Diare
1. Definisi
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang tidak biasa (lebih dari 3 kali sehari). Juga perubahan dalam jumlah dan konsistensi (feses encer). Hal ini biasanya berkaitan dengan dorongan, rasa tak nyaman pada area periatal, inkontinensia, atau kombinasi dari faktor ini. Tiga faktor yang menentukan keparahannya : sekresi intestinal, perubahan penyerapan mukosa, dan peningkatan motilitas (Baughman, D. C dan Hackley, J. C, 2000). Sedangkan menurut Depkes RI (2005), diare merupakan suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari. Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (Soegijanto, 2002).
2. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik dari Diare menurut Baughman, D. C dan Hackley, J. C. (2000) adalah sebagai berikut.
1. Peningkatan frekuensi dan kandungan cairan dalam feses
2. Kram abdomen, distensi, bising usus (borborigmus), anoreksia, dan rasa haus.
3. Kontraksi spasmodik yang sakit dari anus dan mengejan tak efektif (tenesmus) mungkin terjadi setiap kali defekasi
4. Sifat dan awitannya dapat eksplosif dan bertahap. Gejala yang berkaitan adalah dehidrasi dan kelemahan
5. Feses yang banyak mengandung air menandakan penyakit usus halus.
6. Feses yang lunak, semipadat berkaitan dengan kelainan kolon.
7. Feses berwarna keabu-abuan menandakan malabsorpsi usus.
8. Mukus dan pus dalam feses menunjukkan enteritis inflamasi atau kolitis.
9. Bercak minyak pada air toilet merupakan diagnostik dari insufisiensi pankreas.
10. Diare noktural mungkin merupakan manifestasi neuropati Dehidrasi merupakan gejala yang segera terjadi akibat pengeluaran cairan tinja yang berulang-ulang.
Kehilangan cairan akibat diare menyebabkan dehidrasi yang dapat bersifat ringan, sedang atau berat (Suharyono, 1986). Adapun tanda-tanda dan gejala-gejala yang ditimbulkan akibat diare:
Diare dengan dehidrasi ringan, dengan gejala sebagai berikut:
1. Frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari
2. Keadaan umum baik dan sadar
3. Mata normal dan air mata ada
4. Mulut dan lidah basah
5. Tidak merasa haus dan bisa minum
Diare dengan dehidrasi sedang, kehilangan cairan sampai 5-10% dari berat badan, dengan gejala sebagai berikut :
1. Frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dan sering
2. Kadang-kadang muntah, terasa haus
3. Kencing sedikit, nafsu makan kurang
4. Aktivitas menurun
5. Mata cekung, mulut dan lidah kering
6. Gelisah dan mengantuk
7. Nadi lebih cepat dari normal, ubun-ubun cekung
Diare dengan dehidrasi berat, kehilangan cairan lebih dari 10% berat badan, dengan gejala:
1. Frekuensi buang air besar terus-menerus
2. Muntah lebih sering, terasa haus sekali
3. Tidak kencing, tidak ada nafsu makan
4. Sangat lemah sampai tidak sadar
5. Mata sangat cekung, mulut sangat kering
6. Nafas sangat cepat dan dalam
7. Nadi sangat cepat, lemah atau tidak teraba
8. Ubun-ubun sangat cekung
3. Etiologi
Penyebab atau etiologi diare menurut Widjaj (2002), dapat dikelompokkan menjadi:
Virus: Rotavirus (40-60%), Adenovirus.
Bakteri: Escherichia coli (20-30%), Shigela sp. (1-1%), Vibrio cholerae, dan lain-lain.
Parasit: Entamoeba histolytica (<1%), Giardia lambia, Crystosporidium (4-11%).
Keracunan makanan
Malabsorbsi: karbohidrat, lemak dan protein.
Alergi: makanan, susu sapi
Imunodefisiensi: AIDS
Sedangkan menurut Dwienda dkk (2014) diare disebabkan oleh faktor infeksi, malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan, dan faktor psikologis yang dijelaskan sebagai berikut.
a. Faktor Infeksi
Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang sebagai berikut.
1. Infeksi Bakteri oleh kuman E.coli, Salmonella, Vibrio cholerae (kolera), dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik ( memanfaatkan kesempatan ketika kondisi tubuh lemah) seperti pseudomonas.
2. Infeksi basil (disentri)
3. Infeksi virus enterovirus dan adenovirus.
4. Infeksi parasit oleh cacing (askaris)
5. Infeksi jamur (candidiasis)
6. Infeksi akibat organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis, dan radang tenggorokan.
7. Keracunan makanan
b. Faktor Malabsorpsi
1. Malabsorpsi karbohidrat.
2. Malabsorpsi lemak
Dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida. Triglyserida dengan bantuan kelenjar lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat jadi muncul karena lemak tidak terserap dengan baik. Gejalanya adalah tinja mengandung lemak.
c. Faktor makanan
Makanan yang diakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah ( sayuran ) dan kurang matang.
d. Faktor psikologis
Rasa takut, cemas, dan tegang, jika terjadi pada anak, dapat menyebabkan diare kronis.
4. Klasifikasi Diare
Menurut Dwienda dkk (2014), klasifikasi berdasarkan lamanya diare :
a. Diare Akut
Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari. Diare akut terjadi sewaktu-waktu tetapi gejalanya dapat berat. Penyebabnya sebagai berikut.
Gangguan jasad renik atau bakteri yang masuk ke dalam usus halus setelah melewati berbagai rintangan asam lambung
Jasad renik yang berkembang pesat di dalam usus halus
Racun yang dikeluarkan oleh bakteri
Kelebihan cairan usus akibat racun
b. Diare kronis atau menahun persisten
Diare kronis yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to thrive) selama masa diare tersebut. Pada diare menahun (kronis), kejadiannya lebih kompleks. Berikut beberapa faktor yang menimbulkannya, terutama jika sering berulang pada anak.
Gangguan bakteri, jamur dan parasit
Malabsorpsi kalori
Malabsorpsi lemak
Berdasarkan mekanisme patofisiologik :
a. Diare sekresi (secretory diarrhea)
b. Diare osmotic (osmotic diarrhea)
5. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare (Latief, Abdul dkk, 2007). Menurut Latief, Abdul dkk (2007) mekanisme dasar yang menyebabkan diare adalah sebagai berikut :
a. Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat, sahingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga terjadilah diare.
b. Gangguan Seksresi
Akibat rangsangan tertentu (missal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya jika peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya akan menimbulkan diare juga.
6. Diagnosis
a. Anamnesis
Pasien dengan diare akut datang dengan berbagai gejala klinik tergantung penyebab penyakit dasarnya. Keluhan diarenya berlangsung kurang dari 15 hari. Diare karena penyakit usus halus biasanya berjumlah banyak, diare air, dan sering berhubungan dengan malabsorpsi dan dehidrasi sering didapatkan. Diare karena kelainan kolon seringkali berhubungan dengan tinja berjumlah kecil tetapi sering, bercampur darah dan ada sensasi ingin ke belakang. Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas, yaitu mual, muntah, nyeri abdomen, demam, dan tinja yang sering, malabsorptif, atau berdarah tergantung bakteri patogen yang spesifik. Secara umum, pathogen usus halus tidak invasif, dan patogen ileokolon lebih mengarah ke invasif. Muntah yang mulai beberapa jam dari masuknya makanan mengarahkan kita pada keracunan makanan karena toksin yang dihasilkan (Simadibrata, 2006).
b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama dehidrasi: kesadaran, rasa haus, dan turgor kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya: ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata: cowong atau tidak, ada atau tidaknya air mata, bibir, mukosa mulut dan lidah kering atau basah (Juffrie, 2010).
Pernapasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolik. Bising usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemia. Pemeriksaan ekstremitas perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan derajat dehidrasi yang terjadi (Juffrie, 2010). Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara: obyektif yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum dan selama diare. Subyektif dengan menggunakan criteria WHO, Skor Maurice King, dan lain-lain (Juffrie, 2010).
c. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut umumnya tidak diperlukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan, misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat (Juffrie, 2010). Pemeriksaan tinja baik makroskopik maupun mikroskopik dapat dilakukan untuk menentukan diagnosa yang pasti. Secara makroskopik harus diperhatikan bentuk, warna tinja, ada tidaknya darah, lender, pus, lemak, dan lain-lain. Pemeriksaan mikroskopik melihat ada tidaknya leukosit, eritrosit, telur cacing, parasit, bakteri, dan lain-lain (Hadi, 2002).
DAFTAR PUSTAKA
Baughman, D. C dan Hackley, J. C. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah : Buku Saku dari Brunner & Suddarth. Jakarta : EGC.
Depkes RI. 2005. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Edisi 4. Jakarta : Ditjen PPM dan PI.
Dwienda, O., Maita, L., Saputri, E. M., dan Yulviana, R. 2014. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi / Balita dan Anak Prasekolah untuk Para Bidan. Yogyakarta : Deepublish.
Hadi, S., 2002. Gastroenterologi. Bandung : Penerbit Alumni
Juffrie, M., et al, 2010. Buku Ajar Gastroenterologi - Hepatologi Jilid 1. Jakarta : Balai Penerbit IDAI.
Latief, Abdul dkk. 2007. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Bagian Ilmu Kesahatan Anak Fakultas Kedokteran UI
Simadibrata, M., Daldiyono. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 408-413.
Simadibrata, M., Daldiyono. 2006. Diare Akut. In: Sudoyo, Aru W, et al, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 408-413.
Soegijanto, S. 2002. Ilmu Penyakit Anak Diagnosa dan Penatalaksanaan. Jakarta : Salemba Medika.
Suharyono.1986. Diare Akut. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI.
Widjaja, M. C. 2002. Mengatasi Diare dan Keracunan pada Balita. Jakarta : Kawan Pustaka
Yeni Nur Cahyani S.Farm., Apt, Universitas Jember, Universitas Padjadjaran, Quality Control Supervisor of PT Sanbe Farma Unit 2, Bandung
Sabtu, 10 Desember 2016
Floating Market Lembang Bandung
Floating Market Lembang
Floating Market Lembang Bandung merupakan salah satu tempat wisata di Lembang, Bandung yang cukup populer karena menyajikan konsep yang berbeda dengan tempat wisata yang ada di lembang pada umumnya.
Floating Market Lembang menyajikan perpaduan alam yang indah dan sejuk dilengkapi dengan pasar terapung tradisional. Pengunjung dapat berbelanja diatas perahu terapung di danau seperti membeli makanan tradisional, minuman susu murni, es degan, kerang, sayur mayur, dan lain-lain. Tergantung pilihan kamu gan...
Floating market lembang juga menyediakan berbagai macam permainan anak-anak dan dewasa. Apa aja sih?? Ada perahu air, kereta air dan berbagai outbond yang pastinya akan sangat bisa menghilangkan penatmu :-D
Selain itu, ada juga tempat kuliner bernuansa resto yang menyediakan berbagai macam jenis menu khas indonesia, asia sampai eropa serta bermacam oleh oleh...
Eitssss...gak banget kan kalo kesini gak ada momen cekrek cekrek. Gak usah khawatir, di Floating Market ini kalian gak bakal kehabisan tempat untuk berfoto ria.. Ada banyak banget tempat untuk mengabadikan momen. Dimana aja sih??
1. Di tepi danau
Danaunya luas banget loh teman.. Pemandangan background danau juga indah banget dengan tumbuhan tumbuhan hijau....uh..menawan..
2. Di pasar terapung
Sesi foto di pasar apung menjadi ciri khas floating market..dimana lagi coba bisa foto di pasar terapung..momen langka kan..
3. Di arena bermain anak
Di tempat ini menjadi momen kebersamaan dengan buah hati yang indah..edisi sayang anak kali yaa..hehe
4. Di area the Rock
Uhh...mantep gan..di area ini batu batu disusun sebaik dan seindah mungkin..mirip taman batu..
5. Di dekat gerumbulan ikan
Pasti gemes kan lihat ikan yang gede-gede pada muncul dan serasa berkomunikasi dengan kita. Yah...bener banget. Kalian bisa beli pakan ikan sekutar 5000 aja dan taburkan di danau maka ikan yang begitu banyaknya akan datang ke kalian. Disinilah sesi foto akan tampak mempesona..Ihh..jadi pengen bawa pulang deh dedek ikannya..
6. Di Jembatan
Salah satu tempat yang bisa digunakan untuk mengabadikan momen adalah di Jembatan. Saat berada di jembatan kalian bisa lihat danau yang indah. Dan temanmu bisa mengambil foto saat pandanganmu melihat jauh ke danau sana...biar ala ala gak lihat gitu loh..haha
7. Di lukisan lukisan dan alat musik sunda
Ada tempat dimana beberapa lukisan dipajang beserta alat musik dari bambu yang pastinya akan menambah cantik hasil fotomu. Cinta budaya ya :)
8. Di tulisan Floating market yang berwarna biru dan kuning
Pastinya pengen dong foto di tempat yang tulisannya jelas. Biar sekali lihat langsung tahu itu dimana. Gak perlu deh pakek nanya lagi "ini dimana sih?" Biar gak banyak jawab. Haha.. tapi kalian harus sabar antri ya.. karena banyak yang pengen foto disini. Apalagi kalo udah rombongan tour..ahhh..bisa sampai banyak jepretan tuh...
9. Di area peristirahatan
Banyak tempat-tempat istirahat yang terbuat dari kayu yang bisa kita gunakan untuk merebahkan badan. Selain untuk istirahat, tempat ini juga bagus buat foto loh.. pengalaman sih..hehe
Dan masih banyak tempat lain yang bisa kalian abadikan..
Oiya..tiket kalian bisa dituker dengan minuman loh.. ada cappucino dll..ada panas ada dingin juga.. Biasanya sih gelasnya itu bisa juga diabadikan.. Cukup skian yah sharring pengalaman dari aku.. Kalian bisa coba sendiri. Selamat berlibur yaa :) :)
Curug Cimahi / Air Terjun Pelangi
Curug Cimahi / Air Terjun Pelangi
Curug Cimahi merupakan salah satu curug yang terletak di Jalan Kolonel Masturi, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat. Berjarak kurang lebih 10 kilometer dari kota Cimahi ke arah Lembang atau 20 km (sekitar 1 jam) ke arah utara dari kota Bandung. Pintu masuk Curug Cimahi terletak tepat di sebelah terminal angkot Cisarua, di pinggir jalan Kolonel Masturi sehingga mudah untuk mencarinya.
Setelah tiba di depan pintu gerbang, kendaraan diparkirkan dan kita bisa membeli tiket masuk sebesar 15.000 per orang..Lumayan murah lah ya.. Kita gak perlu naik-naik kok karena kita sudah berada di atas..eitsss...jgn senang dulu..untuk menuju lokasi air terjunnya kita masih harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang menurun dan berkelok-kelok. Ahhh...gampang lah ya kalo turun... Energi sedikit udah cukup..Apalagi lokasinya sejuk karena pepohonan..Jalan yang kita lalui ini berupa anak tangga yang terbuat dari batu dan semen. Jalan ini sudah dilengkapi dengan pegangan tangan pipa dan jaring kawat yang terbuat dari besi sehingga membuat rasa aman untuk dilalui. Yang pastinya kalian ingin mengabadikan momen kan?? Yups..ada bbrapa tmpat untuk bisa mengambil foto kalian...
1.Sepanjang jalan turun menuju curug
2. Di lokasi tempat menikmati indahnya curug..ada 2 tmpat..yang 1 berada di atas..yg 1 lebih ke bawah. Masing-masing dilengkapi dengan tempat duduk dan meja untuk foto ataupun duduk mnikmati kesejukan dan keindahan curug..Untuk mndapatkn gambar yg bagus..kalian bisa mengambil gambar dari kejauhan agar terliat jelas posisi kalian beserta curugnya. Keren deh pokonya...
3. Di dekat curug
Terkadang kita tidak diijinkan untuk turun ke lokasi curug bila aliran airnya deras. Semoga aja sih saat kalian kesana boleh lah ya....Rugi banget kalo sampai gak boleh..
Saat ingin pulang..jangan lupa isi tenaga dulu yaa...disana ada yg jual mkanan kok..ada gorengan, kopi, snack..karena untuk naik ke atas..parah gan....nafas pasti terengah engah...capeknya luar biasa..Tapi saat semua terbalas dg foto yg bagus dan kesejukan yg luar biasa..itu uah cukup kok.. Selamat berlibur ya...Semoga menyenangkan :) :)
Selasa, 15 Januari 2013
VITAMIN E
VITAMIN E
Vitamin E ditemukan pada tahun 1922, oleh
Evans dan Bishop, dengan istilah tokoferol (dari bahasa Yunani, tocos
berarti kelahiran anak dan phero berarti mengasuh). Vitamin E adalah
nama umum untuk semua metil-tokol, jadi
istilah tokoferol bekan sinonim dari dari vitamin E, namun pada praktek
sehari-hari, kedua istilah tersebut disinonimkan.
Terdapat
enam jenis tokoferol, α (alfa), ß (beta), γ (gama), δ (delta), ρ (eta), λ
(zeta), yang memiliki aktivitas bervariasi, sehingga nilai vitamin E dari suatu
bahan pangan didasarkan pada jumlah dari aktivitas-aktivitas tersebut.
Tokoferol yang terbesar aktivitasnya adalah tokoferol alfa.
Sifat-sifat vitamin E
Stabilitas kimia vitamin E mudah
berubah akibat pengaruh berbagai zat alami. Minyak tak jenuh, seperti minyak
hati ikan cod, minyak jagung, minyak kacang kedele, minyak biji bunga matahari,
semuanya mempertinggi kebutuhan vitamin E. Hal ini terjadi jika minyak-minyak
tersebut mengalami ketengikan oksidatif dalam makanan. Bila minyak-minyak
tersebut tengik sebelum makanan dimakan, maka berarti telah terjadi kerusakan
vitamin E dalam minyak dan dalam makanan yang mengandung minyak tersebut. Garam-garam besi, seperti
feriklorida, kalium ferrisianida bersifat mengoksidasi tokoferol. Nitrogen
klorida dan klor dioksida pada konsentrasi yang biasa digunakan untuk
memutihkan tepung akan merusak sebagian besar tokoferol yang terdapat dalam
tepung. Pembuatan tepung menjadi roti akan merusak 47% tokoferol yang terdapat
dalam tepung.
Manfaat Vitamin E
Fungsi metabolik
vitamin E dalam tubuh antara lain (1) sebagai antioksidan; (2) dalam pernapasan
jaringan normal, berperan membantu fungsi sistem sitokrom oksidase atau untuk
melindungi susunan lipida di dalam mitokondria dari kerusakan oksidasi; (3)
dalam reaksi fosforilasi normal, terutama ikatan energi fosfat, seperti kreatin
fosfat dan adenosin fosfat; (4) dalam metabolisme asam nukleat; (50 dalam
sintesis vitamin C, dan (6) dalam metabolisme asam amino bersulfur.
Fungsi utama vitamin E
di dalam tubuh adalah sebagai antioksidan alami yang mambuang radikal bebas dan
molekul oksigen. Secara partikular, vitamin E juga penting dalam mencegah
peroksidasi membran asam lemak tak jenuh. Vitamin E dan C berhubungan dengan
efektifitas antioksidan masing-masing. Alfa-tokoferol yang aktif dapat
diregenerasi dengan adanya interaksi dengan vitamin C yang menghambat oksidasi
radikal bebas peroksi. Alternatif lain, alfa tokoferol dapat membuang dua
radikal bebas peroksi dan mengkonjugasinya menjadi glukuronat ketika ekskresi
di ginjal.
Vitamin E adalah
vitamin yang larut dengan baik dalam lemak dan melindungi tubuh dari radikal
bebas. Vitamin E juga berfungsi mencegah penyakit hati, mengurangi kelelahan, membantu memperlambat penuaan
karena vitamin E berperan dalam suplai
oksigen ke darah sampai dengan ke seluruh organ tubuh. Vitamin E juga
menguatkan dinding pembuluh kapiler darah dan mencegah kerusakan sel darah
merah akibat racun. Vitamin E membantu
mencegah sterilitas dan destrofi otot.
Vitamin E
banyak digunakan untuk tujuan melawan kekeringan pada kulit, sebagai produk
tabir surya. Produk –produk tabir surya yang terbaik adalah yang mengandung
sekurangnya 1% vitamin E. Riset membuktikan bahwa vitamin E memberikan
perlawanan terhadap kekeringan dengan membantu memberikan pelembab natural pada
kulit. Apabila digunakan sebelum terkena matahari, vitamin E bisa mencegah
kulit kemerahan, bengkak, dan kering. Vitamin E biasanya dipakai sebelum dan
sesudah terkena paparan sinar matahari, karena sinar matahari langsung bisa
merusak setengah dari suplai vitamin E alami kulit. Penelitian juga membuktikan bahwa vitamin E
bisa mengurangi molekul jahat yang terjadi akibat paparan asap rokok.
Sebagai
antioksidan, vitamin E berfungsi melindungi senyawa-senyawa yang mudah
teroksidasi, antara lain ikatan rangkap dua pada UFA (Unsaturated Fatty Acid),
DNA dan RNA dan ikatan atau gugus – SH (sulfhidril) pada protein. Apabila
senyawa-senyawa tersebut teroksidasi, maka akan terbentuk ”radikal bebas”, yang
merupakan hasil proses peroksidasi. Radikal bebas yang terjadi akan
mengoksidasi senyawa-senyawa protein, DNA, RNA dan UFA. Vitamin E akan
bertindak sebagai reduktor dan menangkap radikal bebas tersebut. Vitamin E
dalam hal ini berperan sebagai scavenger. Scavenger yang lain selain vitamin E
adalah vitamin C, enzim glutation reduktase, desmutase dan perosidase, yang
bersifat larut dalam air. Scavenger yang larut dalam lemak adalah vitamin E dan
ß-karoten.
Sumber Vitamin E
Sumber-sumber yang kaya akan
vitamin E antara lain minyak tumbuh-tumbuhan, biji-bijian dan telur. Kolustrum
manusia dan sapi mengandung vitamin E sepuluh kali lebih tinggi daripada
susunya. Minyak kapas, minyak jagung, dan minyak lembaga gandum mengandung
vitamin E sekitar 0,01 – 0,05 persen. Vitamin E dapat pula dibuat secara
sintetis.
Metabolisme Vitamin E
Vitamin E lebih mudah
diserap usus, apabila terdapat lemak dan dalam kondisi tubuh yang mempermudah
penyerapan lemak. Tokoferol dari makanan diserap oleh usus digabungkan dengan
kilomikron dan ditransportasikan ke hati melalui sistim limfatik dan saluran
darah. Di hati, tokoferol disebarkan ke sel-sel jaringan tubuh melalui saluran
darah. Di dalam plasma darah, tokoferol bergabung dengan lipoprotein, terutama
VLDL ( Very Low Density Lipoprotein).
Kira-kira 40 – 60% tokoferol dari
makanan yang dikonsumsi dapat diserap oleh usus. Peningkatan jumlah yang
dikonsumsi akan menurunkan persentase yang diserap. Vitamin E disimpan terutama
dalam jaringan adiposa, otot dan hati. Pada orang yang sehat, jumlah vitamin C cadangan cukup digunakan dalam
beberapa bulan. Secara normal, kadar vitamin E dalam plasma darah adalah antara
0,5 – 1,2 mg/ml.
Asam
lemak tidak jenuh ganda (PUFA/ Poly Unsaturated Fatty Acid), dapat
menurunkan penyerapan dan penggunaan vitamin E. Hal ini berkaitan kemungkinan
dengan kecenderungan vitamin E bersifat mudah teroksidasi. Oleh karena itu
kebutuhan vitamin E akan bertambah seiring dengan semakin bertambahnya konsumsi
PUFA. Dengan demikian, peningkatan konsumsi PUFA yang tidak diikuti dengan
prningkatan asupan vitamin E akan menimbulkan penurunan secara gradual
α-tokoferol dalam plasma.
Di
dalam hati, α-tokoferol diikat oleh α-TPP (α-tokoferol transfer protein).
Setelah menjalankan fungsinya sebagai antioksidan, tokoferol dapat teroksidasi
menjadi tokoferil (tokoferol bentuk radikal) bentuk radikal ini dapat direduksi
kembali menjadi tokoferol oleh kerja sinergi dari antioksidan yang lain,
misalnya vitamin C dan glutation.
Kelebihan
vitamin E dalam tubuh akan disimpan dalam beberapa organ, antara lain hati,
jaringan adiposa, otak dan lipoprotein. Vitamin E diekskresikan dari tubuh
bersama dengan empedu melalui feses, sebagian lagi melalui urin setelah diubah
lebih dahulu menjadi asam tokoferonat dan tokoferonalakton yang dapat
berkonjugasi dengan glukoronat.
Defisiensi Vitamin E
Kekurangan vitamin ini dapat
menyebabkan tubuh tidak bertenaga, aktifitas seksual menurun, deposit lemak
yang tidak normal di otot, perubahan degenerasi di hati dan otot, kulit kering,
dan peningkatan resiko kanker.
Defisiensi vitamin A juga
menyebabkan sterilitas pada tikus dan kerusakan otot pada anjing, marmut dan
kelinci. Suatu tanda awal kekurangan vitamin E adalah hilangnya pergerakan
spermatozoa. Kebuntingan bisa terjadi pada tikus betina penderita, tetapi
pertumbuhan embrio terganggu dan sering mengakibatkan penyerapan fetus.
Gejala lain dari defisiensi
vitamin E adalah (1) hilangnya fertilitas pada marmut, tikus, dan mungkin pada
babi; (2) warna kecoklatan dari uterus tikus dan jaringan lemak; (3) kerusakan
otot lurik marmut, domba, kelinci dan tikus; (4) kelainan otot jantung pada
sapi, domba, monyet, unggas, kelinci dan tikus; (5) nutritional
encephalomalacia pada unggas, disebut pula gila ayam, gejalanya terdiri
dari hilangnya koordinasi, kepala ditarik ke belakang, anggota badan menjadi
kaku; (6) nekrosis hati pada tikus dan degenerasi hati dan otot pada babi.
Metode Difusi Cakram dan Metode Sumuran
a.
Metode
Difusi Cakram
Cara
yang mudah untuk menetapkan kerentanan organisme terhadap antibiotik adalah
dengan menginokulasi pelat agar dengan biakan dan membiarkan antibiotik
terdifusi ke media agar. Cakram yang telah mengandung antibiotik diletakkan di
permukaan pelat agar yang mengandung organisme yang diuji. Pada jarak tertentu
pada masing-masing cakram,antibiotik terdifusi sampai titik antibiotik tersebut
tidak lagi menghambat pertumbuhan mikroba.Efektivitas antibiotik ditunjukkan
oleh zona hambatan. Zona hambatan terlihat sebagai area jernih atau bersih
mengelilingi cakram tempat zat dengan aktivitas antimikroba terdifusi. Diameter
zona dapat diukur dengan penggaris dan hasil dari eksperimen ini merupakan satu
antibiogram. Ukuran zona hambatan dapat dipengaruhi oleh kepadatan media
biakan, kecepatan difusi antibiotik,konsentrasi antibiotik pada cakram
filter,sensitivitas organisme terhadap antibiotik, dan interaksi antibiotik
terhadap media.suatu zat yang mempunyai efek samping signifikan tidak boleh
digunakan (Harmita dkk, 2008). Pada praktikum ini cakram antibiotik yang
dipakai yaitu cakram chloramphenicol (30 µg), cakram ciprofloxacine (5 µg) dan
cakram tetrasiklin (30 µg).
-
Cakram Chloramphenicol (30 µg)
Kelarutan
chloramphenicol yaitu larut dalam lebih kurang 400 bagian air. Tingkat
sensitivitas chloramphenicol adalah
Pada praktikum,
diameter zona hambat yang dihasilkan cakram ini adalah 28 mm. ini berarti
tingkat sensitivitasnya
-
Cakram Ciprofloxacine (5 µg)
Pada praktikum, diameter zona hambat
yang dihasilkan cakram ini adalah 33 mm. ini berarti tingkat sensitivitasnya
-
Cakram Tetrasiklin (30 µg)
Pada
suhu 28°C kelarutan tetrasiklin dalam air sebesar 1,7 mg/ml (Schunack et
al., dalam Suryani, 2009).
Tingkat sensitivitas tetrasiklin yaitu
Pada praktikum,
diameter zona hambat yang dihasilkan oleh cakram ini adalah 31 mm. ini berarti
tingkat sensitivitasnya
Selain
dengan cakram antibiotik, pada praktikum juga dpakai cakram kosong yang
kemudian ditetesi dengan minyak sebanyak 2 µL untuk menguji sensitivitasnya.
Minyak yang digunakan tidak diencerkan sehingga kadarnya 100 %. Minyak tersebut
yaitu :
-
Minyak Cengkeh
Daun
cengkeh mengandung minyak atsiri yang komponen utamanya yaitu eugenol. Selain
eugenol, juga mengandung berbagai bahan lainnya yang jumlahnya relatif sedikit,
misalnya eugenol asetat, methil amil keton, kariofilen, furfurol, dan vanillin.
Bahan-bahan tersebut hampir semuanya tergolong dalam golongan fenol yang pada
dasarnya mempunyai sifat antibakteri (Kumala dan Indriani, 2008). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa minyak cengkeh dengan konsentrasi 1:1, 1:2 dan 1:3
mampu menghambat bakteri Gram Positif (B.cereus dan S.aureus) dan
Gram Negatif (E.coli dan Shigella sp), daya hambat minyak cengkeh
terhadap bakteri semakin besar dengan semakin tingginya konsentrasi (Taufik et al., tanpa tahun).
Pada
praktikum, zona hambat yang dihasilkan oleh minyak ini adalah 15 mm.
-
Minyak Sereh
Komponen
kimia dalam minyak sereh wangi cukup kompleks, namun komponen yang terpenting
adalah sitronellal dan geraniol. Senyawa-senyawa tersebut memiliki aktivitas antibakteri,
ditulis Suprianto (2008). Pada praktikum, zona hambat yang dihasilkan oleh
minyak ini adalah 10 mm.
-
Minyak Mentha piperita
Dari
penelitian yang dilakukan dengan berbagai bentuk dari peppermint (lautan,
infuse, rebusan, jus dan minyak atsiri peppermint) dengan metode Standard Disk Diffusion didapatkan bahwa
minyak atsiri dari peppermint memiliki aktivitas antibakteri yang tinggi
terhadap 11 spesies bakteri gram negatif yang digunakan termasuk E. coli. Kandungan minyak ini didominasi
oleh monoterpen terutama mentol, menton dan turunannya (misalnya isomenthone,
neomenthol,acetylmenthol,pulegone). Minyak ini berfungsi sebagai
antibakteri terutama mentol, ditulis : Saeed (2006). Zona hambat yang
dihasilkan oleh minyak ini adalah 14 mm.
Pengujian sensitivitas bahan alam seperti
minyak dari tumbuhan ini digunakan hanya untuk menguji potensinya saja. Indu et al. (2006) menyatakan bahwa pada filter paper method, jika diameter zona
hambat kurang dari 12 mm maka senyawa tersebut tidak memiliki aktivitas
antibakteri (resisten) ; jika diameternya 12-16 mm, maka termasuk intermediet
dan jika diameter zona hambatnya lebih dari 16 mm, maka senyawa tersebut
termasuk sensitive. Dari hasil praktikum, minyak cengkeh dan Mentha piperita memiliki aktivitas
antibakteri yang bersifat intermediet sedangkan minyak sereh dengan diameter
zona hambat sebesar 10 mm digolongkan resisten. Namun berdasarkan sumber,
minyak sereh mempunyai aktivitas antibakteri. Adanya ketidaksesuaian
kemungkinan karena kurangnya jumlah minyak yang diteteskan pada cakram (pada
percobaan yang dilakukan selain oleh kelompok kami, didapatkan diameter zona
hambat sebesar 14 mm / intermediet).
- Metode Sumuran
Pada
metode ini, sumuran dibuat pada agar dengan garis tengah sesuai dengan
kebutuhan. Kemudian antibiotik atau zat yang diuji dimasukkan ke dalamnya. Pada
praktikum, ke dalam sumuran dimasukkan ketiga minyak yang telah disebutkan di
atas dan ekstrak jambu biji.
Zona
hambat yang dihasilkan pada metode sumuran
-
Sumuran Minyak
Pada
sumuran minyak, dimasukkan minyak cengkeh, sereh dan Mentha piperita sebanyak 50 µL untuk setiap sumuran dan kadar
minyak adalah 100 % (tanpa pengenceran). Hasil yang didapatkan yaitu zona
hambat yang dihasilkan ketiga minyak tidak bisa dihitung diameternya karena
zona hambat minyak yang satu dengan lainnya saling begabung (lihat lampiran
gambar 1.8). Ini dikarenakan kadar minyak yang tinggi sehingga daya hambatnya
juga besar.
-
Sumuran Ekstrak Jambu Biji
Pada
praktikum, ekstrak jambu yang digunakan adalah ekstrak jambu dengan kadar
0,025%, 0,05% dan 0,075%. Hasil yang didapatkan yaitu tidak ditemukannya zona
hambatan pada medium (lihat lampiran gambar 1.7). Namun seharusnya, ekstrak
jambu ini memiliki aktivitas antibakteri terhadap E. coli (Adnyana et al.,
2004). Berdasarkan penelitian, ditemukan
bahwa, suatu ekstrak tidak akan menimbulkan aktivitas antibakteri jika
konsentrasinya 10% ke bawah (Indu et al.,2006).
Oleh karena itu, karena ekstrak yang dipakai pada waktu praktikum adalah di
bawah 10%, jadi tidak memberikan efek.
Langganan:
Postingan (Atom)








