Selasa, 15 Januari 2013

VIROLOGI

VIROLOGI
          Virologi adalah ilmu yang mempelajari tentang virus, mikroorganisme yang dapat membahayakan sebagai agen penyebab penyakit seperti influenza dan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Namun di sisi lain virus juga memiliki kegunaan positif dalam kedokteran, yang digunakan dalam imunisasi dan juga dalam memberikan gen baru ke dalam genom suatu organisme untuk efek yang berguna.
Virus adalah organisme subselular yang karena ukurannya sangat kecil, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron.Ukurannya lebih kecil daripada bakteri sehingga virus tidak dapat disaring dengan penyaring bakteri.Berdiameter 20-30 nm.Genom hanya terdiri dari satu jenis asam nukleat (RNA atau DNA).Unit infektif di sebut virion.Virus hanya aktif di dalam sel sedangkan di luar sel virus tidak aktif.Virologi dapat dianggap sebagai wilayah mikrobiologi, mencakup semua aspek virus, dari evolusi, struktur, siklus hidup, dan fungsi terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus dan pertahanan inang terhadapnya.
Susunan virus
Virus terdiri dari :
Ø  Kepala, bentuk persegi delapan yang di dalamnya mengandung materi genetik (asam nukleat) virus (DNA/RNA)
Ø  Ekor, merupakan selubung memanjang (tubus), berfungsi sebagai alat penginfeksi
Ø  Serabut ekor, merupakan serabut yang tumbuh dibagian ujung ekor. Berfungsi sebagai penerima rangsang (reseptor).

                       


Bagian kepala dan ekor virus diselubungi oleh kapsid.Kapsid tersusun atas unit-unit kecil yang disebut kapsomer.Kapsomer ini terdiri atas sejumlah protein ukuran kecil yang dinamakan protomer.Nukleokapsid (asam nukleat dan kapsid) beberapa virus ada yang dilapisi pembungkus yang disebut selubung/kulit (envelope) yang dapat terdiri atas lipoprotein atau glikoprotein.Pada beberapa virus selubung/kulit ini mempunyai bentukan seperti duri yang disebut spike. Duri ini dapat digunakan sebagai ciri untuk keperluan identifikasi .
Dasar Klasifikasi Virus
Sifat dasar yang digunakan dalam klasifikasi virus adalah :
1. Jenis asam nukleat, DNA atau RNA; beruntai tunggal atau ganda
2. Ukuran dan morfologi, termasuk tipe simetris, jumlah kapsomer dan dan adanya
selaput (envelope)
3. Adanya enzim-enzim spesifik terutama polimerase RNA dan DNA yang penting dalam
proses replikasi gen, dan neurominidase yang penting untuk pelepasan partikel virus
tertentu (misal influenza) dari sel-sel yang membentuknya
4 .Kepekaan terhadap zat kimia dan keadaan fisik, terutama eter
5. Sifat-sifat imunologik
6. Cara-cara penyebaran alamiah
7. Patologi
8.Gejala-gejala yang ditimbulkannya
9. Inang, jaringan dan tropisme sel
10.simptomatologi
11.Antropoda (Penularan virus melalui serangga)

Klasifikasi Virus
Klasifikasi virus dapat dibedakan berdasarkan asam nukleatnya yaitu :
1.      Virus DNA
Sebuah virus DNA adalah virus yang memiliki DNA sebagai materi genetik dan bergantung pada DNA untuk mereplika diri, menggunakan DNA polimerase sebagai DNA-dependent.Asam nukleat yang dimiliki biasanya DNA beruntai ganda (dsDNA / double stranted-DNA) tetapi bisa juga DNA beruntai tunggal (ssDNA / single stranted-DNA).
Klasifikasi virus DNA terdiri dari :
·         Bentuk kapsid
·         Ada tidaknya selubung (envelop) dari virion
·         Tahan tidaknya terhadap eter
·         Tempat berlangsungnya replikasi virus di dlam sel yang terinfeksi virus
·         Diameter virus
Contoh virus DNA adalah Parvoviridae,  Papovaviridae (plyoma, pappiloma, simian vacuolating virus), Adenoviridae, Iridoviridae, Herpetoviridae (herpes simpleks, varicella, ebsteinbarr, CMV), Poxivirus (variola), Hepadnavirus.
2.      Virus RNA
Virus RNA adalah virus yang memiliki RNA (asam ribonukleat) sebagai materi genetik.Asam nukleat yang dimiliki biasanya RNA beruntai tunggal (single stranted RNA / ssRNA) tetapi mungkin RNA beruntai ganda (double stranded RNA / dsRNA).
Contoh virus RNA adalah Pikomavirus (poliovirus, echovirus, coxsaki virus, rhinovirus, Kalisivirus, Reovirirdae, Retrovirus, Togavirus, Falvivirus, Arenavirus, Koronavirus, Rabdoviridae (rabies), Retrovirus, Bunyavirus,  Ortomiksovirus (influenza), Paramiksovirus, Rabdovirus.
Replikasi Virus
Virus memperbanyak dirinya dengan cara replikasi. Replikasi virus secara umum dilakukan melalui beberapa tahap yaitu pelekatan pada sel inang; masuknya asam nukleat virus ke inang kemudian mengambil alih metabolisme sel inang terutama segi sintesis protein. Di dalam sel inang akan dibentuk kapsid-kapsid baru kemudian keluar dari sel inang dengan enzim khusus. Jenis replikasi virus beragam, ada jenis replikasi yang menyerang bakteri (bakteriofage), jenis replikasi yang menyerang hewan, dan jenis replikasi yang menyerang tumbuhan.Pada bakteriofage tipe replikasinya terdiri dari daur litik dan daur lisogenik.Pada daur litik, replikasi virus diakhiri dengan lisisnya (pecahnya) membran sel bakteri; sedangkan pada daur lisogenik, lisis membran tidak terjadi.
a.      Daur Litik
1)      Fase Adsorbsi (penempelan)
Pada fase ini ditandai dengan melekatnya ekor virus pada sel bakteri.Setelah menempel virus mengeluarkan enzim lisoenzim (enzim penghancur) sehingga terbentuk lubang pada dinding bakteri untuk memasukkan asam inti virus.
2)      Fase Injeksi (pemasukkan inti virus)
Setelah terbentuk lubang pada sel bakteri maka virus akan memasukkan asam inti (DNA) ke dalam tubuh sel bakteri. Jadi kapsid virus tetap berada di luar sel bakteri dan berfungsi lagi.
3)      Fase Sintesis (pembentukan)
Pada fase ini DNA virus akan mempengaruhi DNA bakteri untuk mereplikasi bagian-bagian virus, sehingga terbentuklah bagian-bagian virus. Di dalam sel bakteri yang tidak berdaya itu disintesis virus dan protein yang dijadikan sebagai kapsid virus, dalam kendali DNA virus.
4)      Fase Asembelin (perakitan )
Pada bagian ini Bagian-bagian virus yang telah terbentuk, oleh bakteri akan dirakit menjadi virus sempurna. Jumlah virus yang terbentuk sekitar 100-200 buah dalam satu daur litik.
5)      Fase Litik (pemecahan sel inang )
Setelah perakitan selesai, maka virus akan menghancurkan dinding sel bakteri dengan enzim lisoenzim, akhirnya virus akan mencari inang baru.

b.      Daur Lisogenik
Pada daur ini membran plasma tidak mengalami lisis,tetapi setelah daur ini selesai dilanjutkan lagi ke daur litik.Daur ini terdapat beberapa fase yakni ;
1.      Fase penggabungan : Pada fase ini DNA Virus menysusp ke DNA bakteri dan memutus DNA bakteri, kemudian DNA virus menyisip di antara benang DNA bakteri yang terputus tersebut. Dengan kata lain, di dalam DNA bakteri terkandung materi genetik virus.
2.      Fase Pembelahan : Setelah menyisip DNA virus tidak aktif disebut profag. Kemudian DNA bakteri mereplikasi untuk melakukan pembelahan.
Fase Sintesis : yaitu fase DNA virus melakukan sintesis untuk membentuk bagian-bagian virus.
3.      Fase Perakitan : Setelah virus membentuk bagian-bagian virus, dan kemudian DNA masuk ke dalam akan membentuk virus baru.
4.      Fase Litik : Setelah perakitan selesai terjadilah lisis sel bakteri. Virus yang terlepas dari inang akan mencari inang baru.

Penyebaran virus dan Tropisme
Setelah replikasi, virus menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah atau getah bening dan sel saraf.Beradanya virus dalam aliran darah disebut viremia.

Cedera Sel
Cedera sel terjadi apabila suatu sel tidak lagi dapat beradaptasi terhadap rangsangan.Hal ini dapat terjadi bila rangsangan tersebut terlalu lama atau terlalu berat.Sel dapat pulih dari cedera atau mati bergantung pada sel tersebut dan besar serta jenis cedera.
Hipoksia (kekurangan oksigen), infeksi mikroorganisme, suhu yang berlebihan, trauma fisik, radiasi, dan terpajan oleh radikal bebas semuanya menyebabkan cedera sel. Apabila suatu sel mengalami cedera, maka sel tersebut dapat mengalami perubahan dalam ukuran, bentuk, sintesis protein, susunan genetik, dan sifat transportasinya.
Penyebab penyakit karena kerusakan jaringan atau perubahan fisiologis.Kerusakan sel epitel usus lebih cepat membaik daripada sel otak.Efek fisiologik karena kerusakan non letal fungsi khusus sehingga hilangnya produksi hormone.Penyakit klinik akibat dari rangkaian yang kompleks dan banyak faktor yang terlibat.

Perubahan-perubahan sel
1.      Cytopathic effect (CPE) : gangguan sintesis RNA dan protein inang.
2.      Cell fusion                   : fusi dari sel-sel akibat hilangnya batas-batas sel-sel raksasa
dengan banyak inti.
3.      Inclusion body            : kumpulan virion atau bagian virus yang ada dalam inti.
4.      Transformasi               :virus onkogenik dapat merangsang sel-sel maligana 
                                     (transformercell yaitu penyimpangan kromoson dan
perubahan membrane permukaan sel).

Mutasi virus
1.      Mutasi spontan : perubahan replikasi dari viral genome
2.      Mutasi balik : sifat mutan berbalik ke sifat asli strain liar virus (wild strain)
3.      Mutasi virulensi : dipengaruhi kultivasi virus
4.      Adaptasi : pengaruh dari kultur pada jaringan

Pengobatan dan pencegahan
1.      Kemoterapi : penggunaan obat-obaant zat kimia yang digunakan untuk memperlambat penyebaran atau bahkan membunuh sel kanker.
2.      Thiosemicarbonbazone : per oral, cacar, menghanbat translasi virus.
3.      Amantadine (symmetrel) : dengan cara menghambat penembusan virus untuk beberapa strain influenza.
4.      Iododeoksiuridin (stoxil, IUdR, idoxuridine) : menghanbat sintesis asam nukleat virus untuk infeksi korne oleh virus herpes simpleks tipe 1.
5.      Arabinosil : menghambat sintesis asam nukleat, untuk herpes dan vaccinia
6.      Asikloguaosin (acyclovir, zovirax) : anti herpes manghambat kegiatan DNA polymerase virus.

Imunisasi / Vaksinasi
Imunisasi adalah pemberian vaksin kepada seseorang untuk melindunginya dari beberapa penyakit tertentu.Imunisasi merupakan upaya untuk mencegah penyakit lewat peningkatan kekebalan tubuh seseorang.imunisasi ada tiga macam yaitu imunisasi aktif, imunisasi pasif, dan netralisasi.
1. Imunisasi Aktif
Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi.Antibodi adalah zat anti yang terbentuk ketika antigen (kuman) masuk ke dalam tubuh. Pertama kali antigen masuk ke dalam tubuh, maka sebagai reaksinya tubuh akan membuat antibodi. Pada umumnya, reaksi pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat karena tubuh belum mempunyai pengalaman.Tetapi pada reaksi kedua, ketiga dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai memori untuk mengenali antigen sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak.Contoh imunisasi aktif adalah imunisasi polio atau campak.

2.      Imunisasi Pasif
Imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir di mana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah plasenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap campak.

3.      Netralisasi
Virus dikerjakan dengan imunoglobin spesifik, tanpa perlu memberikan antibody yang berlebihan terhadap virion.Satu antibody dapat menetralisir satu satu partikel virus. Virion yang sudah dinetralkan tidak dapat menembus sel tuan rumah, sehingga tidak akn terjadi infeksi.
Vaksinasi adalah imunisasi aktif secara buatan, yaitu sengaja memberikan
antigen yang diperoleh dari agen menular pada ternak sehingga tanggap kebal dapat
ditingkatkan dan tercapai resistensi terhadap agen menular tersebut.

Interferon
Interferon dalam tubuh manusia terjadi berdasarkan jenis sel terinfeksi bukan berdasarkan virus penginfeksi.Tahan asam.Dihasilkan oleh sel hidup bila terjadi infeksi virus atau rangsangan (fungi mikrofaga RNA helein dan statalon), hemaphylus, endotoksin, riketsia, asam poliriboinosinat-asam opliribositidlat.
Klasifikasi interferon dibagi menjadi 3 berdasarkan sifat antigenik yaitu :

1.      Interferon-
Merupakan suatu produk leukosit (nama klasik :luecocyte interferon). Interferon-  manusia paling sedikit mempunyai lima perbedaan meskipun homolog dan strukturnya sama. Sedikitnya ada 13 gen bebas pada interferon- . Bertempat di kromoson 9 sel manusia.Gen-gen tidak mempunyai intron.Selain itu diketahui adanya 6 pseugenes.

2.      Interferon-β
Pada mulanya penemuannya merupakan produk fibroblastyang terinferksi virus sehingga dinamakan fibroblast interferon. Strukturnya mirip dengan interferon-  dan memiliki reseptor yang sama. Perbedaan yang nyata dengan interferon-  adalah gen-gen, host cell range, kurva dosis respond dan aksi sistolik terhadap sel. Sama seperti interferon- , gen interferon-β tidak mempunyai intron dan posisinya terletak pada kromoson 2,5, dan 9.

3.      Interferon-
Disebut juga immune interferon.Berbeda dengan interferon-  dan β, interferon-  labil pada pH 2 dan sifatnya menunjukkan bukan saja sebagai aniviral tetapi juga sebagai antiselular (antitumor).Kedua sifat ini berhubungan erat dengan respon imun. Gen interferon-  hanya sedikit homolog dengan interferon-  dan β. Mempunyai 3 intron, dan posisisnya pada kromoson 12.
Daya kerja dipengaruhi oleh :
1.      Protein reseptor untuk molekul yang terangsang interferon.
2.      Interferon sendiri
3.      Protein penghambat sintesis interferon
4.      Endonukluease
5.      Proteinkinase




















Daftar Pustaka


“EKSTRAKSI KOMPONEN BIOAKTIF DARI LIMBAH KULIT BUAH KAKAO DAN PENGARUHNYA TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIMIKROBA ”



RESUME JURNAL
“EKSTRAKSI KOMPONEN BIOAKTIF DARI LIMBAH KULIT BUAH  KAKAO  DAN PENGARUHNYA TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIMIKROBA ”

 

Sartini , M. Natsir Djide, Gemini Alam
Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Makassar

Oleh:
NAMA            : YENI NUR CAHYANI
NIM                : 112210101033



FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2011


RESUME JURNAL
Judul     :  EKSTRAKSI KOMPONEN BIOAKTIF DARI LIMBAH KULIT BUAH  KAKAO  DAN PENGARUHNYA TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIMIKROBA
Penulis :   SARTINI , M. NATSIR DJIDE, GEMINI ALAM

Beberapa tanaman pangan  diketahui kaya akan senyawa-senyawa bioaktif, terutama polifenol, yang mempunyai khasiat sebagai antioksidan dan antimikroba. Senyawa-senyawa antioksidan alami sangat dibutuhkan untuk mencegah penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, kanker, dan beberapa penyakit yang lainnya. Senyawa-senyawa antimikroba demikian ada akibat makin banyaknya mikroba patogen yang telah resisten dengan antibiotika yang ada. Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupaka salah satu tanaman di Indonesia yang berpotensi sebagai antioksidan dan antimikroba alami. Biji kakao kaya akan komponen-komponen senyawa fenolik, antara lain : katekin, epikatekin , proantosianidin, asam fenolat, tannin dan flavonoid lainnya. Biji kakao mempunyai potensi sebagai bahan antioksidan alami, antara lain: mempunyai kemampuan untuk memodulasi system immun, efek kemopreventif untuk pencegahan penyakit jantung koroner dan kanker (Othman et al,  2007; Weisburger, 2001; Keen, 2005), selain itu polifenol kakao bersifat antimikroba terhadap beberapa bakteri patogen dan bakteri kariogenik ( Osawa  et al, 2000; Bouchers, 2002; Lamuela-Raventos, 2005). Kakao juga mempunyai kapasitas antioksidan lebih tinggi dibanding  teh dan anggur merah (Lee  et  al, 2003)  Disamping menghasilkan biji, dalam proses penanganannya juga menghasilkan produk ikutan (limbah) berupa kulit buah kakao  sebesar kurang lebih 73,77% dari berat buah secara keseluruhan. Adanya komponen-komponen polifenol dalam biji kakao, tidak menutup kemungkinan juga terdapat dalam kulit buah kakao dengan khasiat yang sama.  Menurut  Figuera  et al   (1993), kulit buah kakao mengandung campuran flavonoid atau tannin terkondensasi atau terpolimerisasi, seperti antosianidin, katekin, leukoantosianidin yang kadang-kadang terikat dengan glukosa. Tannin yang terikat dengan gula umumnya mudah larut dalam pelarut hidroalkohol, sedangkan tannin terkondensasi atau tannin lebih mudah terekstraksi dengan pelarut aseton 70 % (anonim, 2007). Permasalahannya adalah  bagaimana kondisi ekstraksi yang paling optimal untuk mengekstraksi komponen antioksidan dan antibakteri dari limbah kulit buah kakao ?  Untuk itu dalam penelitian ini dilakukan ekstraksi menggunakan 2 macam kulit buah kakao (segar dan kering ) dan 2 macam pelarut (etanol 70 % dan campuran aseton–air (7:3). Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH dan uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar.
Kulit buah kakao jenis lindak (Forastero) asal kabupaten Soppeng, 2,2-diphenyl-2-picrylhydrazyl / DPPH (Sigma), , aseton (teknis), etanol (teknis), etanol absolute (e-Merck),  aquadest, Nutrien agar , Muller Hilton Agar,   paper disc  (Oxoid),  Dimetil sulfoksida (e-Merck), mikroba uji Staphylococcus aureus, Streptococcus mutan, Escherichia coli, Salmonella thyposa  (koleksi laboratorium Mikrobiologi Farmasi UNHAS).
Pada penelitian ini, metode kerja yang digunakan ada 4, yang pertama adalah pengolahan sampel. Buah kakao yang diambil  yang sudah masak, ditandai dengan mulai menguningnya buah pada saat dipetik. Sebelum dilakukan pengolahan, buah yang sudah dipetik  dibiarkan dahulu selama kurang lebih 5 hari untuk memudahkan lepasnya biji dari kulit buahnya. Sebagian kulit buah kakao dalam bentuk segar ditumbuk  kasar  menggunakan lumpang batu. Sebagian dikeringkan di bawah  sinar matahari dan setelah kering ditumbuk kasar.
            Selanjutnya metode kedua yaitu Ekstraksi Kulit buah Kakao  secara maserasi. Masing-masing sampel kulit buah kakao 1 kg diremaserasi sebanyak 3 kali  menggunakan Aseton : air (7:3) dan etanol  70 %   dengan perbandingan sampel- pelarut  (1 : 2)  untuk  sampel basah, dan  (1 : 3) untuk sampel kering. Setelah ekstraksi kulit buah kakao secara meresai selesai, dilanjutkan tahap yang ketiga yaitu uji aktivitas antioksidan. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DDPH seperti yang dilakukan oleh Othman  et al.,  (2007) yang dimodifikasi, yaitu dibuat larutan uji dengan konsentrasi5 mg/ml; 1,25 mg/l; 0,5 mg/l; 0,1 mg/l; dan  0,01 mg/l dalam etanol absolut. Sebanyak 100 ­l larutan uji ditambahkan 1,0ml larutan DPPH 0,4 mM dan etanol hingga 5ml. Campuran selanjutnya divortex dan dibiarkan selama 30 menit . Larutan ini selanjutnya diukur absorbansinya pada panjang gelombang 517  nm. Dilakukan juga pengukuran absorbansi blanko. Hasil penetapan antioksidan dibandingkan dengan vitamin C. Besarnya daya antioksidan dihitung dengan umus :
% penghambatan = (Absorbance blanko – Absorbance sampel) x 100 %
                                                 Absorbance blanko 
IC50 dihitung dengan dengan memplot grafik aktivitas  scavenging dengan konsentrasi ekstrak, yang didefinisikan sebagai total antioksidan yang dibutuhkan untuk menurunkan konsentrasi DPPH sampai 50 %.
            Tahap yang terakhir yaitu uji aktivitas Antibakteri. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar , seperti yang dilakukan oleh Nostro  et al (2000) yang dimodifikasi, yaitu : Masing-masing ekstrak  yang diperoleh sebanyak 2 g dilarutkan dalam dimetilsulfooksida (DMSO) hingga 10 ml. Dari larutan stok  dibuat pengenceran bertingkat dengan konsentrasi 20% ,10%, 5%, 2,5%, 1,25%.  Masing-masing larutan uji dipipet 5 ­l  diteteskan ke paper disc, kemudian diletakkan di atas media Muller Hilton Agar yang telah mengandung mikroba uji  0,1 ml transmitan 25 % atau setara dengan 108 koloni/ml. Setelah itu diinkubasi selama 24 jam suhu 37OC. 
            Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit buah kakao segar dan kulit buah kakao yang telah dikeringkan, dengan asumsi proses pengeringan dapat mengubah komposisi polifenolnya sehingga diharapkan dapat mempengaruhi aktivitas antimikroba dan antioksidannya. Cairan pengekstraksi yang digunakan yaitu etanol 70% yang diasumsikan dapat mengekstraksi senyawa-senyawa flavonoid atau tannin yang teikat sebagai glikosida.. Sedangkan pelarut aseton-air (7:3) sangat baik untuk mengekstraksi tannin terkondensasi(anonim, 2007).    
           Pada pengujian aktivitas antioksidannya digunakan DPPH sebagai radikal bebas yang memiliki panjang gelombang maksimum 517 nm.. Aktivitas penangkap radikal bebas (proton) diketahui  salah satu mekanisme untuk mengukur aktivitas antioksidan (Othman et al, 2007). Pada ekstrak dari kulit buah kakao kering, baik ekstrak etanol maupun ekstrak aseton tidak memperlihatkan adanya aktivitas antioksidan  Sedangkan pada ekstrak dari kulit buah kakao segar, baik ekstrak etanol maupun asetonnya memperlihatkan aktivitas antioksidan. Tidak adanya aktivitas antioksidan dari kulit buah kakao yang dikeringkan, hal ini disebabkan selama pengeringan komponen-komponen polifenolnya kemungkinan mengalami oksidasi oleh enzim polifenol oksidase yang juga terdapat pada buah kakao. Hasilnya seperti terlihat pada tabel 1.  Sebagai pembanding digunakan asam askorbat (vitamin C) yang diketahui mempunyai aktivitas antioksidan. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 2.
            Dari hasil penelitian, terlihat bahwa aktivitas antioksidan dari ekstrak aseton lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol.  Menurut Figuera (1993), kulit buah kakao mengandung campuran flavonoid/tannin terkondensasi atau terpolimerisasi, seperti antosianidin, katekin, leukoantosianidin yang kadang-kadang terikat dengan glukosa . Pelarut aseton-air (7:3) optimal mengekstraksi tannin terkondensasi  (Anonim, 2007). Dari hasil pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan
analisis probit,. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan dari ekstrak  aseton  (IC50  = 0,08mg/ml) lebih tinggi dari ekstrak etanol (IC50 = 0,48  mg/ ml) maupun  vitamin C (IC50 = 0,15 mg/ml).  
               Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak aseton dari kulit buah kakao kering  tidak memberikan aktivitas antibakteri.  Sedangkan pada ekstrak aseton buah kakao segar memberikan aktivitas antibakteri mulai pada konsentrasi  5 % (250µg/disc), 10% (500 µg/disc), dan 20 % (1000 µg/disc ). Sedangkan ekstrak etanol dari sampel segar  mampu menghambat pada konsentrasi 20 % (1000 µg/disc), Sedangkan ekstrak etanol sampel kering mampu menghambat dimulai pada konsentrasi 5 % (250  µg/disc). Dari penelitian juga terlihat  aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol sampel basah lebih kecil dibanding ekstrak etanol sampel kering, hal ini mungkin disebabkan oleh adanya senyawa pektin yang ikut terekstraksi menggunakan sampel kulit buah kakao segar. Senyawa pektin dapat terekstraksi pada larutan etanol di bawah 70 %, sedangkan kadar air pada sampel segar tidak diketahui. Dari empat bakteri uji yang digunakan ternyata Streptococcus mutan yang paling sensitif terhadap senyawa antibakteri dalam kulit buah kakao, hal ini sesuai penelitian Pasiga (2006) dan Matsumoto  et al., (2004) bahwa ekstrak kulit buah kakao mempunyai aktivitas antibakteri terhadap  Streptococcus mutan secara in vitro maupun in vivo. Bakteri ini merupakan penyebab terjadinya karies gigi.
Dari penelitiaan tersebut dapat diketahui bahwa kondisi optimal untuk mengekstraksi komponen antioksidan-antimikroba dari kulit buah kakao adalah menggunakan bahan segar dan dengan cairan pengekstraksi aseton-air (7:3). Ekstrak aseton kulit buah kakao segar memiliki aktivitas antioksidan dengan IC50   0,08mg/ ml dan aktivitas antibakteri terhadap  S. Mutan dengan diametr hambatan 10,2 mm pada konsentrasi 1000 µg per disc.






DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2007, Tannin: Chemical Analysis. Polyphenol flavonoid/tannin analysis. htm , diakses  14 April 2007.
Borchers, A. T., Keen, C. L., 2000, Cocoa and Chocolate: Composition, Bioavailability, and Health Implication.   Journal of Medicinal Food., 3(2): 77-105.
Figueira, A., and Janick, J., 1993, New products from Theobroma cacao: Seed pulp and pod gum. New crops., New York,  475-478.
Schmitz, H.H.,  2005, Cocoa Antioxidant and Cardio vascular Health.  Am. J. Clin. Nutrition.,  81(1): 298S-303S.
Lamuela-Raventos, R. M., Romero-Perez, A. I., Andres-Lacueva, C. and Tornero, A., 2005, Review: Health Effects of Cocoa Flavonoids .Food Science and Technology International ., 11(3): 159-176.
Lee, K.W., Kim,Y.J., Lee, H.J., Lee, C.Y., 2003, Cocoa has More Phenolic              Phytochemical and Higher Antioxidant Capacity than Teas and Red Wine. J.Agric. Food. Chem.,  51(25) : 7292- 7295
Nostro, A, Germano, M.P. , D'Angelo, V. ,Arino, A., and  Cannatelli, M.A.,2000 ,Extraction Methods And Bioautography For Evaluation Of Medicinal Plant Antimicrobial Activity. Letters in Applied Microbiology., 30, 379-384
Osawal, K.,  Miyazakil, K. ,  Shimura, I., Okuda, J., Matsumoto, M and  Ooshima, T., 2001, Identification of Cariostatic Substances in the Cacao Bean  Husk: Their Anti-glucosyltransferase and Antibacterial Activities. Dent. Res., 80(11):2000-2004
Othman, A., Ismail,  A., Ghani, N.A., Adenan, I., 2007, Antioxidant Capacity and Phenolic Content of Cocoa Bean.  Food Chemistry.,1523-1530.
Pasiga, B., 2006, Diversifikasi Manfaat Kakao sebagai Komponen Aktif Pasta gigi. Disertasi. . Program Pascasarjana UNHAS, Makassar.
Weisburger, J. H., 2001,  Chemopreventive Effects of Cocoa Polyphenols on Chronic Diseases. Experimental Biology and Medicine . , 226: 891-897.