menyegarkan.
a. Komponen Shampoo
Bahan Shampoo
Shampoo terdiri dari larutan, emulsi, atau dispersi dari satu atau lebih surfaktan dengan beberapa bahan tambahan untuk meningkatkan kinerja dan estetika produk. Komposisi formula sampo terdiri dari bahan utama dan bahan tambahan. Bahan utama terdiri dari surfactant dan co- surfactant sebagai agen surface-active. Bahan tambahan terdiri dari sumber nutrisi, penstabil pH, thickening agent sebagai agen pengontrol viskositas, pengawet untuk stabilisasi produk, fragrance untuk memperkuat karakter produk, dan pelarut.
a. Surfaktan
Surfaktan adalah elektrolit rantai panjang dan biasanya diklasifikasikan menurut sifat gugus hidrofiliknya.
1. Surfaktan Anionik
Sabun adalah garam dari asam lemak dan dahulu biasa digunakan sebagai shampo. Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang banyak, dapat membersihkan dengan baik serta membuat rambut dalam kondisi yang baik. Sementara dalam air keras atau air sadah maka sabun akan sukar berbuih, kalaupun berbuih, buihnya sedikit. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Surfakatan An-ionik sering disebut sabun adalah surfaktan yang mengandung muatan ion negative.
Alikyl sulfates adalah anion yang sering digunakan pada shampoo , menghasilkan busa yang banyak dan mampu membersihkan tanpa terpengaruh oleh air keras . Lauryl sulfate adalah bahan yang mendominasi disebagian besar formulasi sampo dalam bentuk amonium atau garam trietanol amonium pada tingkat 6 sampai 18 % b / b. Alkyl sulfates pada konsentrasi tinggi cenderungan mengiritasi kulit kepala dan menghilangkan beberapa komponen lemak pada kutikula rambut. Untuk membuat sampo berbasis alkil sulfat ringan maka sering dimodifikasi dengan penambahan surfaktan amfoter.
Alkil eter sulfat adalah produk sulfat dari alkohol lemak teretoksilasi. Alkil eter sulfat lebih larut dalam air dibandingkan alkil sulfat dan merupakan solubilizers yang sangat baik untuk wewangian serta cocok untuk formulasi sampo jernih. Pada konsentrasi yang lebih tinggi akan teretoksilasi dalam sampo bayi.
Sulfonat alfa - olefin adalah campuran kompleks yang dihasilkan dari proses sulfonasi alphaolefins. Deterjen ini berbusa sangat baik pada sebum, efektif pada berbagai pH dan lebih efektif dibandingkan surfaktan lain untuk kulit dan iritasi mata. Surfaktan anionik lainnya meliputi sulfat alkilmonogliserida dan alkil sulfosuccinates.
2. Surfaktan nonionik
Surfaktan Non-ionik adalah surfaktan yang tidak mengandung muatan ion, baik ion negative atau positif (netral). Umumnya, dikombinasikan dengan surfaktan an-ionik. Memiliki daya pembentuk busa yang kecil, merupakan pelarut yang baik dan juga mudah terdispersi. Biasa digunakan untuk pembersih utama.
Beberapa contoh surfaktan nonionuk, seperti : Alkanolamida disusun oleh kondensasi dari asam lemak (biasanya laurat) dan alkanolamina primer atau sekunder. Fungsi dalam formulasi sampo yaitu menstabilkan busa dan meningkatkan konsistensi busa. Aminoksida dibentuk oleh oksidasi lemak amina tersier dan digunakan dalam shampoo terutama pembentuk busa. Surfaktan terpolietoksilasi merupakan kelompok terbesar surfaktan nonionik dan termasuk turunan teretoksilasi dari alkilfenol, alkohol lemak, ester lemak, dan digliserida. Memiliki daya detersif baik dan sifat pembersihan, tetapi karena sedikit berbusa, penggunaannya telah dibatasi untuk pelarut wewangian sampo dan bahan tambahan oleophilic lainnya.
3. Surfaktan Amphoterik
Sering disebut sebagai amfolitik, surfaktan ini mengandung kationik dan anionik dalam satu molekul. Kekuatan surfaktan tergantung pada pH, sifat mereka,
seperti potensi berbusa, kelarutan. Kebanyakan amphoterics adalah turunan dari imidazolina atau betaine. Mereka cukup kompatibel dengan anionik, nonionik atau surfaktan kationik dan telah banyak digunakan untuk memformulasi sampo bayi dan sebagai agen pengontrol komponen anionik yang dapat mengiritasi.
b. Bahan Tambahan Sampo
Digunakan untuk meningkatkan estetika serta meningkatkan efektifitasnya. Pengental terdiri dari berbagai macam senyawa yang digunakan untuk meningkatkan viskositas formulasi, memodifikasi konsistensi dari cairan kental ke gel. Bahan yang paling sering digunakan adalah elektrolit seperti natrium klorida, alkanolamida dan turunan selulosa yang larut dalam air, seperti karboksimetilselulosa, hidroksietilselulosa, polimer vinil carboksi dari jenis Carbopol, polivinil alkohol, dan getah alam, seperti tragacanth. Magnesium aluminium silikat dapat digunakan sebagai pengental dan agen antiketombe. Bahan opasitas berfungsi untuk memberikan penampilan pearlescent atau buram pada sampo.
Fungsi pengawet adalah untuk menghambat perkembangan bakteri. Contoh pengawet yaitu, formaldehida, metil dan propil parabenes, DMDM hydantoin, quaternium - 15, dan lain-lain. Penambahan alkohol ( etanol , isopropanol ) atau glikol mungkin diperlukan untuk mempertahankan kejernihan shampoo, sementara agen seperti EDTA dapat mencegah pembentukan sabun larut kalsium atau magnesium ketika sampo dibilas ke rambut. FD & C dan D & C merupakan pewarna yang biasanya ditambahkan untuk meningkatkan estetika formulasi sampo.
FORMULASI SHAMPO
1. Shampo khusus
Shampo untuk bayi diharuskan untuk tidak mengiritasi kulit kepala dan mata. kebanyakan shampo untuk bayi menggunakan detergen amfoter. Derivat tersebut seperti imidazoline, betaine, dan sulfobetain biasanya dikombinasikan dengan surfaktan nonionik dari golongan eter alkohol polioksietilasi untuk mendapatkan formula yang tidak pedih.Shampo antiketombe diformulasi untuk menghilangkan dan mengurangi desquamation pada kulit kepala dengan menggunakan bahan uang tepat. Bahan – bahan pada shampo anti ketombe contohnya antimikroba seperti garam amonium kuartener yang berfungsi sebagai agen keratolitikum, contohnya asam salisilat dan sulfur. Bahan antiseborrheic seperti resorsin dan batu arang. Sudah lebih dari 20 tahun sampo antiketombe mengandung selenium sulfide atau zinc pyrithione sebagai zat aktif antiketombesering digunakan, dilihat dari efikasi produk dan estetika formulasi.
Contoh formulasi sampo pada umumnya
2. Formula Produk
Pada umumnya, formulasi shampo merupakan sistem aqueous yang sederhana dan karakteristik fisik yang bisa diterima. Selain itu shampo cair yang transparan atau bening memberikan kesan dapat lebih membersihkan, padahal formula yang opaque (buram) dengan viskositas sedikit tinggi (kental) merupakan syarat shampo yang bermutu. Gel transparan biasanya dijual dalam tube yang fleksibel yang mudah digunakan dan dibawa saat berpergian.
EVALUASI DAN KEAMANAN
Sebagai formulator, efektivitas mengembangkan prototipe shampo sedang dievaluasi di laboratorium menggunakan prosedur pengujian yang ditetapkan. Dengan demikian, kemampuan membentuk busa dan busa karakteristik diukur di hadapan dan tidak adanya sebum, mendapatkan beberapa wawasan ke dalam aspek detersif formula. Sifat rambut keramas, sehubungan dengan berkilau, mudah disisir, bentuk, dan keringanannya, yang dinilai bersama-sama dengan evaluasi subjektif dari penampilan rambut. Potensi keberhasilan formulasi adalah dalam penggunaan di pasaran. Dengan demikian, evaluasi konsumen terhadap produk baik dengan panelis di luar atau di-dalam fasilitas pengujian sangat penting. Preferensi konsumen untuk aroma tertentu adalah sangat penting dan komentar mereka mengenai karakteristik estetika shampo dan nuansa rambut keramas bila dikombinasikan dengan hasil tes laboratorium.
Bahan Shampo tidak menimbulkan bahaya tertentu yang berkaitan dengan kulit atau mata keselamatan. Ketika terkena mata harus mudah dihilangkan dengan pembilasan air. Potensi iritasi beberapa surfaktan telah diteliti. Sebagian besar produsen harus membuat ketentuan untuk mengevaluasi produk mereka untuk kulit dan iritasi mata.
Contoh Formulasi dan Uji secara In Vitro
Bahan dari alam banyak yang bisa dimanfaatkan dalam formulasi shampo. Misalnya jeruk nipis berpengaruh terhadap penyembuhan penyembuhan ketombe kering di kulit kepala. Contoh lain adalah ekstrak bunga chamomile dengan hidroksi propil metil selulosa bisa digunakan sebagai pengental pada shampo. Pada pemformulasian dilakukan evaluasi dari sampo yang dibuat dengan apegenin yang dijelaskan sebagai berikut.
Pemeriksaan bahan baku
Pemeriksaan kandungan apigenin dalam ekstrak bunga chamomile dilakukan secara kromatografi lapis tipis (KLT) dibandingkan dengan apigenin pembanding. Larutan apigenin pembanding dan larutan ekstrak bunga chamomile ditotolkan sebanyak 10 µl pada fase diam silika gel GF254 dengan jarak rambat 10 cm dan fase gerak toluena-kloroform-aseton (8:5:7). Lempeng dideteksi di bawah sinar ultraviolet 254 nm(6). Terhadap bahan tambahan yang terdiri dari hidroksi propil metil selulosa ((Methocel® F4M), natrium lauroil sarkosinat, asam sitrat, dinatrium EDTA, metil paraben, propil paraben, propilen glikol, PEG-40 hydrogenated castor oil, dilakukan pemeriksaan berdasarkan monografi masing-masing bahan.
Pembuatan dispersi Methocel® F4M. Methocel® F4M dengan konsentrasi 0,5; 1,0 ;1,5; 2,0; dan 2,5% dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam gelas piala yang berisi air suling panas (suhu 60–70oC) sejumlah 1/3 volume sediaan, sambil diaduk dengan homogenizer pada kecepatan 50, 100, 150, dan 200 rpm selama 30, 60, dan 90 menit. Kemudian, viskositas dan homogenitas larutan Methocel® F4M diukur. Kadar Methocel® F4M, kecepatan dan waktu pengadukan yang menghasilkan viskositas yang optimum serta homogenitas yang maksimal digunakan untuk pembuatan basis sampo.
Formulasi sediaan sampo.
Formula sampo.
Optimasi homogenitas sediaan sampo
Dispersi Methocel® F4M dicampurkan dengan bahan tambahan lain dan bahan aktif kemudian dihomogenisasi dengan homogenizer dengan kecepatan 1000, 1100, dan 1200 rpm selama 10 menit, sehingga didapatkan kecepatan yang optimal untuk menghasilkan sediaan yang homogen dengan tinggi busa minimum.
Pembuatan sediaan sampo
Hidroksi propil metil selulosa (Methocel F4M) didispersikan sedikit demi sedikit dalam air panas (60–70°C), diaduk menggunakan homogenizer dengan kecepatan 100 rpm selama 60 menit sesuai konsentrasi dan didinginkan sampai suhu 20–25oC atau lebih rendah, sehingga dihasilkan larutan hidroksi propil metil selulosa. Natrium lauroil sarkosinat, ekstrak bunga chamomile, dinatrium EDTA yang telah dilarutkan dalam air, serta metil dan propil paraben yang telah dilarutkan dalam propilen glikol, ditambahkan ke dalam larutan hidroksi propil metil selulosa (Methocel® F4M), dihomogenkan dengan homogenizer pada kecepatan 1000 rpm dan waktu 10 menit. Parfum frangi pani yang dicampur dengan PEG-40-hydrogenated castor oil ditambahkan ke dalam sediaan tersebut, dihomogenkan dengan homogenizer pada kecepatan 1000 rpm selama 10 menit. Sisa air suling ditambahkan ke dalam sediaan sampai batas tanda di dalam wadah, lalu dihomogenkan dengan homogenizer pada kecepatan 1000 rpm selama 10 menit. Keasaman disesuaikan dengan penambahan asam sitrat tetes demi tetes sampai pH 6,30 menggunakan pH-meter.
Evaluasi sampo
Pengamatan organoleptis
Pengamatan dilakukan terhadap setiap perubahan homogenitas, aroma, dan warna sediaan sampo ekstrak bunga chamomile. Pengamatan dilakukan pada suhu kamar (28-30oC), 40oC dan dingin (6-7oC) setiap minggu, selama 6 minggu penyimpanan.
Pengukuran viskositas
Penentuan viskositas dilakukan dengan menggunakan alat viskometer Brookfield tipe LV dengan mengamati angka pada skala viskometer dengan kecepatan tertentu. Penentuan sifat alir dilakukan dengan menentukan viskositas pada berbagai kecepatan geser (rpm). Sifat alir ditetapkan dengan cara membuat kurva antara kecepatan geser (rpm) dengan gaya (dyne/cm²), data yang diperoleh diplotkan pada kertas grafik antara gaya (x) dan kecepatan geser (y) kemudian ditentukan sifat alirnya. Pemeriksaan ini dilakukan pada suhu kamar (28-30°C), 40°C dan dingin (6-7°C).
Pengukuran bobot jenis
Bobot jenis diukur menggunakan piknometer pada suhu ruang. Bobot jenis dari 0,1% larutan formula diukur untuk menghitung faktor koreksi dalam menentukan tegangan permukaan formula. Pengukuran bobot jenis menggunakan piknometer yang dilengkapi termometer dengan cara sebagai berikut: ditimbang saksama piknometer kosong (A), piknometer berisi air suling (B), dan piknometer berisi 0,1% larutan formula (C). Bobot jenis sediaan dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Pengukuran tegangan permukaan
Tegangan permukaan 0,1% larutan sediaan dalam air suling diukur menggunakan alat tensiometer cincin du-Nuoy. Faktor koreksi cincin dihitung dengan bantuan rumus berikut:
OSRuk adalah tegangan permukaan yang belum dikoreksi dalam dyne/cm, D adalah bobot jenis cairan uji dalam g/cm³, dan f adalah faktor koreksi tegangan permukaan. Harga OSRuk yang terukur, dikalikan dengan faktor yang terhitung, menghasilkan tegangan permukaan absolut dalam dyne/cm.
OSabs adalah tegangan permukaan absolut yang sudah dikoreksi dan f adalah faktor koreksi tegangan permukaan. Pengukuran tinggi busa dalam air suling dan air sadah. Tinggi busa dari 0,1% larutan sediaan dalam air suling diukur menggunakan alat pengukur tinggi busa. Pengukuran dilakukan dengan metode sederhana yang akan memberikan hasil yang dapat disamakan dengan tes Ross Miles, sebagai berikut: Sediaan sampo ekstrak bunga chamomile 0,1% dalam air suling dimasukkan ke dalam gelas ukur tertutup 100 ml dan dikocok selama 20 detik dengan cara membalikkan gelas ukur secara beraturan. Tinggi busa yang terbentuk diamati, dan 5 menit kemudian diamati kembali stabilitasnya. Prosedur pengukuran tinggi busa dalam air sadah serupa dengan pengukuran tinggi busa dalam air suling, namun air yang digunakan adalah air sadah yang dibuat dengan melarutkan 2,33 g kalsium karbonat dan 1,16 g magnesium karbonat dan ditambahkan asam klorida tetes demi tetes hingga larut, kemudian ditambahkan air suling.
Pengukuran pH
Keasaman (pH) sediaan diukur menggunakan pH-meter. Sebelumnya, pH-meter dikalibrasi dengan larutan pH 7 (dapar fosfat ekimolal) dan pH 4 (dapar kalium biftalat), kemudian elektroda pH-meter dicelupkan hingga ujung elektroda tercelup semua dalam sediaan dan angka yang terbaca menjadi stabil. Angka yang menunjukkan nilai pH tersebut dicatat.
Kemasan
Kemasan yang digunakan adalah botol kaca tidak tembus cahaya 100 ml.
Dari beberapa evaluasi didapatkan beberapa informasi bahwa komponen aktif dalam ekstrak larut air bunga chamomile, yaitu 1,3,4-trihidroksi flavon atau apigenin, digunakan untuk mencerahkan dan mengkilapkan rambut pirang. Pada penelitian ini akan dibuat sampo cair jernih. Viskositas dan sifat alir yang diharapkan dari sampo mempunyai viskositas yang tinggi dalam wadah tetapi mudah dituang dan tersebar .
Hidroksi propil metil selulosa (HPMC) yang mempunyai sifat alir pseudoplastis dapat berfungsi sebagai pengental dan penstabil busa dengan cara gelatinasi. Struktur HPMC mengentalkan dan memperkuat dinding sehingga memperlambat kecepatan dalam mengalir. Selain itu, karena lebih jernih dibanding selulosa lainnya, HPMC dapat digunakan untuk pembuatan sedÃan sampo jernih. Kelebihan lain dari HPMC adalah sifatnya yang tidak terpengaruh oleh elektrolit, dapat tercampurkan dengan pengawet, dan kisaran pH-nya yang luas.
Bahan-bahan lain yang ditambahkan dalam formula sampo ekstrak bunga chamomile adalah surfaktan, pengkhelat logam, peningkat pH, pengawet, dan parfum. Surfaktan yang digunakan adalah natrium lauroil sarkosinat karena bersifat tidak mengiritasi, tidak toksik, penghasil busa yang kuat, dan lembut. Dinatrium EDTA digunakan untuk mengkhelat logam-logam yang terdapat dalam air atau bahan lain sehingga dapat mencegah berkurangnya efektivitas surfaktan. Asam sitrat digunakan untuk mencapai pH sampo dan pH stabilitas ekstrak yang baik, yaitu 5-9. Kombinasi senyawa turunan hidroksi benzoat digunakan sebagai pengawet karena mempunyai kisaran pH dan spektrum antimikroba yang luas. Untuk meningkatkan kelarutan metil dan propil paraben, digunakan propilen glikol dengan konsentrasi 5%. Parfum yang digunakan dalam sampo ini adalah parfum frangi pani yang tidak larut atau bercampur sehingga perlu ditambahkan surfaktan sebanyak jumlah parfum yang digunakan untuk menghasilkan sediaan sampo yang jernih dan stabil. Salah satu surfaktan yang banyak digunakan dalam sediaan sampo adalah PEG-40 hydrogenated castor oil yang stabil dalam pembawa air.
Pemeriksaan bahan aktif
Pada tahap awal pembuatan sampo dilakukan pemeriksaan bahan baku. Hasil pemeriksaan bahan aktif (apigenin dalam ekstrak bunga chamomile) disajikan pada Tabel 2. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, ekstrak bunga chamomile dapat digunakan dalam penelitian pembuatan sampo. Hasil pemeriksaan bahan aktif apigenin dalam ekstrak bunga chamomile secara kromatografi lapis tipis (KLT) disajikan pada Gambar 4 berikut:
Gambar 4. Kromatogram ekstrak bunga chamomile dengan fase gerak toluen-kloroform-aseton ( 8-5-7 )
Pemeriksaan bahan tambahan.
Hasil pemeriksaan bahan tambahan yang meliputi hidroksi propil metil selulosa (Methocel® F4M), natrium lauroil sarkosinat, dinatrium EDTA, asam sitrat, metil paraben, propil paraben, propilen glikol, PEG-40-hydrogenated castor oil menunjukkan bahwa bahan-bahan tambahan ini memenuhi syarat Evaluasi sediaan. Berdasarkan data hasil pengukuran viskositas dan homogenitas dispersi Methocel® F4M dengan konsentrasi 0,5%; 1%; 1,5%; 2%; 2,5%, dapat disimpulkan bahwa waktu dan kecepatan pengadukan yang optimal adalah 60 menit dan 100 rpm. Homogenitas sediaan sampo yang optimal yaitu jernih, homogen, dan tidak berbusa, dihasilkan pada kecepatan homogenisasi 1000 rpm selama 10 menit.
Pengamatan organoleptik
Hasil pengamatan organoleptik sediaan sampo ekstrak bunga chamomile formula I sampai dengan formula VI menunjukkan bahwa semua formula praktis stabil selama 6 minggu penyimpanan pada suhu kamar (28–30oC), 40oC, dan dingin (6–7oC), kecuali formula VI yang pada minggu ke-3 sampai minggu ke-6 terjadi kekeruhan pada penyimpanan suhu kamar (28–30oC) dan 40oC. Parameter sediaan cair yang stabil secara umum adalah tidak mengalami pemisahan, tidak terbentuk endapan dan gumpalan, serta tidak mengalami perubahan warna dan bau.
Pengukuran viskositas
Hasil pengukuran viskositas menunjukkan, semakin besar konsentrasi hidroksi propil metil selulosa (Methocel® F4M) semakin meningkat viskositas sediaan. Peningkatan suhu diketahui menurunkan viskositas sediaan dan penurunan suhu meningkatkan viskositas sediaan. Pengukuran viskositas sampo ekstrak bunga chamomile formula V (konsentrasi Methocel® F4M 2%) dibandingkan dengan sediaan sampo sejenis di pasaran menunjukkan sediaan formula V memiliki viskositas 2080 cPs, mendekati viskositas sampo pembanding, yaitu 2810 cPs. Berdasarkan rheogram sampo ekstrak bunga chamomile, didapatkan sifat alir sediaan sampo ekstrak bunga chamomile mengikuti aliran pseudoplastis, yaitu viskositas menurun dengan peningkatan kecepatan geser dan kurva melewati titik (0,0) atau rate of shear yang terendah. Hal ini sesuai dengan sifat alir bahan pengental hidroksi propil metil selulosa (Methocel® F4M) yang mengikuti sifat alir pseudoplastis.
Pengukuran bobot jenis
Berdasarkan pemeriksaan bobot jenis, semua formula sampo ekstrak bunga chamomile memenuhi persyaratan bobot jenis yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia untuk sediaan sampo, yaitu minimal 1,02. Pengukuran bobot jenis dilakukan sebagai uji pendahuluan pengukuran tegangan permukaan. Tegangan permukaan dipengaruhi oleh surfaktan yang digunakan. Salah satu kriteria sampo yang baik adalah dapat menurunkan tegangan permukaan air dari 78 dyne/cm menjadi 40 dyne/cm pada rentang konsentrasi 0,1–0,2%, atau maksimum mempunyai tegangan permukaan 27-46 dyne/cm pada konsentrasi 1%. Tegangan permukaan dari sediaan sampo yang diteliti ini berkisar 28,98-35,25 dyne/cm.
Pengukuran tinggi busa
Pengamatan tinggi busa dilakukan segera setelah pengocokan dan 5 menit kemudian. Hal ini diperlukan karena sampo, karena tinggi busa tidak menunjukkan kemampuan dalam membersihkan. Hal ini lebih terkait pada persepsi psikologis dan estetika yang disukai oleh konsumen. Parameter tinggi busa sangat tergantung pada surfaktan yang digunakan, kesadahan air, suhu ruang saat pengukuran, waktu pendiaman, dan konsentrasi hidroksi propil metil selulosa (Methocel® F4M) dalam formula sampo, yang juga berfungsi sebagai penstabil busa.
Pengukuran pH
Berdasarkan hasil pengamatan, terjadi perubahan pH pada sediaan sampo ekstrak bunga chamomile setelah 6 minggu penyimpanan. Meskipun demikian, perubahan tersebut masih berada di dalam batasan persyaratan pH sampo (5,0–9,0) dan pH stabilitas ekstrak bunga chamomile (5,5–6,5). Keasaman (pH) sediaan yang diamati selama 6 minggu berkisar antara 6,15–6,47. Pada proses pembuatan sampo ekstrak bunga chamomile ditambahkan asam sitrat untuk menurunkan pH sediaan yang terlalu basa sehingga pH-nya sesuai dengan persyaratan pH sampo dan pH stabilitas ekstrak bunga chamomile.pengamatan tinggi busa 5 menit setelah terbentuknya busa menunjukkan stabilitas busa yang terbentuk. Tinggi dan stabilitas busa sediaan sampo dalam air suling adalah 0,85–3,80 cm. Sementara itu, tinggi dan stabilitas busa dalam air sadah adalah 0,75–3,70 cm. Hasil pengukuran tinggi busa mencerminkan kemampuan suatu deterjen untuk menghasilkan busa. Pengukuran tinggi busa merupakan salah satu cara untuk pengendalian mutu suatu produk deterjen agar sediaan memiliki kemampuan yang sesuai dalam menghasilkan busa. Tidak ada syarat tinggi busa minimum atau maksimum untuk suatu sediaan.
Sebum juga mempengaruhi rambut. Di bawah ini gambar gambar rambut yang tanpa sebum dan dengan sebum.
Formula yang ada di Pasaran
1. Shampoo Pantene Pro V
Water
Sodium Laureth Sulfate
Sodium Lauryl Sulfate
Sodium Chloride
Dimethicone
Glycol Distearate
Cocamidopropyl Betaine
Fragrance
Sodium Citrate
Cocamide MEA
Sodium Xylenesulfonate
Citric Acid
Guar Hydroxypropyltrimonium Chloride
Sodium Benzoate
Tetrasodium EDTA
Polyquaternium-76
Panthenol
Panthenyl Ethyl Ether
Hydrochloric Acid
Methylchloroisothiazolinone
Methylisothiazolinone
2. Formula Lifebuoy
Water
Myristic Acid
Lauric Acid
Potassium Hydroxide
Potassium Chloride
Sodium Laureth Sulfate
Palmitic Acid
Perfume
Glycol Distearate
Cocamidopropyl Betaine
Glycerin
Hydroxypropyl Methylcellulose
Helianthus Annuus ( sunflower) seed oil
Sodium Chloride
Tetrasodium EDTA
BHT
Pentasodium Pentetate
Etidronic Acid
Glyceril Laurate
Capric Acid
Triclocarbon
Citric Acid
Sodium Benzoate
Methylisothiazolinone
Terpineol
Thymol
PEG-40 Hydrogenated Castor Oil
Sodium Hidroxide
Trisodium NTA
Curcuma romatica Root Oil
Trideceth-9
Prunus Persica ( Peach) Juice
Prunus Amygdalus Dulcis ( sweet almond) oil
Dried Cream
Xanthan Gum
Lavandula
Angustifolia ( lavender)
Dari produk shampo di atas kedua shampo sudah memakai bahan bahan formula yang sesuai. Hanya ada perbedaan pada beberapa bahan tambahan yang digunakan untuk memberi kharakteristik tersendiri untuk setiap produk.
Daftar Pustaka
1. Barel Q, Paye M., dan Howard I. Maibach.2001. Handbook of Cosmetic Science and Technology. New York : Marcel Dekker, Inc.
2. Faizatun, Kartiningsih dan Liliyana.2008. Formulasi Sediaan Sampo Ekstrak Bunga Chamomile dengan Hidroksi Propil Metil Selulosa sebagai Pengental. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. 6(1) : 1693-1831.
3. Mainkar R. Dan Jolly I. 2001. Formulation of Natural Shampoos. International Journal of Cosmetic Science.69 (2001) : 59-62.
4.Kumar A. dan Mali R. 2010. Evaluation Of Prepared Shampoo Formulations And To Compare Formulated Shampoo With Marketed Shampoos. International Journal of pharmaceutical sciences review and research 3 (1):0976-044X.
Kajian Kasus diabetes mellitus
PENYAKIT DIABETES MELLITUS
I. KASUS
Seorang pria 58 tahun dengan riwayat diabetes mellitus tipe 2 selama 13 tahun yang lalu mengunjungi klinik karena peningkatan pembengkakan di kaki nya. Pembengkakan mulai sekitar 6 bulan sebelumnya dan memburuk selama 6 minggu terakhir. Pasien menyangkal demam, menggigil, arthralgia, pembengkakan sendi, atau ruam kulit. Selain itu, ia melaporkan tidak ada perubahan visual, epistaksis, hemoptisis, atau batuk. Dia tidak memiliki gejala nyeri pinggang, hematuria, disuria. Riwayat medis pasien antara lain hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, dan usus buntu. Obatnya yang digunakan selama ini yaitu glyburide 10 mg sehari, amlodipine 10 mg setiap hari (rentang dosis 2,5-10 mg), ibuprofen sesekali. Dia tidak menyalahgunakan alkohol, tembakau, atau obat-obatan terlarang. Tidak ada riwayat keluarga penyakit ginjal yang diketahui, meskipun beberapa anggota keluarganya memiliki diabetes mellitus dan penyakit jantung.
II. HASIL PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan fisik mengungkapkan pasien sehat tanpa distres akut
2. Tekanan darah pasien tinggi yaitu 152/93 mm Hg
3. Denyut jantungnya adalah 75 bpm
4. Laju pernapasan adalah 14 napas / menit
5. Suhunya yaitu 37,3 ° C (99,1 ° F)
6. Pemeriksaan kepala dan leher adalah normal, dengan tidak ada bukti konjungtivitis, limfadenopati, tiromegali, atau ulserasi hidung
7. Pemeriksaan fundus penting untuk preproliferative diabetes retinopati. Paru-paru jelas, tetapi pemeriksaan hati yang luar biasa untuk S4 gallop
8. Ekstremitas lebih rendah memiliki 3 + pitting edema hingga pertengahan betis.
9. Tidak ada kulit ruam, petechiae, dan purpura yang hadir.
10. Pemeriksaan neurologis adalah noncontributory, tanpa temuan perubahan motorik atau sensorik.
11. Rontgen dada pasien menunjukkan tidak infiltrasi, efusi, atau adenopati. Berdasarkan temuan edema, proteinuria tinggi, hipoalbuminemia, dan lipiduria, sindrom nefrotik diduga.
12. Work-up untuk penyebab sekunder atau sistemik penyakit ginjalnya mengungkapkan tidak ada antinuclear atau anti-double-stranded antibodi, tingkat faktor komplemen dan reumatoid normal, serologi negatif untuk hepatitis B dan C, dan tidak ada cryoglobulins serum.
13. Analisa serum dan protein urin dan immunoelectrophoresis mengungkapkan tidak ada imunoglobulin atau light chain bebas
14. Koleksi urin 24 jam menegaskan proteinuria nefrotik (4.35 gram protein).
15. Biopsi ginjal yaitu evaluasi mikroskopis cahaya jaringan ginjal (Gambar 1) penting untuk nodul mesangial (yaitu, Kimmelstiel-Wilson nodul), penebalan difus loop kapiler, dan glomerulosklerosis.
III. ANALISIS KASUS
1. Analisis Subjektif
- Pembengkakan di kaki
2. Analisis Objektif
- Hipertensi Stage 1 (TD : 152/93 mm Hg, normal untuk pasien DM = 130/80 mmHg)
- HBA1C meningkat ( 7,1 mg/dl, normal< 7 mg/dl)
- Hiperkolesterolemia (255 mg/dL,normal < 200 mg/dL)
- Penyakit ginjal (protein urin 4,35 g/dl)
- Anemia (Hematokrit : 37,2 % (<40 %))
3. Analisis Problem
- 13 tahun lalu hingga sekarang : Diabetes Mellitus tipe 2
- Hipertensi
- Usus Buntu
4. Terapi
- Glyburide 10 mg 1 kali sehari
- Amlodipine 10 mg 1 kali sehari (rentang dosis 2,5-10 mg)
- Ibuprofen sesekali.
IV. IDENTIFIKASI PENYEBAB PENYAKIT
Penyebab paling mungkin dari penyakit ginjal pada pasien tersebut adalah diabetik nefropati. Biopsi ginjal tidak selalu diperlukan untuk mendiagnosa nefropati diabetik. Dengan tidak adanya temuan klinis yang relevan pada pasien (misalnya, ruam, kelainan sendi, hemoptisis) atau parameter laboratorium (misalnya, kehadiran antibodi antinuklear, tingkat komplemen yang rendah, eritrosit gips) sugestif dari penyakit sistemik, pemeriksaan jaringan ginjal pada pasien diabetes dengan retinopati, proteinuria, dan insufisiensi ginjal
V. EPIDEMIOLOGI
Nefropati diabetik adalah penyebab utama penyakit ginjal di Amerika Serikat. Kejadian kumulatif nefropati (proteinuria) pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 1 atau tipe 2 adalah sekitar 40%.
VI. PATOLOGI
Karakteristik perubahan patologis nefropati diabetik dapat dibagi menjadi 5 tahap. Pada onset diabetes mellitus, histologi ginjal pasien menunjukkan tidak ada kelainan. Dalam waktu 2 sampai 3 tahun (tahap I), glomerular basement terjadi penebalan. Setelah 3-8 tahun (tahap II), glomerular basement terjadi penebalan berlanjut dan mesangial matrix widening berkembang. Nefropati diabetik baru jadi (tahap III) dicatat pada 8 sampai 15 tahun dan terbukti secara klinis dengan onset mikroalbuminuria (30-300 mg / 24 jam, atau > 20 mg / menit). Histologi ginjal mengungkapkan membran kapilar glomerular basement menebal, pelebaran mesangial, dan glomerulosklerosis intracapillary (yaitu pembentukan glomerular scar). Nefropati diabetik terbuka (tahap IV), terkait dengan macroalbuminuria (> 300 mg / 24 jam) dan disfungsi ginjal, terjadi setelah 15 sampai 29 tahun. Seperti yang terlihat pada kasus pasien, membran basement glomerulus menebal dan mesangial melebar, nodul Kimmelstiel-Wilson, hialinisasi arteriol, dan glomerulosklerosis yang tercatat pada biopsi ginjal. Selain itu, perubahan struktur pembuluh darah (hyalinosis) dan tubulointerstitium (atrofi tubular dan fibrosis interstitial) dicatat. Stadium akhir gagal ginjal (tahap V) dari diabetes mellitus terjadi setelah 20 sampai 30 tahun dan ditandai oleh penutupan kapiler glomerulus dan sklerotik dan hyalinized glomeruli (ginjal bekas luka).
VII ANALISIS DRUG RELATED PROBLEM
DRP Penyelesaian
1. Tidak ada indikasi untuk obat :-
2. Indikasi untuk tetapi obat tidak diresepkan
A. Terapi peningkat kontrol glikemik untuk memperlambat perkembangan nefropati diabetik ke stadium akhir penyakit ginjal
B. Terapi penurun lipid
C. Terapi anemia
D. Pembengkakan di kaki
Solusi
#Dibutuhkan terapi Insulin (insulin glargine 18 unit setiap jam tidur dan insulin lispro 5 unit sebelum makan)
#Dibutuhkan terapi antihiperlipid dengan statin yaitu simvastatin 10 mg pada malam hari.
#Ditambahkan suplemen erythropoietin dan zat besi
#Diberikan diuretik untuk membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh dengan membuang cairan
3. Salah rejimen obat
-Glyburide tidak diberikan pada penderita gangguan hati, ginjal dan tiroid.
Solusi
#Untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal masih dapat digunakan glikuidon, gliklazida, atau tolbutamida yang kerjanya singkat, misal tolbutamid 500 mg sehari sekali.
4. Dosis Berlebih / Over dose : -
5. Dosis kurang : -
6. Adverse Drug Reaction/ alergi obat :-
7. Interaksi Obat
-Ibuprofen dan amlodipin
Solusi :
# Dilakukan penyesuaian dosis ibuprofen/digunakan seminimal mungkin saat dibutuhkan saja.
8. Pasien tidak menerima obat yang diresepkan :-
9. Hilangnya Pemantauan Rutin
-Tidak dilakukan skrining pasien dengan diabetes mellitus / te mikroalbuminuria tahunan
-Tidak dilakukan krining pasien dengan diabetes mellitus proteinuria
Solusi
# Dilakukan krining pasien dengan diabetes mellitus / tes mikroalbuminuria tahunan
#Dilakukan skrining pasien dengan diabetes mellitus proteinuria
VIII. RENCANA PENGOBATAN
1. Terapi Non Farmakologi
a. Diet yang baik karena merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak, sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut:
• Karbohidrat : 60-70%
• Protein : 10-15%
• Lemak : 20-25%
b. Pada kasus ini tidak diketahui berat badan dari pasien sehingga tidak dapat diketahui apakah pasien memiliki berat badan berlebih atau tidak. Apabila pasien memiliki berat badan berlebih, maka disarankan untuk melakukan penurunan berat badan. Penurunan berat badan terbukti dapat mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki respons sel-sel β terhadap stimulus glukosa. Dalam salah satu penelitian dilaporkan bahwa penurunan 5% berat badan dap mengurangi kadar HbA1c sebanyak 0,6% (HbA1c adalah salah satu parameter status DM), dan setiap kilogram penurunan berat badan dihubungkan dengan 3-4 bulan tambahan waktu harapan hidup.
c. Selain jumlah kalori, pilihan jenis bahan makanan untuk pasien juga sebaiknya diperhatikan. Masukan kolesterol tetap diperlukan, namun jangan melebihi 300 mg per hari. Sumber lemak diupayakan yang berasal dari bahan nabati, yang mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh dibandingkan asam lemak jenuh. Sebagai sumber protein sebaiknya diperoleh dari ikan, ayam (terutama daging dada), tahu dan tempe, karena tidak banyak mengandung lemak.
d. Menambah konsumsi serat untuk pasien, diusahakan paling tidak 25 g per hari. Disamping akan menolong menghambat penyerapan lemak, makanan berserat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga dapat membantu mengatasi rasa lapar yang kerap dirasakan penderita DM tanpa risiko masukan kalori yang berlebih. Disamping itu makanan sumber serat seperti sayur dan buah-buahan segar umumnya kaya akan vitamin dan mineral.
e. Membatasi konsumsi protein diet moderat (0,6-0,8 gram / kg sehari) untuk memperlambat penurunan fungsi ginjal pada pasien dengan diabetes nephropathy
2. Terapi Farmakologi
a. Butuh terapi peningkat kontrol glikemik untuk memperlambat perkembangan nefropati diabetik ke stadium akhir penyakit ginjal
Control diabetes dan komplikasinya mengungkapkan bahwa kontrol glikemik yang ketat, diukur sebagai rata-rata hemoglobin A1c dari 7% (versus control konvensional dengan rata-rata hemoglobin A1c 9%). Kontrol glikemik yang ketat dikaitkan dengan penurunan dalam pengembangan mikro dan macroalbuminuria dalam studi kohort primer dan kohort sekunder. Dilakukan terapi insulin untuk kontrol glikemik yang lebih baik. Insulin mempunyai peran yang sangat penting dan luas dalam pengendalian metabolisme. Insulin yang disekresikan oleh sel-sel β pankreas akan langsung diinfusikan ke dalam hati melalui vena porta, yang kemudian akan didistribusikan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Gangguan fungsi ginjal yang berat butuh insulin untuk mengurangi kerja ginjal. Insulin yang dipakai yaitu insulin glargine 18 unit setiap jam tidur dan insulin lispro 5 unit sebelum makan.
b. Butuh terapi antihipertensi yang tepat
Kontrol agresif tekanan darah juga memainkan peran penting dalam mengurangi perkembangan diabetes nefropati. Menurunkan tekanan darah pada level di bawah 130/80 mmHg dapat membantu untuk menumpulkan cedera glomerulus dengan mengurangi transmisi tekanan arteri sistemik ke glomerulus. Normalnya untuk penderita diabetes tekanan darahnya yaitu 130/80 mmHg. Penggunaan angiotensin-converting enzyme inhibitor dan antagonis reseptor angiotensin di pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 jelas memperlambat perkembangan gagal ginjal stadium akhir pada pasien dengan nefropati diabetik melalui beberapa efek, antara lain: mengurangi tekanan kapiler glomerulus, menyebabkan antagonisme efek langsung dari angiotensin II pada pengembangan glomerulosklerosis dan fibrosis interstitial, dan berpotensi meningkatkan efek menguntungkan dari oksida nitrat pada ginjal. Pasien memiliki tekanan darah 152/93 mmHg sehingga termasuk hipertensi stage 1. Pengobatan yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan antihipertensi golongan ACE inhibitor karena golongan obat ini merupakan terapi yang digunakan untuk pasien hipertensi. Obat yang dipilih yaitu Captopril 50 mg 3 kali sehari. Penggunaan amlodipin (golongan CCB) dihentikan.
c. Penggunaan statin penurun lipid penghambatan reduktase aldosa dan bentuk akhir glikosilasi.
Dilakukan penambahan agen ntuk menurunkan kolesterol total karena pasien mengalami hiperkolesterolemia. Simvastatin yang digunakan yaitu 10 mg diminum pada malam hari. Bila kadar kolesterol total masih tinggi bisa dinaikkan hingga dosis maksimum yaitu 40 mg/hari.
d. Mengganti gliburide dengan golongan lain
Gliburide merupakan obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea merupakan obat pilihan (drug of choice) untuk penderita diabetes dewasa baru dengan berat badan normal dan kurang serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya. Senyawa-senyawa sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penderita gangguan hati, ginjal dan tiroid. Selain itu, glyburide berinteraksi dengan dengan insulin. Obat yang masih dapat digunakan untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang termasuk golongan sulfonilurea yaitu glikuidon, gliklazida, atau tolbutamida yang kerjanya singkat. Obat yang disarankan yaitu tolbutamid 500 mg sehari sekali.
e. Dilakukan penyesuaian dan penggunaan yang tepat Ibuprofen
NSAID meningkatkan rata-rata tekanan darah 5 mmHg. Ibuprofen merupakan salah satu obat yang menghasilkan peningkatan besar. Ada sedikit bukti bahwa interaksi klinis yang signifikan terjadi pada kebanyakan pasien yang memakai Calcium Channel Blocker. Penggunaan hati-hati telah direkomendasikan. Ia telah mengemukakan bahwa penggunaan NSAID harus seminimum mungkin pada pasien dengan hipertensi. Efek mungkin lebih besar pada orang tua dan pada mereka dengan tekanan darah yang relatif tinggi, serta pada mereka dengan asupan garam yang tinggi. Sehingga, penggunaan ibuprofen pada pasien ini harus diminimalkan dengan cara penggunaan jika diperlukan dan dosis disesuaikan.
f. Ditambahkan diuretik untuk mengatasi pembengkakan
Diberikan diuretik untuk membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh dengan membuang cairan sehingga pembengkakan dapat diatasi.
g. Ditambahkan terapi untuk mengatasi anemia
Ditambahkan suplemen erythropoietin dan zat besi
IX. KIE
a. Berhenti merokok untuk mengurangi perkembangan nefropati diabetik.
b. Mengurangi jumlah konsumsi yang banyak mengandung lemak dan kolesterol serta protein.
c. Mengurangi makan garam menjadi < 2,3 natrium atau <6 g NaCl sehari
d. Giat melakukan aktivitas fisik ringan seperti aerobik untuk mengurangi faktor resiko kardiovaskular
e. Setelah mengonsumsi obat penurun tekanan darah dan penurun gula darah seperti, hindari melakukan aktivitas berat. Disarankan untuk istirahat.
f. Menyarankan meminum obat dengan rutin
Ketidakpatuhan pasien merupakan salah satu penyebab kegagalan terapi, karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman pasien tentang obat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan penggunaan obat untuk terapinya
g. Menghindari stress yang berlebihan
Stress dapat meningkatkan kadar gula darah dan tekanan darah. Berasal dari kondisi fisik, misalnya nyeri, kurang tidur, pekerjaan, pengaruh obat obatan dan lainnya.
h. Disarankan untuk melakukan skrining pasien dengan diabetes mellitus / tes mikroalbuminuria tahunan
i. Disarankan untuk melakukan skrining pasien dengan diabetes mellitus proteinuria
j. Disarankan untuk minum susu yang kaya akan kalsium dan vitamin D.
X. INFORMASI OBAT
a. Kaptopril
Obat ini diminum tiga kali sehari satu tablet 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan pagi,siang, dan sore.
Tidak boleh digunakan bersamaan dengan obat antasida karena dapat mengurangi absorbsi dari obat ini dan tidak boleh digunakan bersamaan dengan obat NSAID yaitu Na diklofenak karena akan mengurangi efek dari obat kaptopril ini dan dapat menambah resiko hiperkalemia.
Jangan gunakan suplemen kalium atau pengganti garam tanpa konsultasi resep. Dapat menyebabkan pusing, pingsan (gunakan hati-hati saat mengemudi atau terlibat dalam tugas-tugas yang membutuhkan kewaspadaan sampai respons terhadap obat diketahui), hipotensi postural (berhati-hati ketika naik dari berbaring atau posisi duduk atau naik tangga), atau mual, muntah, sakit perut, mulut kering, atau kehilangan nafsu makan sementara (dapat dikurangi dengan sering makan makanan kecil, mengisap pelega tenggorokan dapat membantu atau mengunyah permen karet dapat membantu).
b. Tolbutamid
Obat ini dapat diminum dua kali sehari satu tablet setelah makan yaitu pada makan pagi dan sore.
Efek samping obat ini dapat menyebabkan hypoglykemi, oleh sebab itu harus dipantau kadar gula darah pasien dan setelah minum obat ini diusahakan tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat.
Hindari minum alkohol.
Pasien mungkin akan lebih sensitif terhadap sinar matahari maka gunakan sunscreen, pakaian pelindung dan kacamata, dan menghindari sinar matahari langsung. Efek samping selama minggu pertama terapi (sakit kepala, mual, diare, sembelit, anoreksia) dan efek samping yang parah atau berkelanjutan antra lain muntah atau gejala seperti flu, ruam kulit, mudah memar atau berdarah, atau perubahan warna urin atau feses
c. Simvastatin
Simvastatin merupakan obat yang menurunkan kadar kolesterol (hipolidemik)
Secara invivo simvastatin akan dihidrolisa menjadi metabolit aktif. Mekanisme kerja dari metabolit aktif tersebut adalah dengan cara menghambat kerja 3-Hidroksi-3-metilglutaril koenzim A reduktase (HMG Co-A reduktase), dimana enzim ini mengkatalisa perubahan HMG Co-A menjadi asam mevalonat yang merupakan langkah awal dari sintesa kolesterol.
Kontraindikasi dengan pasien yang hipersensitif terhadap simvastatin atau komponen obat, penyakit hati aktif atau peningkatan transaminase serum yang menetap yang tidak jelas penyebabnya
Efek samping adalah abdominal pain, konstipasi, flatulens, astenia, sakit kepala, miopati, rabdomiolisis. Pada kasus tertentu terjadi angioneurotik edema.
Efek samping lain yang pernah dilaporkan pada golongan obat ini :
- Neurologi : disfungsi saraf cranial tertentu, tremor, pusing, vertigo, hilang ingatan, parestesia, neuropati perifer, kelumpuhan saraf periferal.
- Reaksi hipersensitif:anafilaksis, angioedema, trombositopenia, leukopenia, anemia hemolitik.
- Gastrointestinal : anoreksia, muntah.
- Kulit : alopecia, pruritus.
- Reproduksi : ginekomastia, kehilangan libido, disfungsi ereksi.
- Mata : mempercepat katarak, optalmoplegia.
DAFTAR PUSTAKA
1. Baxter, K. 2010. Stockley’s Drug Interactions Pocket Companion 2010. London : Pharmaceiutical Press.
2. Cippole, R. J, Strand, L . M, Morley, P. C. 1998. Pharmaceutical Care Practice. New York : McGraw-Hill.
3. Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C, Matzke, G. R., Wells, B. G., Posey, L. M. 2008. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. Seventh Edition. New York : McGraw-Hill.
4. Perazella, M. A. 2002. A 58-Year-Old Man with Diabetes Mellitus and Nephrotic Syndrome. Hospital Physician. 39-42.
I. KASUS
Seorang pria 58 tahun dengan riwayat diabetes mellitus tipe 2 selama 13 tahun yang lalu mengunjungi klinik karena peningkatan pembengkakan di kaki nya. Pembengkakan mulai sekitar 6 bulan sebelumnya dan memburuk selama 6 minggu terakhir. Pasien menyangkal demam, menggigil, arthralgia, pembengkakan sendi, atau ruam kulit. Selain itu, ia melaporkan tidak ada perubahan visual, epistaksis, hemoptisis, atau batuk. Dia tidak memiliki gejala nyeri pinggang, hematuria, disuria. Riwayat medis pasien antara lain hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, dan usus buntu. Obatnya yang digunakan selama ini yaitu glyburide 10 mg sehari, amlodipine 10 mg setiap hari (rentang dosis 2,5-10 mg), ibuprofen sesekali. Dia tidak menyalahgunakan alkohol, tembakau, atau obat-obatan terlarang. Tidak ada riwayat keluarga penyakit ginjal yang diketahui, meskipun beberapa anggota keluarganya memiliki diabetes mellitus dan penyakit jantung.
II. HASIL PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan fisik mengungkapkan pasien sehat tanpa distres akut
2. Tekanan darah pasien tinggi yaitu 152/93 mm Hg
3. Denyut jantungnya adalah 75 bpm
4. Laju pernapasan adalah 14 napas / menit
5. Suhunya yaitu 37,3 ° C (99,1 ° F)
6. Pemeriksaan kepala dan leher adalah normal, dengan tidak ada bukti konjungtivitis, limfadenopati, tiromegali, atau ulserasi hidung
7. Pemeriksaan fundus penting untuk preproliferative diabetes retinopati. Paru-paru jelas, tetapi pemeriksaan hati yang luar biasa untuk S4 gallop
8. Ekstremitas lebih rendah memiliki 3 + pitting edema hingga pertengahan betis.
9. Tidak ada kulit ruam, petechiae, dan purpura yang hadir.
10. Pemeriksaan neurologis adalah noncontributory, tanpa temuan perubahan motorik atau sensorik.
11. Rontgen dada pasien menunjukkan tidak infiltrasi, efusi, atau adenopati. Berdasarkan temuan edema, proteinuria tinggi, hipoalbuminemia, dan lipiduria, sindrom nefrotik diduga.
12. Work-up untuk penyebab sekunder atau sistemik penyakit ginjalnya mengungkapkan tidak ada antinuclear atau anti-double-stranded antibodi, tingkat faktor komplemen dan reumatoid normal, serologi negatif untuk hepatitis B dan C, dan tidak ada cryoglobulins serum.
13. Analisa serum dan protein urin dan immunoelectrophoresis mengungkapkan tidak ada imunoglobulin atau light chain bebas
14. Koleksi urin 24 jam menegaskan proteinuria nefrotik (4.35 gram protein).
15. Biopsi ginjal yaitu evaluasi mikroskopis cahaya jaringan ginjal (Gambar 1) penting untuk nodul mesangial (yaitu, Kimmelstiel-Wilson nodul), penebalan difus loop kapiler, dan glomerulosklerosis.
III. ANALISIS KASUS
1. Analisis Subjektif
- Pembengkakan di kaki
2. Analisis Objektif
- Hipertensi Stage 1 (TD : 152/93 mm Hg, normal untuk pasien DM = 130/80 mmHg)
- HBA1C meningkat ( 7,1 mg/dl, normal< 7 mg/dl)
- Hiperkolesterolemia (255 mg/dL,normal < 200 mg/dL)
- Penyakit ginjal (protein urin 4,35 g/dl)
- Anemia (Hematokrit : 37,2 % (<40 %))
3. Analisis Problem
- 13 tahun lalu hingga sekarang : Diabetes Mellitus tipe 2
- Hipertensi
- Usus Buntu
4. Terapi
- Glyburide 10 mg 1 kali sehari
- Amlodipine 10 mg 1 kali sehari (rentang dosis 2,5-10 mg)
- Ibuprofen sesekali.
IV. IDENTIFIKASI PENYEBAB PENYAKIT
Penyebab paling mungkin dari penyakit ginjal pada pasien tersebut adalah diabetik nefropati. Biopsi ginjal tidak selalu diperlukan untuk mendiagnosa nefropati diabetik. Dengan tidak adanya temuan klinis yang relevan pada pasien (misalnya, ruam, kelainan sendi, hemoptisis) atau parameter laboratorium (misalnya, kehadiran antibodi antinuklear, tingkat komplemen yang rendah, eritrosit gips) sugestif dari penyakit sistemik, pemeriksaan jaringan ginjal pada pasien diabetes dengan retinopati, proteinuria, dan insufisiensi ginjal
V. EPIDEMIOLOGI
Nefropati diabetik adalah penyebab utama penyakit ginjal di Amerika Serikat. Kejadian kumulatif nefropati (proteinuria) pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 1 atau tipe 2 adalah sekitar 40%.
VI. PATOLOGI
Karakteristik perubahan patologis nefropati diabetik dapat dibagi menjadi 5 tahap. Pada onset diabetes mellitus, histologi ginjal pasien menunjukkan tidak ada kelainan. Dalam waktu 2 sampai 3 tahun (tahap I), glomerular basement terjadi penebalan. Setelah 3-8 tahun (tahap II), glomerular basement terjadi penebalan berlanjut dan mesangial matrix widening berkembang. Nefropati diabetik baru jadi (tahap III) dicatat pada 8 sampai 15 tahun dan terbukti secara klinis dengan onset mikroalbuminuria (30-300 mg / 24 jam, atau > 20 mg / menit). Histologi ginjal mengungkapkan membran kapilar glomerular basement menebal, pelebaran mesangial, dan glomerulosklerosis intracapillary (yaitu pembentukan glomerular scar). Nefropati diabetik terbuka (tahap IV), terkait dengan macroalbuminuria (> 300 mg / 24 jam) dan disfungsi ginjal, terjadi setelah 15 sampai 29 tahun. Seperti yang terlihat pada kasus pasien, membran basement glomerulus menebal dan mesangial melebar, nodul Kimmelstiel-Wilson, hialinisasi arteriol, dan glomerulosklerosis yang tercatat pada biopsi ginjal. Selain itu, perubahan struktur pembuluh darah (hyalinosis) dan tubulointerstitium (atrofi tubular dan fibrosis interstitial) dicatat. Stadium akhir gagal ginjal (tahap V) dari diabetes mellitus terjadi setelah 20 sampai 30 tahun dan ditandai oleh penutupan kapiler glomerulus dan sklerotik dan hyalinized glomeruli (ginjal bekas luka).
VII ANALISIS DRUG RELATED PROBLEM
DRP Penyelesaian
1. Tidak ada indikasi untuk obat :-
2. Indikasi untuk tetapi obat tidak diresepkan
A. Terapi peningkat kontrol glikemik untuk memperlambat perkembangan nefropati diabetik ke stadium akhir penyakit ginjal
B. Terapi penurun lipid
C. Terapi anemia
D. Pembengkakan di kaki
Solusi
#Dibutuhkan terapi Insulin (insulin glargine 18 unit setiap jam tidur dan insulin lispro 5 unit sebelum makan)
#Dibutuhkan terapi antihiperlipid dengan statin yaitu simvastatin 10 mg pada malam hari.
#Ditambahkan suplemen erythropoietin dan zat besi
#Diberikan diuretik untuk membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh dengan membuang cairan
3. Salah rejimen obat
-Glyburide tidak diberikan pada penderita gangguan hati, ginjal dan tiroid.
Solusi
#Untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal masih dapat digunakan glikuidon, gliklazida, atau tolbutamida yang kerjanya singkat, misal tolbutamid 500 mg sehari sekali.
4. Dosis Berlebih / Over dose : -
5. Dosis kurang : -
6. Adverse Drug Reaction/ alergi obat :-
7. Interaksi Obat
-Ibuprofen dan amlodipin
Solusi :
# Dilakukan penyesuaian dosis ibuprofen/digunakan seminimal mungkin saat dibutuhkan saja.
8. Pasien tidak menerima obat yang diresepkan :-
9. Hilangnya Pemantauan Rutin
-Tidak dilakukan skrining pasien dengan diabetes mellitus / te mikroalbuminuria tahunan
-Tidak dilakukan krining pasien dengan diabetes mellitus proteinuria
Solusi
# Dilakukan krining pasien dengan diabetes mellitus / tes mikroalbuminuria tahunan
#Dilakukan skrining pasien dengan diabetes mellitus proteinuria
VIII. RENCANA PENGOBATAN
1. Terapi Non Farmakologi
a. Diet yang baik karena merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak, sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut:
• Karbohidrat : 60-70%
• Protein : 10-15%
• Lemak : 20-25%
b. Pada kasus ini tidak diketahui berat badan dari pasien sehingga tidak dapat diketahui apakah pasien memiliki berat badan berlebih atau tidak. Apabila pasien memiliki berat badan berlebih, maka disarankan untuk melakukan penurunan berat badan. Penurunan berat badan terbukti dapat mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki respons sel-sel β terhadap stimulus glukosa. Dalam salah satu penelitian dilaporkan bahwa penurunan 5% berat badan dap mengurangi kadar HbA1c sebanyak 0,6% (HbA1c adalah salah satu parameter status DM), dan setiap kilogram penurunan berat badan dihubungkan dengan 3-4 bulan tambahan waktu harapan hidup.
c. Selain jumlah kalori, pilihan jenis bahan makanan untuk pasien juga sebaiknya diperhatikan. Masukan kolesterol tetap diperlukan, namun jangan melebihi 300 mg per hari. Sumber lemak diupayakan yang berasal dari bahan nabati, yang mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh dibandingkan asam lemak jenuh. Sebagai sumber protein sebaiknya diperoleh dari ikan, ayam (terutama daging dada), tahu dan tempe, karena tidak banyak mengandung lemak.
d. Menambah konsumsi serat untuk pasien, diusahakan paling tidak 25 g per hari. Disamping akan menolong menghambat penyerapan lemak, makanan berserat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga dapat membantu mengatasi rasa lapar yang kerap dirasakan penderita DM tanpa risiko masukan kalori yang berlebih. Disamping itu makanan sumber serat seperti sayur dan buah-buahan segar umumnya kaya akan vitamin dan mineral.
e. Membatasi konsumsi protein diet moderat (0,6-0,8 gram / kg sehari) untuk memperlambat penurunan fungsi ginjal pada pasien dengan diabetes nephropathy
2. Terapi Farmakologi
a. Butuh terapi peningkat kontrol glikemik untuk memperlambat perkembangan nefropati diabetik ke stadium akhir penyakit ginjal
Control diabetes dan komplikasinya mengungkapkan bahwa kontrol glikemik yang ketat, diukur sebagai rata-rata hemoglobin A1c dari 7% (versus control konvensional dengan rata-rata hemoglobin A1c 9%). Kontrol glikemik yang ketat dikaitkan dengan penurunan dalam pengembangan mikro dan macroalbuminuria dalam studi kohort primer dan kohort sekunder. Dilakukan terapi insulin untuk kontrol glikemik yang lebih baik. Insulin mempunyai peran yang sangat penting dan luas dalam pengendalian metabolisme. Insulin yang disekresikan oleh sel-sel β pankreas akan langsung diinfusikan ke dalam hati melalui vena porta, yang kemudian akan didistribusikan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Gangguan fungsi ginjal yang berat butuh insulin untuk mengurangi kerja ginjal. Insulin yang dipakai yaitu insulin glargine 18 unit setiap jam tidur dan insulin lispro 5 unit sebelum makan.
b. Butuh terapi antihipertensi yang tepat
Kontrol agresif tekanan darah juga memainkan peran penting dalam mengurangi perkembangan diabetes nefropati. Menurunkan tekanan darah pada level di bawah 130/80 mmHg dapat membantu untuk menumpulkan cedera glomerulus dengan mengurangi transmisi tekanan arteri sistemik ke glomerulus. Normalnya untuk penderita diabetes tekanan darahnya yaitu 130/80 mmHg. Penggunaan angiotensin-converting enzyme inhibitor dan antagonis reseptor angiotensin di pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 jelas memperlambat perkembangan gagal ginjal stadium akhir pada pasien dengan nefropati diabetik melalui beberapa efek, antara lain: mengurangi tekanan kapiler glomerulus, menyebabkan antagonisme efek langsung dari angiotensin II pada pengembangan glomerulosklerosis dan fibrosis interstitial, dan berpotensi meningkatkan efek menguntungkan dari oksida nitrat pada ginjal. Pasien memiliki tekanan darah 152/93 mmHg sehingga termasuk hipertensi stage 1. Pengobatan yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan antihipertensi golongan ACE inhibitor karena golongan obat ini merupakan terapi yang digunakan untuk pasien hipertensi. Obat yang dipilih yaitu Captopril 50 mg 3 kali sehari. Penggunaan amlodipin (golongan CCB) dihentikan.
c. Penggunaan statin penurun lipid penghambatan reduktase aldosa dan bentuk akhir glikosilasi.
Dilakukan penambahan agen ntuk menurunkan kolesterol total karena pasien mengalami hiperkolesterolemia. Simvastatin yang digunakan yaitu 10 mg diminum pada malam hari. Bila kadar kolesterol total masih tinggi bisa dinaikkan hingga dosis maksimum yaitu 40 mg/hari.
d. Mengganti gliburide dengan golongan lain
Gliburide merupakan obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea merupakan obat pilihan (drug of choice) untuk penderita diabetes dewasa baru dengan berat badan normal dan kurang serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya. Senyawa-senyawa sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penderita gangguan hati, ginjal dan tiroid. Selain itu, glyburide berinteraksi dengan dengan insulin. Obat yang masih dapat digunakan untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang termasuk golongan sulfonilurea yaitu glikuidon, gliklazida, atau tolbutamida yang kerjanya singkat. Obat yang disarankan yaitu tolbutamid 500 mg sehari sekali.
e. Dilakukan penyesuaian dan penggunaan yang tepat Ibuprofen
NSAID meningkatkan rata-rata tekanan darah 5 mmHg. Ibuprofen merupakan salah satu obat yang menghasilkan peningkatan besar. Ada sedikit bukti bahwa interaksi klinis yang signifikan terjadi pada kebanyakan pasien yang memakai Calcium Channel Blocker. Penggunaan hati-hati telah direkomendasikan. Ia telah mengemukakan bahwa penggunaan NSAID harus seminimum mungkin pada pasien dengan hipertensi. Efek mungkin lebih besar pada orang tua dan pada mereka dengan tekanan darah yang relatif tinggi, serta pada mereka dengan asupan garam yang tinggi. Sehingga, penggunaan ibuprofen pada pasien ini harus diminimalkan dengan cara penggunaan jika diperlukan dan dosis disesuaikan.
f. Ditambahkan diuretik untuk mengatasi pembengkakan
Diberikan diuretik untuk membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh dengan membuang cairan sehingga pembengkakan dapat diatasi.
g. Ditambahkan terapi untuk mengatasi anemia
Ditambahkan suplemen erythropoietin dan zat besi
IX. KIE
a. Berhenti merokok untuk mengurangi perkembangan nefropati diabetik.
b. Mengurangi jumlah konsumsi yang banyak mengandung lemak dan kolesterol serta protein.
c. Mengurangi makan garam menjadi < 2,3 natrium atau <6 g NaCl sehari
d. Giat melakukan aktivitas fisik ringan seperti aerobik untuk mengurangi faktor resiko kardiovaskular
e. Setelah mengonsumsi obat penurun tekanan darah dan penurun gula darah seperti, hindari melakukan aktivitas berat. Disarankan untuk istirahat.
f. Menyarankan meminum obat dengan rutin
Ketidakpatuhan pasien merupakan salah satu penyebab kegagalan terapi, karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman pasien tentang obat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan penggunaan obat untuk terapinya
g. Menghindari stress yang berlebihan
Stress dapat meningkatkan kadar gula darah dan tekanan darah. Berasal dari kondisi fisik, misalnya nyeri, kurang tidur, pekerjaan, pengaruh obat obatan dan lainnya.
h. Disarankan untuk melakukan skrining pasien dengan diabetes mellitus / tes mikroalbuminuria tahunan
i. Disarankan untuk melakukan skrining pasien dengan diabetes mellitus proteinuria
j. Disarankan untuk minum susu yang kaya akan kalsium dan vitamin D.
X. INFORMASI OBAT
a. Kaptopril
Obat ini diminum tiga kali sehari satu tablet 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan pagi,siang, dan sore.
Tidak boleh digunakan bersamaan dengan obat antasida karena dapat mengurangi absorbsi dari obat ini dan tidak boleh digunakan bersamaan dengan obat NSAID yaitu Na diklofenak karena akan mengurangi efek dari obat kaptopril ini dan dapat menambah resiko hiperkalemia.
Jangan gunakan suplemen kalium atau pengganti garam tanpa konsultasi resep. Dapat menyebabkan pusing, pingsan (gunakan hati-hati saat mengemudi atau terlibat dalam tugas-tugas yang membutuhkan kewaspadaan sampai respons terhadap obat diketahui), hipotensi postural (berhati-hati ketika naik dari berbaring atau posisi duduk atau naik tangga), atau mual, muntah, sakit perut, mulut kering, atau kehilangan nafsu makan sementara (dapat dikurangi dengan sering makan makanan kecil, mengisap pelega tenggorokan dapat membantu atau mengunyah permen karet dapat membantu).
b. Tolbutamid
Obat ini dapat diminum dua kali sehari satu tablet setelah makan yaitu pada makan pagi dan sore.
Efek samping obat ini dapat menyebabkan hypoglykemi, oleh sebab itu harus dipantau kadar gula darah pasien dan setelah minum obat ini diusahakan tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat.
Hindari minum alkohol.
Pasien mungkin akan lebih sensitif terhadap sinar matahari maka gunakan sunscreen, pakaian pelindung dan kacamata, dan menghindari sinar matahari langsung. Efek samping selama minggu pertama terapi (sakit kepala, mual, diare, sembelit, anoreksia) dan efek samping yang parah atau berkelanjutan antra lain muntah atau gejala seperti flu, ruam kulit, mudah memar atau berdarah, atau perubahan warna urin atau feses
c. Simvastatin
Simvastatin merupakan obat yang menurunkan kadar kolesterol (hipolidemik)
Secara invivo simvastatin akan dihidrolisa menjadi metabolit aktif. Mekanisme kerja dari metabolit aktif tersebut adalah dengan cara menghambat kerja 3-Hidroksi-3-metilglutaril koenzim A reduktase (HMG Co-A reduktase), dimana enzim ini mengkatalisa perubahan HMG Co-A menjadi asam mevalonat yang merupakan langkah awal dari sintesa kolesterol.
Kontraindikasi dengan pasien yang hipersensitif terhadap simvastatin atau komponen obat, penyakit hati aktif atau peningkatan transaminase serum yang menetap yang tidak jelas penyebabnya
Efek samping adalah abdominal pain, konstipasi, flatulens, astenia, sakit kepala, miopati, rabdomiolisis. Pada kasus tertentu terjadi angioneurotik edema.
Efek samping lain yang pernah dilaporkan pada golongan obat ini :
- Neurologi : disfungsi saraf cranial tertentu, tremor, pusing, vertigo, hilang ingatan, parestesia, neuropati perifer, kelumpuhan saraf periferal.
- Reaksi hipersensitif:anafilaksis, angioedema, trombositopenia, leukopenia, anemia hemolitik.
- Gastrointestinal : anoreksia, muntah.
- Kulit : alopecia, pruritus.
- Reproduksi : ginekomastia, kehilangan libido, disfungsi ereksi.
- Mata : mempercepat katarak, optalmoplegia.
DAFTAR PUSTAKA
1. Baxter, K. 2010. Stockley’s Drug Interactions Pocket Companion 2010. London : Pharmaceiutical Press.
2. Cippole, R. J, Strand, L . M, Morley, P. C. 1998. Pharmaceutical Care Practice. New York : McGraw-Hill.
3. Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C, Matzke, G. R., Wells, B. G., Posey, L. M. 2008. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. Seventh Edition. New York : McGraw-Hill.
4. Perazella, M. A. 2002. A 58-Year-Old Man with Diabetes Mellitus and Nephrotic Syndrome. Hospital Physician. 39-42.
Diare
Diare
1. Definisi
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang tidak biasa (lebih dari 3 kali sehari). Juga perubahan dalam jumlah dan konsistensi (feses encer). Hal ini biasanya berkaitan dengan dorongan, rasa tak nyaman pada area periatal, inkontinensia, atau kombinasi dari faktor ini. Tiga faktor yang menentukan keparahannya : sekresi intestinal, perubahan penyerapan mukosa, dan peningkatan motilitas (Baughman, D. C dan Hackley, J. C, 2000). Sedangkan menurut Depkes RI (2005), diare merupakan suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari. Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (Soegijanto, 2002).
2. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik dari Diare menurut Baughman, D. C dan Hackley, J. C. (2000) adalah sebagai berikut.
1. Peningkatan frekuensi dan kandungan cairan dalam feses
2. Kram abdomen, distensi, bising usus (borborigmus), anoreksia, dan rasa haus.
3. Kontraksi spasmodik yang sakit dari anus dan mengejan tak efektif (tenesmus) mungkin terjadi setiap kali defekasi
4. Sifat dan awitannya dapat eksplosif dan bertahap. Gejala yang berkaitan adalah dehidrasi dan kelemahan
5. Feses yang banyak mengandung air menandakan penyakit usus halus.
6. Feses yang lunak, semipadat berkaitan dengan kelainan kolon.
7. Feses berwarna keabu-abuan menandakan malabsorpsi usus.
8. Mukus dan pus dalam feses menunjukkan enteritis inflamasi atau kolitis.
9. Bercak minyak pada air toilet merupakan diagnostik dari insufisiensi pankreas.
10. Diare noktural mungkin merupakan manifestasi neuropati Dehidrasi merupakan gejala yang segera terjadi akibat pengeluaran cairan tinja yang berulang-ulang.
Kehilangan cairan akibat diare menyebabkan dehidrasi yang dapat bersifat ringan, sedang atau berat (Suharyono, 1986). Adapun tanda-tanda dan gejala-gejala yang ditimbulkan akibat diare:
Diare dengan dehidrasi ringan, dengan gejala sebagai berikut:
1. Frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari
2. Keadaan umum baik dan sadar
3. Mata normal dan air mata ada
4. Mulut dan lidah basah
5. Tidak merasa haus dan bisa minum
Diare dengan dehidrasi sedang, kehilangan cairan sampai 5-10% dari berat badan, dengan gejala sebagai berikut :
1. Frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dan sering
2. Kadang-kadang muntah, terasa haus
3. Kencing sedikit, nafsu makan kurang
4. Aktivitas menurun
5. Mata cekung, mulut dan lidah kering
6. Gelisah dan mengantuk
7. Nadi lebih cepat dari normal, ubun-ubun cekung
Diare dengan dehidrasi berat, kehilangan cairan lebih dari 10% berat badan, dengan gejala:
1. Frekuensi buang air besar terus-menerus
2. Muntah lebih sering, terasa haus sekali
3. Tidak kencing, tidak ada nafsu makan
4. Sangat lemah sampai tidak sadar
5. Mata sangat cekung, mulut sangat kering
6. Nafas sangat cepat dan dalam
7. Nadi sangat cepat, lemah atau tidak teraba
8. Ubun-ubun sangat cekung
3. Etiologi
Penyebab atau etiologi diare menurut Widjaj (2002), dapat dikelompokkan menjadi:
Virus: Rotavirus (40-60%), Adenovirus.
Bakteri: Escherichia coli (20-30%), Shigela sp. (1-1%), Vibrio cholerae, dan lain-lain.
Parasit: Entamoeba histolytica (<1%), Giardia lambia, Crystosporidium (4-11%).
Keracunan makanan
Malabsorbsi: karbohidrat, lemak dan protein.
Alergi: makanan, susu sapi
Imunodefisiensi: AIDS
Sedangkan menurut Dwienda dkk (2014) diare disebabkan oleh faktor infeksi, malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan, dan faktor psikologis yang dijelaskan sebagai berikut.
a. Faktor Infeksi
Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang sebagai berikut.
1. Infeksi Bakteri oleh kuman E.coli, Salmonella, Vibrio cholerae (kolera), dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik ( memanfaatkan kesempatan ketika kondisi tubuh lemah) seperti pseudomonas.
2. Infeksi basil (disentri)
3. Infeksi virus enterovirus dan adenovirus.
4. Infeksi parasit oleh cacing (askaris)
5. Infeksi jamur (candidiasis)
6. Infeksi akibat organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis, dan radang tenggorokan.
7. Keracunan makanan
b. Faktor Malabsorpsi
1. Malabsorpsi karbohidrat.
2. Malabsorpsi lemak
Dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida. Triglyserida dengan bantuan kelenjar lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat jadi muncul karena lemak tidak terserap dengan baik. Gejalanya adalah tinja mengandung lemak.
c. Faktor makanan
Makanan yang diakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah ( sayuran ) dan kurang matang.
d. Faktor psikologis
Rasa takut, cemas, dan tegang, jika terjadi pada anak, dapat menyebabkan diare kronis.
4. Klasifikasi Diare
Menurut Dwienda dkk (2014), klasifikasi berdasarkan lamanya diare :
a. Diare Akut
Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari. Diare akut terjadi sewaktu-waktu tetapi gejalanya dapat berat. Penyebabnya sebagai berikut.
Gangguan jasad renik atau bakteri yang masuk ke dalam usus halus setelah melewati berbagai rintangan asam lambung
Jasad renik yang berkembang pesat di dalam usus halus
Racun yang dikeluarkan oleh bakteri
Kelebihan cairan usus akibat racun
b. Diare kronis atau menahun persisten
Diare kronis yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to thrive) selama masa diare tersebut. Pada diare menahun (kronis), kejadiannya lebih kompleks. Berikut beberapa faktor yang menimbulkannya, terutama jika sering berulang pada anak.
Gangguan bakteri, jamur dan parasit
Malabsorpsi kalori
Malabsorpsi lemak
Berdasarkan mekanisme patofisiologik :
a. Diare sekresi (secretory diarrhea)
b. Diare osmotic (osmotic diarrhea)
5. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare (Latief, Abdul dkk, 2007). Menurut Latief, Abdul dkk (2007) mekanisme dasar yang menyebabkan diare adalah sebagai berikut :
a. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat, sahingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga terjadilah diare.
b. Gangguan Seksresi
Akibat rangsangan tertentu (missal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya jika peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya akan menimbulkan diare juga.
6. Diagnosis
a. Anamnesis
Pasien dengan diare akut datang dengan berbagai gejala klinik tergantung penyebab penyakit dasarnya. Keluhan diarenya berlangsung kurang dari 15 hari. Diare karena penyakit usus halus biasanya berjumlah banyak, diare air, dan sering berhubungan dengan malabsorpsi dan dehidrasi sering didapatkan. Diare karena kelainan kolon seringkali berhubungan dengan tinja berjumlah kecil tetapi sering, bercampur darah dan ada sensasi ingin ke belakang. Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas, yaitu mual, muntah, nyeri abdomen, demam, dan tinja yang sering, malabsorptif, atau berdarah tergantung bakteri patogen yang spesifik. Secara umum, pathogen usus halus tidak invasif, dan patogen ileokolon lebih mengarah ke invasif. Muntah yang mulai beberapa jam dari masuknya makanan mengarahkan kita pada keracunan makanan karena toksin yang dihasilkan (Simadibrata, 2006).
b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama dehidrasi: kesadaran, rasa haus, dan turgor kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya: ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata: cowong atau tidak, ada atau tidaknya air mata, bibir, mukosa mulut dan lidah kering atau basah (Juffrie, 2010).
Pernapasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolik. Bising usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemia. Pemeriksaan ekstremitas perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan derajat dehidrasi yang terjadi (Juffrie, 2010). Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara: obyektif yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum dan selama diare. Subyektif dengan menggunakan criteria WHO, Skor Maurice King, dan lain-lain (Juffrie, 2010).
c. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut umumnya tidak diperlukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan, misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat (Juffrie, 2010). Pemeriksaan tinja baik makroskopik maupun mikroskopik dapat dilakukan untuk menentukan diagnosa yang pasti. Secara makroskopik harus diperhatikan bentuk, warna tinja, ada tidaknya darah, lender, pus, lemak, dan lain-lain. Pemeriksaan mikroskopik melihat ada tidaknya leukosit, eritrosit, telur cacing, parasit, bakteri, dan lain-lain (Hadi, 2002).
DAFTAR PUSTAKA
Baughman, D. C dan Hackley, J. C. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah : Buku Saku dari Brunner & Suddarth. Jakarta : EGC.
Depkes RI. 2005. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Edisi 4. Jakarta : Ditjen PPM dan PI.
Dwienda, O., Maita, L., Saputri, E. M., dan Yulviana, R. 2014. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi / Balita dan Anak Prasekolah untuk Para Bidan. Yogyakarta : Deepublish.
Hadi, S., 2002. Gastroenterologi. Bandung : Penerbit Alumni
Juffrie, M., et al, 2010. Buku Ajar Gastroenterologi - Hepatologi Jilid 1. Jakarta : Balai Penerbit IDAI.
Latief, Abdul dkk. 2007. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Bagian Ilmu Kesahatan Anak Fakultas Kedokteran UI
Simadibrata, M., Daldiyono. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 408-413.
Simadibrata, M., Daldiyono. 2006. Diare Akut. In: Sudoyo, Aru W, et al, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 408-413.
Soegijanto, S. 2002. Ilmu Penyakit Anak Diagnosa dan Penatalaksanaan. Jakarta : Salemba Medika.
Suharyono.1986. Diare Akut. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI.
Widjaja, M. C. 2002. Mengatasi Diare dan Keracunan pada Balita. Jakarta : Kawan Pustaka
1. Definisi
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang tidak biasa (lebih dari 3 kali sehari). Juga perubahan dalam jumlah dan konsistensi (feses encer). Hal ini biasanya berkaitan dengan dorongan, rasa tak nyaman pada area periatal, inkontinensia, atau kombinasi dari faktor ini. Tiga faktor yang menentukan keparahannya : sekresi intestinal, perubahan penyerapan mukosa, dan peningkatan motilitas (Baughman, D. C dan Hackley, J. C, 2000). Sedangkan menurut Depkes RI (2005), diare merupakan suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari. Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (Soegijanto, 2002).
2. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik dari Diare menurut Baughman, D. C dan Hackley, J. C. (2000) adalah sebagai berikut.
1. Peningkatan frekuensi dan kandungan cairan dalam feses
2. Kram abdomen, distensi, bising usus (borborigmus), anoreksia, dan rasa haus.
3. Kontraksi spasmodik yang sakit dari anus dan mengejan tak efektif (tenesmus) mungkin terjadi setiap kali defekasi
4. Sifat dan awitannya dapat eksplosif dan bertahap. Gejala yang berkaitan adalah dehidrasi dan kelemahan
5. Feses yang banyak mengandung air menandakan penyakit usus halus.
6. Feses yang lunak, semipadat berkaitan dengan kelainan kolon.
7. Feses berwarna keabu-abuan menandakan malabsorpsi usus.
8. Mukus dan pus dalam feses menunjukkan enteritis inflamasi atau kolitis.
9. Bercak minyak pada air toilet merupakan diagnostik dari insufisiensi pankreas.
10. Diare noktural mungkin merupakan manifestasi neuropati Dehidrasi merupakan gejala yang segera terjadi akibat pengeluaran cairan tinja yang berulang-ulang.
Kehilangan cairan akibat diare menyebabkan dehidrasi yang dapat bersifat ringan, sedang atau berat (Suharyono, 1986). Adapun tanda-tanda dan gejala-gejala yang ditimbulkan akibat diare:
Diare dengan dehidrasi ringan, dengan gejala sebagai berikut:
1. Frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari
2. Keadaan umum baik dan sadar
3. Mata normal dan air mata ada
4. Mulut dan lidah basah
5. Tidak merasa haus dan bisa minum
Diare dengan dehidrasi sedang, kehilangan cairan sampai 5-10% dari berat badan, dengan gejala sebagai berikut :
1. Frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dan sering
2. Kadang-kadang muntah, terasa haus
3. Kencing sedikit, nafsu makan kurang
4. Aktivitas menurun
5. Mata cekung, mulut dan lidah kering
6. Gelisah dan mengantuk
7. Nadi lebih cepat dari normal, ubun-ubun cekung
Diare dengan dehidrasi berat, kehilangan cairan lebih dari 10% berat badan, dengan gejala:
1. Frekuensi buang air besar terus-menerus
2. Muntah lebih sering, terasa haus sekali
3. Tidak kencing, tidak ada nafsu makan
4. Sangat lemah sampai tidak sadar
5. Mata sangat cekung, mulut sangat kering
6. Nafas sangat cepat dan dalam
7. Nadi sangat cepat, lemah atau tidak teraba
8. Ubun-ubun sangat cekung
3. Etiologi
Penyebab atau etiologi diare menurut Widjaj (2002), dapat dikelompokkan menjadi:
Virus: Rotavirus (40-60%), Adenovirus.
Bakteri: Escherichia coli (20-30%), Shigela sp. (1-1%), Vibrio cholerae, dan lain-lain.
Parasit: Entamoeba histolytica (<1%), Giardia lambia, Crystosporidium (4-11%).
Keracunan makanan
Malabsorbsi: karbohidrat, lemak dan protein.
Alergi: makanan, susu sapi
Imunodefisiensi: AIDS
Sedangkan menurut Dwienda dkk (2014) diare disebabkan oleh faktor infeksi, malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan, dan faktor psikologis yang dijelaskan sebagai berikut.
a. Faktor Infeksi
Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang sebagai berikut.
1. Infeksi Bakteri oleh kuman E.coli, Salmonella, Vibrio cholerae (kolera), dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik ( memanfaatkan kesempatan ketika kondisi tubuh lemah) seperti pseudomonas.
2. Infeksi basil (disentri)
3. Infeksi virus enterovirus dan adenovirus.
4. Infeksi parasit oleh cacing (askaris)
5. Infeksi jamur (candidiasis)
6. Infeksi akibat organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis, dan radang tenggorokan.
7. Keracunan makanan
b. Faktor Malabsorpsi
1. Malabsorpsi karbohidrat.
2. Malabsorpsi lemak
Dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida. Triglyserida dengan bantuan kelenjar lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat jadi muncul karena lemak tidak terserap dengan baik. Gejalanya adalah tinja mengandung lemak.
c. Faktor makanan
Makanan yang diakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah ( sayuran ) dan kurang matang.
d. Faktor psikologis
Rasa takut, cemas, dan tegang, jika terjadi pada anak, dapat menyebabkan diare kronis.
4. Klasifikasi Diare
Menurut Dwienda dkk (2014), klasifikasi berdasarkan lamanya diare :
a. Diare Akut
Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari. Diare akut terjadi sewaktu-waktu tetapi gejalanya dapat berat. Penyebabnya sebagai berikut.
Gangguan jasad renik atau bakteri yang masuk ke dalam usus halus setelah melewati berbagai rintangan asam lambung
Jasad renik yang berkembang pesat di dalam usus halus
Racun yang dikeluarkan oleh bakteri
Kelebihan cairan usus akibat racun
b. Diare kronis atau menahun persisten
Diare kronis yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to thrive) selama masa diare tersebut. Pada diare menahun (kronis), kejadiannya lebih kompleks. Berikut beberapa faktor yang menimbulkannya, terutama jika sering berulang pada anak.
Gangguan bakteri, jamur dan parasit
Malabsorpsi kalori
Malabsorpsi lemak
Berdasarkan mekanisme patofisiologik :
a. Diare sekresi (secretory diarrhea)
b. Diare osmotic (osmotic diarrhea)
5. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare (Latief, Abdul dkk, 2007). Menurut Latief, Abdul dkk (2007) mekanisme dasar yang menyebabkan diare adalah sebagai berikut :
a. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat, sahingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga terjadilah diare.
b. Gangguan Seksresi
Akibat rangsangan tertentu (missal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya jika peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya akan menimbulkan diare juga.
6. Diagnosis
a. Anamnesis
Pasien dengan diare akut datang dengan berbagai gejala klinik tergantung penyebab penyakit dasarnya. Keluhan diarenya berlangsung kurang dari 15 hari. Diare karena penyakit usus halus biasanya berjumlah banyak, diare air, dan sering berhubungan dengan malabsorpsi dan dehidrasi sering didapatkan. Diare karena kelainan kolon seringkali berhubungan dengan tinja berjumlah kecil tetapi sering, bercampur darah dan ada sensasi ingin ke belakang. Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas, yaitu mual, muntah, nyeri abdomen, demam, dan tinja yang sering, malabsorptif, atau berdarah tergantung bakteri patogen yang spesifik. Secara umum, pathogen usus halus tidak invasif, dan patogen ileokolon lebih mengarah ke invasif. Muntah yang mulai beberapa jam dari masuknya makanan mengarahkan kita pada keracunan makanan karena toksin yang dihasilkan (Simadibrata, 2006).
b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama dehidrasi: kesadaran, rasa haus, dan turgor kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya: ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata: cowong atau tidak, ada atau tidaknya air mata, bibir, mukosa mulut dan lidah kering atau basah (Juffrie, 2010).
Pernapasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolik. Bising usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemia. Pemeriksaan ekstremitas perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan derajat dehidrasi yang terjadi (Juffrie, 2010). Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara: obyektif yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum dan selama diare. Subyektif dengan menggunakan criteria WHO, Skor Maurice King, dan lain-lain (Juffrie, 2010).
c. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut umumnya tidak diperlukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan, misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat (Juffrie, 2010). Pemeriksaan tinja baik makroskopik maupun mikroskopik dapat dilakukan untuk menentukan diagnosa yang pasti. Secara makroskopik harus diperhatikan bentuk, warna tinja, ada tidaknya darah, lender, pus, lemak, dan lain-lain. Pemeriksaan mikroskopik melihat ada tidaknya leukosit, eritrosit, telur cacing, parasit, bakteri, dan lain-lain (Hadi, 2002).
DAFTAR PUSTAKA
Baughman, D. C dan Hackley, J. C. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah : Buku Saku dari Brunner & Suddarth. Jakarta : EGC.
Depkes RI. 2005. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Edisi 4. Jakarta : Ditjen PPM dan PI.
Dwienda, O., Maita, L., Saputri, E. M., dan Yulviana, R. 2014. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi / Balita dan Anak Prasekolah untuk Para Bidan. Yogyakarta : Deepublish.
Hadi, S., 2002. Gastroenterologi. Bandung : Penerbit Alumni
Juffrie, M., et al, 2010. Buku Ajar Gastroenterologi - Hepatologi Jilid 1. Jakarta : Balai Penerbit IDAI.
Latief, Abdul dkk. 2007. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Bagian Ilmu Kesahatan Anak Fakultas Kedokteran UI
Simadibrata, M., Daldiyono. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 408-413.
Simadibrata, M., Daldiyono. 2006. Diare Akut. In: Sudoyo, Aru W, et al, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 408-413.
Soegijanto, S. 2002. Ilmu Penyakit Anak Diagnosa dan Penatalaksanaan. Jakarta : Salemba Medika.
Suharyono.1986. Diare Akut. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI.
Widjaja, M. C. 2002. Mengatasi Diare dan Keracunan pada Balita. Jakarta : Kawan Pustaka
Floating Market Lembang Bandung
Floating Market Lembang
Floating Market Lembang Bandung merupakan salah satu tempat wisata di Lembang, Bandung yang cukup populer karena menyajikan konsep yang berbeda dengan tempat wisata yang ada di lembang pada umumnya.
Floating Market Lembang menyajikan perpaduan alam yang indah dan sejuk dilengkapi dengan pasar terapung tradisional. Pengunjung dapat berbelanja diatas perahu terapung di danau seperti membeli makanan tradisional, minuman susu murni, es degan, kerang, sayur mayur, dan lain-lain. Tergantung pilihan kamu gan...
Floating market lembang juga menyediakan berbagai macam permainan anak-anak dan dewasa. Apa aja sih?? Ada perahu air, kereta air dan berbagai outbond yang pastinya akan sangat bisa menghilangkan penatmu :-D
Selain itu, ada juga tempat kuliner bernuansa resto yang menyediakan berbagai macam jenis menu khas indonesia, asia sampai eropa serta bermacam oleh oleh...
Eitssss...gak banget kan kalo kesini gak ada momen cekrek cekrek. Gak usah khawatir, di Floating Market ini kalian gak bakal kehabisan tempat untuk berfoto ria.. Ada banyak banget tempat untuk mengabadikan momen. Dimana aja sih??
1. Di tepi danau
Danaunya luas banget loh teman.. Pemandangan background danau juga indah banget dengan tumbuhan tumbuhan hijau....uh..menawan..
2. Di pasar terapung
Sesi foto di pasar apung menjadi ciri khas floating market..dimana lagi coba bisa foto di pasar terapung..momen langka kan..
3. Di arena bermain anak
Di tempat ini menjadi momen kebersamaan dengan buah hati yang indah..edisi sayang anak kali yaa..hehe
4. Di area the Rock
Uhh...mantep gan..di area ini batu batu disusun sebaik dan seindah mungkin..mirip taman batu..
5. Di dekat gerumbulan ikan
Pasti gemes kan lihat ikan yang gede-gede pada muncul dan serasa berkomunikasi dengan kita. Yah...bener banget. Kalian bisa beli pakan ikan sekutar 5000 aja dan taburkan di danau maka ikan yang begitu banyaknya akan datang ke kalian. Disinilah sesi foto akan tampak mempesona..Ihh..jadi pengen bawa pulang deh dedek ikannya..
6. Di Jembatan
Salah satu tempat yang bisa digunakan untuk mengabadikan momen adalah di Jembatan. Saat berada di jembatan kalian bisa lihat danau yang indah. Dan temanmu bisa mengambil foto saat pandanganmu melihat jauh ke danau sana...biar ala ala gak lihat gitu loh..haha
7. Di lukisan lukisan dan alat musik sunda
Ada tempat dimana beberapa lukisan dipajang beserta alat musik dari bambu yang pastinya akan menambah cantik hasil fotomu. Cinta budaya ya :)
8. Di tulisan Floating market yang berwarna biru dan kuning
Pastinya pengen dong foto di tempat yang tulisannya jelas. Biar sekali lihat langsung tahu itu dimana. Gak perlu deh pakek nanya lagi "ini dimana sih?" Biar gak banyak jawab. Haha.. tapi kalian harus sabar antri ya.. karena banyak yang pengen foto disini. Apalagi kalo udah rombongan tour..ahhh..bisa sampai banyak jepretan tuh...
9. Di area peristirahatan
Banyak tempat-tempat istirahat yang terbuat dari kayu yang bisa kita gunakan untuk merebahkan badan. Selain untuk istirahat, tempat ini juga bagus buat foto loh.. pengalaman sih..hehe
Dan masih banyak tempat lain yang bisa kalian abadikan..
Oiya..tiket kalian bisa dituker dengan minuman loh.. ada cappucino dll..ada panas ada dingin juga.. Biasanya sih gelasnya itu bisa juga diabadikan.. Cukup skian yah sharring pengalaman dari aku.. Kalian bisa coba sendiri. Selamat berlibur yaa :) :)
Curug Cimahi / Air Terjun Pelangi
Curug Cimahi / Air Terjun Pelangi
Curug Cimahi merupakan salah satu curug yang terletak di Jalan Kolonel Masturi, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat. Berjarak kurang lebih 10 kilometer dari kota Cimahi ke arah Lembang atau 20 km (sekitar 1 jam) ke arah utara dari kota Bandung. Pintu masuk Curug Cimahi terletak tepat di sebelah terminal angkot Cisarua, di pinggir jalan Kolonel Masturi sehingga mudah untuk mencarinya.
Setelah tiba di depan pintu gerbang, kendaraan diparkirkan dan kita bisa membeli tiket masuk sebesar 15.000 per orang..Lumayan murah lah ya.. Kita gak perlu naik-naik kok karena kita sudah berada di atas..eitsss...jgn senang dulu..untuk menuju lokasi air terjunnya kita masih harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang menurun dan berkelok-kelok. Ahhh...gampang lah ya kalo turun... Energi sedikit udah cukup..Apalagi lokasinya sejuk karena pepohonan..Jalan yang kita lalui ini berupa anak tangga yang terbuat dari batu dan semen. Jalan ini sudah dilengkapi dengan pegangan tangan pipa dan jaring kawat yang terbuat dari besi sehingga membuat rasa aman untuk dilalui. Yang pastinya kalian ingin mengabadikan momen kan?? Yups..ada bbrapa tmpat untuk bisa mengambil foto kalian...
1.Sepanjang jalan turun menuju curug
2. Di lokasi tempat menikmati indahnya curug..ada 2 tmpat..yang 1 berada di atas..yg 1 lebih ke bawah. Masing-masing dilengkapi dengan tempat duduk dan meja untuk foto ataupun duduk mnikmati kesejukan dan keindahan curug..Untuk mndapatkn gambar yg bagus..kalian bisa mengambil gambar dari kejauhan agar terliat jelas posisi kalian beserta curugnya. Keren deh pokonya...
3. Di dekat curug
Terkadang kita tidak diijinkan untuk turun ke lokasi curug bila aliran airnya deras. Semoga aja sih saat kalian kesana boleh lah ya....Rugi banget kalo sampai gak boleh..
Saat ingin pulang..jangan lupa isi tenaga dulu yaa...disana ada yg jual mkanan kok..ada gorengan, kopi, snack..karena untuk naik ke atas..parah gan....nafas pasti terengah engah...capeknya luar biasa..Tapi saat semua terbalas dg foto yg bagus dan kesejukan yg luar biasa..itu uah cukup kok.. Selamat berlibur ya...Semoga menyenangkan :) :)
Langganan:
Postingan (Atom)








